Ekspedisi Cicatih Rekam Penurunan Debit Sungai Akibat Musim Kemarau
Malvyandie Haryadi July 11, 2026 02:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Rangkaian perjalanan petualangan alam terbuka yang dikemas dalam ‘Ekspedisi Cicatih Elpala’ resmi memasuki etape terakhir di kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (10/7/2026).

Selain mengusung misi konservasi lingkungan dan pendidikan karakter bagi generasi muda pencinta alam, ekspedisi yang berlangsung sejak 4 Juli ini sekaligus menjadi momentum utama pengambilan gambar untuk produksi film dokumenter edukasi.

Selama enam hari perjalanan, tim melintasi kawasan hutan hujan tropis Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) hingga mengarungi aliran Sungai Cicatih.

Kegiatan ini digagas oleh Rumah Elpala (wadah alumni Elpala SMA Negeri 68 Jakarta) bersama jajaran anggota aktif Elpala (Ekstrakurikuler Pecinta Alam) sekolah tersebut.

Ekspedisi ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai Balai TNGHS, Kementerian Kehutanan, serta organisasi pencinta alam perintis, Wanadri.

Dokumentasikan Dampak Musim Kemarau

Sebelum memasuki etape pengarungan sungai, tim ekspedisi melakukan pendakian dari base camp Cimelati melintasi kawasan lembahan hutan primer TNGHS hingga mencapai Pos 5.

Perjalanan dilanjutkan dengan teknik meniti tali (rappelling) di air terjun, sebelum akhirnya merapat ke bantaran Sungai Cicatih untuk memulai pengarungan bersama instruktur Wanadri.

Saat menyusuri aliran Sungai Cicatih, tim mendokumentasikan adanya penurunan debit air sungai yang cukup signifikan sebagai dampak nyata dari musim kemarau yang tengah melanda kawasan tersebut.

Warga setempat, Rio, menjelaskan kepada tim di lapangan bahwa permukaan air sungai mengalami penurunan jika dibandingkan dengan kondisi normal di luar musim kemarau.

"Sekarang kondisi Sungai Cicatih memang sedang surut. Jika dibandingkan dengan kondisi biasanya, permukaan air sungai turun sekitar satu meter akibat pengaruh kemarau," ujar Rio.

Temuan penurunan debit air ini dicatat oleh tim sebagai bagian dari data lingkungan hidup dalam film dokumenter, sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai area tangkapan air alami.

Pengarungan Sejauh 20 Kilometer

Setelah menempuh pengarungan sungai sejauh kurang lebih 20 kilometer dengan waktu tempuh sekitar delapan jam, tim ekspedisi akhirnya mencapai garis finis di Pelabuhan Ratu pada Jumat sore.

Kedatangan tim disambut langsung oleh Danramil 2202/Palabuhanratu Kapten Chk Agus Hermansyah, Kepala Desa Jayanti Nandang, serta tokoh masyarakat setempat, Haji Dasim.

Pendiri Elpala, Dar Edi Yoga, mengutarakan bahwa ekspedisi ini membuktikan bahwa aktivitas kepecintaalaman bukan sekadar kegiatan fisik menaklukkan medan berat, melainkan sarana membangun kepekaan sosial dan kecintaan terhadap kelestarian alam nasional.

"Ekspedisi Cicatih Elpala bukan sekadar perjalanan fisik dari hulu hingga hilir sungai, tetapi perjalanan nilai. Di alam bebas, generasi muda dididik tentang kedisiplinan, kepemimpinan, tanggung jawab, dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem," urai Dar Edi Yoga.

Senada dengan itu, sutradara film dokumenter sekaligus pendiri Elpala, Eka Bama Putra, menjelaskan bahwa karya visual yang diproduksi ini ingin mengangkat hubungan harmonis antara manusia dan alam sekitar.

"Film ini bercerita tentang kebersamaan, perjuangan, dan bagaimana alam membentuk karakter seseorang. Kami menekankan bahwa setiap petualangan harus dipersiapkan dengan matang dan tetap mengutamakan aspek keselamatan (safety first)," jelas Eka Bama Putra.

Sungai Citatih

Sungai Cicatih merupakan salah satu sungai utama di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Sungai ini berhulu di kawasan pegunungan di wilayah selatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan mengalir melintasi sejumlah kecamatan sebelum bermuara ke Samudra Hindia di kawasan Teluk Palabuhanratu.

Aliran Sungai Cicatih memiliki peran penting sebagai sumber air bagi masyarakat, mengairi lahan pertanian, mendukung aktivitas perikanan, serta menjadi penopang berbagai kegiatan ekonomi di sepanjang daerah alirannya.

Selain memiliki nilai ekonomi, Sungai Cicatih juga dikenal sebagai salah satu sungai dengan karakter arus yang cukup deras, terutama saat musim hujan.

Kondisi tersebut membuat sungai ini kerap menjadi perhatian dalam mitigasi bencana karena berpotensi menimbulkan banjir, luapan air, maupun erosi di sejumlah wilayah yang dilaluinya.

Di sisi lain, bentang alam Sungai Cicatih yang dikelilingi perbukitan dan kawasan hijau menjadikannya memiliki potensi wisata alam, seperti aktivitas arung jeram dan wisata tepian sungai,

Hal tersebut membuat keberlanjutan ekosistem sungai ini menjadi aspek penting yang perlu terus dijaga melalui pengelolaan daerah aliran sungai secara terpadu.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.