Kylian Mbappe telah memastikan namanya tercatat di antara sosok paling berpengaruh dalam sejarah modern Piala Dunia, dan pada usia 27 tahun, ia masih berada di jalur yang tepat untuk menulis bab-bab baru dalam kisah gemilangnya. Dalam tiga turnamen yang telah diikutinya, kapten tim nasional Prancis tersebut memadukan performa kelas dunia dengan kemampuan untuk menentukan hasil di panggung terbesar, sebuah catatan yang menempatkannya di kelompok pemain langka.
Terobosan besar pertamanya datang pada tahun 2018, ketika ia tampil sebagai salah satu bintang utama turnamen di Rusia. Mbappe mencetak gol Piala Dunia pertamanya melawan Peru pada usia 19 tahun dan 183 hari, menjadikannya pencetak gol termuda dalam sejarah Prancis di ajang tersebut. Ia menutup kampanye itu dengan empat gol, termasuk satu di partai final saat Prancis menaklukkan Kroasia 4-2 untuk meraih trofi Piala Dunia kedua mereka.
Jika tahun 2018 memperkenalkan Mbappe ke panggung dunia, maka Piala Dunia 2022 memperkuat statusnya sebagai kekuatan menyerang paling dominan di generasinya. Ia mengakhiri turnamen sebagai pencetak gol terbanyak dengan delapan gol dalam tujuh pertandingan dan menampilkan salah satu performa individu terbaik yang pernah terlihat di final Piala Dunia. Hattrick-nya ke gawang Argentina menjadikannya pemain pertama sejak Geoff Hurst pada tahun 1966 yang mencetak tiga gol di final, meskipun Prancis akhirnya kalah lewat adu penalti.
Final tersebut, terlepas dari hasil akhirnya, menegaskan betapa besar pengaruh Mbappe terhadap permainan. Hanya sedikit pemain yang mampu mendominasi final Piala Dunia dengan cara seperti itu, dan lebih sedikit lagi yang melakukannya sambil memikul ekspektasi tinggi dari sebuah negara yang berusaha mempertahankan gelar juara.
Kontribusi terbarunya datang saat Prancis menang 2-0 atas Maroko di Boston, sebuah hasil yang memastikan tempat di semifinal Piala Dunia dan menjaga harapan untuk tampil di final ketiga secara beruntun. Laga tersebut tidak dimulai dengan mudah. Mbappe sempat memperoleh penalti di babak pertama, tetapi setelah penundaan panjang, tendangannya yang lemah berhasil ditepis oleh Yassine Bounou.
Namun, penyerang kelas dunia dinilai dari bagaimana mereka merespons kegagalan, dan Mbappe langsung memberikan jawaban. Ia bangkit dengan mencetak gol setelah jeda dan kemudian memberikan assist untuk gol kedua yang dicetak oleh Ousmane Dembele, memastikan Prancis melangkah tanpa kesulitan di akhir laga. Dengan delapan gol dan tiga assist sejauh turnamen ini, ia berada dalam persaingan ketat untuk meraih Sepatu Emas dan Bola Emas.
Selain karier internasionalnya, masa depan Mbappe di level klub juga selalu menarik perhatian besar. Liverpool termasuk klub yang sangat dikaitkan dengannya saat ia masih bermain untuk AS Monaco, dan beberapa kali muncul indikasi bahwa pembicaraan sempat dilakukan. Salah satu kisah yang paling dikenal dari proses itu datang dari pengakuan Jürgen Klopp kepada Magenta TV: “Kami terbang dari Blackpool ke Nice. Di Nice, seluruh keluarga Mbappe naik ke jet pribadi yang memiliki lima ruangan. Kami benar-benar melakukan segala cara. Lalu kami terbang berputar-putar, berbicara dengan keluarganya, menikmati makanan enak. Kami tidak boleh terlihat. Kami terbang dalam lingkaran. Itu luar biasa. Dan kemudian dia pergi ke Paris!”
Di tingkat klub, Mbappe menutup musim lalu sebagai pencetak gol terbanyak Real Madrid dengan torehan 42 gol dan tujuh assist dalam 44 penampilan, meskipun tim asal Spanyol itu finis di posisi kedua La Liga dan menutup musim tanpa gelar. Namun untuk tim nasional Prancis, fokusnya kini sangat jelas. Dengan Mbappe sebagai motor serangan, langkah mereka menuju babak-babak akhir Piala Dunia tampak sangat mungkin terwujud.