Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Terungkap motif di balik aksi nekat Aaron James Kennedy (46), Warga Negara Asing (WNA) asal Kanada yang ditemukan tewas bersimbah darah di Villa Kunyit No. 78 Komplek El Tulip Springhill, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung.
Pihak kepolisian mengungkapkan adanya rekam medis dan kondisi psikologis kelam yang diduga kuat menjadi pemantik korban nekat mengakhiri hidupnya dengan senjata api.
Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat (Kasubbid Penmas) Polda Bali, AKBP Rina Isriana Dewi, membeberkan bahwa korban diketahui mengidap gangguan psikologis berat semasa hidupnya.
Berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi, Aaron terindikasi menderita penyakit paranoid.
Baca juga: BREAKING NEWS, WNA Kanada Ditemukan Tewas Tembak Diri di Atas Sofa di Villa di Jimbaran
"Berdasarkan keterangan saksi rekan korban, yang bersangkutan diduga memiliki riwayat penyakit paranoid," ungkap AKBP Rina Isriana Dewi saat dihubungi Tribun Bali, pada Jumat 10 Juli 2026 malam.
Penyakit gangguan kecemasan dan kecurigaan berlebih ini ternyata bukan pertama kalinya mendorong korban melakukan aksi nekat.
AKBP Rina menyebutkan, Aaron tercatat sudah berulang kali mencoba mengakhiri hidupnya saat masih tinggal di Ibu Kota sebelum akhirnya memilih pindah ke Bali.
"Korban juga disebut pernah melakukan upaya bunuh diri sebanyak tiga kali dengan menyayat urat nadi tangan hingga harus menjalani opname selama tiga bulan di rumah sakit saat berada di Jakarta," jelasnya.
Baca juga: Sebelum Tembak Diri, WNA Kanada Titip Pesan Terakhir ke Sahabat: Minta Hubungi Ibunya
Depresi dan beban psikologis yang berkepanjangan tampaknya membuat pria kelahiran Oakville, Kanada itu sudah memprediksi nasib tragisnya sendiri.
Sebelum insiden penembakan ini terjadi, korban ternyata sempat meninggalkan sebuah pesan terakhir yang sangat spesifik kepada sahabatnya, Benjamin James Agana Coomber.
Aaron berpesan secara khusus agar Benjamin segera menghubungi ibunya yang berada di Kanada apabila ada hal buruk yang menimpa dirinya.
Hal buruk itu benar terjadi setelah Benjamin mendobrak pintu villa dan mendapati sang sahabat sudah terbujur kaku tak bernyawa di atas sofa.
Baca juga: Info Lokasi Nobar di Bali, Pemkab Badung Siapkan Nobar Final Piala Dunia di Pantai Segara Kuta
Di sisi lain, misteri mengapa tidak ada suara letusan senjata api yang terdengar di kawasan padat tersebut juga masih diselidiki.
Tetangga korban, Nur Hayati Sari, mengaku sama sekali tidak mendengar tanda-tanda aneh dari dalam villa korban sebelum jasadnya ditemukan.
"Tetangga korban menegaskan tidak mendengar adanya suara keributan, teriakan, ataupun dentuman yang mencurigakan dari arah Villa 78, meskipun saksi mengaku sering terjaga hingga larut malam," beber AKBP Rina.
Mengingat kasus bunuh diri ini melibatkan penggunaan senjata api yang tergolong sensitif dan tidak biasa bagi warga sipil asing, Polda Bali tidak mau gegabah.
Langkah investigasi ilmiah berskala besar langsung digelar untuk menguak asal-usul senjata tersebut.
Tim gabungan dari Tim Identifikasi Polresta Denpasar, Identifikasi Polda Bali, serta Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Bali langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) mendalam.
Proses pembuktian ilmiah ini dipimpin langsung oleh Kalabfor Polda Bali dan dipantau ketat oleh jajaran petinggi kepolisian, termasuk Direktur Intelkam Polda Bali, Direktur Reskrimum Polda Bali, serta Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Leonardo D. Simatupang, S.I.K., M.H.
"Proses olah TKP telah dilakukan secara menyeluruh oleh Tim Labfor dan Identifikasi guna mengumpulkan bukti-bukti di lapangan," pungkas AKBP Rina.
Saat ini, jenazah korban telah dievakuasi ke rumah sakit, sementara fokus penyelidikan polisi kini mengarah pada dari mana korban berhasil mendapatkan senjata api tersebut.
Jasad korban pertama kali ditemukan oleh rekannya, Benjamin, yang terpaksa mendobrak pintu villa karena korban tidak bisa dihubungi sejak pagi hari. Saat pintu terbuka, korban ditemukan sudah meninggal dunia di atas sofa dengan luka tembak dan bersimbah darah. (*)