TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Prediksi kemarau panjang membuat petani Trenggalek harus mengantisipasi gagal panen di masa tanam kali ini. Dinas terkait sudah membuat skema mitigasi dan penanganan jika memang terjadi kekeringan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Trenggalek, Imam Nurhadi menerangkan bergerak cepat menyusun skema mitigasi guna mengantisipasi ancaman gagal panen akibat prediksi kemarau panjang.
Sejumlah strategi mulai dari optimalisasi sumber air hingga pengalihan varietas tanaman disiapkan untuk menyelamatkan sektor pertanian di Bumi Menak Sopal.
"Jadi untuk hari ini kita dihadapkan kemarau panjang. Itu diperkirakan mencapai puncaknya di Agustus September," terang Imam Nurhadi saat dikonfirmasi, Jumat (10/7/2026).
Baca juga: 2.747 Jiwa Kepesertaan PBI-JK Tercatat Direaktivasi di Kabupaten Trenggalek
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Nurhadi menjelaskan fokus melakukan penyelamatan tanaman yang saat ini sudah telanjur ditanam (standing crop) di sawah-sawah petani, terutama pada lahan yang memiliki indeks pertanaman tinggi.
Oleh karena itu, Dispertan Trenggalek melakukan langkah untuk lahan-lahan yang sudah optimal di panen tiga kali dioptimalkan.
Yaitu menurut Nurhadi melalui penyediaan air dari irigasi perpompaan, ada juga yang ngambil dari sungai.
"Kemudian irigasi perpipaan yang dari mata air itu dan juga perbaikan irigasi tersier. Jadi kita optimalisasi air supaya bisa mencapai lokasi lahan sawah yang hari ini tanam padi," jelasnya.
Memasuki semester pertama tahun 2026, beliau menyebut hasil panen di Kabupaten Trenggalek sebenarnya masih dalam kategori cukup bagus.
Kendati demikian, ada pergeseran tren produktivitas komoditas jika dibandingkan dengan tahun lalu akibat faktor cuaca yang berbanding terbalik.
"Hasil panen kita cukup bagus, hanya memang kalau dibandingkan tahun 2025 kita agak ada penurunan sedikit untuk padi. Tapi ada peningkatan di sektor yang lain seperti jagung itu hari ini produksinya jauh lebih meningkat dibanding 2025," ulasnya.
Ia menambahkan, pada tahun 2025 lalu terjadi kemarau basah atau hujan sepanjang tahun, yang membuat produksi padi melimpah tetapi merugikan petani jagung.
"Untuk hari ini padinya agak berkurang, tapi jagungnya tentu saja jauh jauh lebih melimpah dibanding tahun 2025," imbuhnya meski enggan membeberkan detail angka karena harus mencocokkan data teknis terlebih dahulu.
Sebagai langkah konkret mitigasi kekeringan jangka panjang, Dispertan Trenggalek mengimbau para petani yang wilayahnya minim pasokan air untuk tidak memaksakan diri menanam padi.
Petani disarankan beralih ke tanaman yang tidak membutuhkan banyak air.
"Untuk mitigasi kekeringan yang pertama kita penyediaan air, langkah yang pertama itu. Kemudian juga pemilihan benih. Jadi benih yang cepat panen, kemudian benih-benih yang tahan air (minim air), atau juga varietas-varietas palawija yang lain yang tahan kering," katanya.
Beberapa komoditas yang sangat disarankan antara lain ubi jalar, jagung, dan kacang tanah.
Namun, bagi wilayah yang pasokan airnya masih mencukupi, Imam menegaskan komitmen daerah untuk tetap fokus mengejar swasembada beras.
Dikatakannya, jika kondisi kekeringan nantinya kian kritis, Pemkab Trenggalek juga sudah mengantongi opsi darurat.
"Itu pernah kita lakukan 2024. Waktu kita menghadapi El Nino Gorilla waktu itu kita pernah buka Bendungan Tugu sehingga masuk ke Sungai Ngasinan," kenangnya.
Yakni memanfaatkan cadangan air dari Bendungan Tugu untuk menggelontor area persawahan warga melalui jaringan sungai.
Baca juga: SLG Masih Jadi Titik Padat Lalu Lintas, Dishub Kediri Siapkan Traffic Light di Akses Bandara Dhoho
Skema ini berkaca pada keberhasilan penanganan El Nino beberapa tahun lalu.
"Kemudian masuk ke daerah yang ke Niama itu kita tutup, kemudian kita masukkan air itu ke daerah Sumbergayam. Nanti mengairi Malasan, kemudian Karanganom, kemudian Pakis," tambahnya.
Menurut Nurhadi, jika skema pembukaan pintu air Bendungan Tugu ini kembali diterapkan, ada ratusan hektar sawah yang berpotensi terselamatkan dari ancaman kekeringan.
"Itu ada 400 atau 600-an hektar yang nanti bisa terselamatkan," pungkasnya.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)