TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kasus campak di Kabupaten Sintang kembali mencuat dan kini ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Desa Baning Kota, wilayah kerja Puskesmas Tanjung Puri.
Penetapan KLB ini dipicu penemuan sejumlah kasus positif.
Kepala UPTD Puskesmas Tanjung Puri, Andar Jimmy Pintabar mengatakan pihaknya akan menggelar imunisasi massal bagi anak usia 9 bulan hingga 16 tahun.
Andar Jimmy mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan sejak awal 2026 dengan mengirimkan lebih dari 10 sampel kasus suspek campak untuk diperiksa di laboratorium.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan pada April terdapat dua kasus positif campak. Kemudian pada Juni kembali ditemukan dua kasus positif yang merupakan kakak beradik. Berdasarkan kondisi tersebut, kami menerima surat penetapan status KLB di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Puri, khususnya di Desa Baning Kota," ujar Andar di ruang kerjanya., Jumat 10 Juli 2026.
Merespons penetapan tersebut, Puskesmas Tanjung Puri akan melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi sebagai respons terhadap kejadian luar biasa.
Petugas kesehatan akan turun langsung ke sekolah-sekolah dan posyandu untuk memberikan imunisasi tambahan.
"Kami sudah mendata tujuh sekolah yang menjadi sasaran. Pelaksanaan ORI akan dimulai pada hari Selasa depan. Selain sekolah, kami juga akan memberikan imunisasi kepada bayi, balita, dan anak usia 9 bulan sampai 16 tahun melalui posyandu," jelasnya.
• Kasus Positif Campak Sintang Menimpa Kakak Beradik, Pemerintah Tetap KLB dan Gelar Imunisasi Anak
Andar menegaskan, pada pelaksanaan ORI seluruh anak dalam rentang usia sasaran akan diberikan vaksin campak tanpa melihat riwayat imunisasi sebelumnya.
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kekebalan kelompok sekaligus memutus rantai penularan.
"Walaupun anak sudah pernah mendapatkan imunisasi campak, pada kondisi KLB tetap akan diberikan imunisasi tambahan. Tujuannya untuk mencegah penularan dan mengurangi risiko komplikasi apabila terinfeksi," katanya.
Ia mengakui masih ada sebagian orang tua yang menolak memberikan imunisasi kepada anaknya.
Karena itu, petugas kesehatan terus melakukan edukasi mengenai pentingnya vaksinasi sebagai upaya pencegahan penyakit.
"Kami selalu memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa imunisasi dapat mencegah penyakit atau setidaknya mengurangi tingkat keparahan dan komplikasi. Dari kasus campak yang kami temukan, ada beberapa anak yang positif ternyata belum pernah menerima imunisasi campak," ungkapnya.
Andar juga mengingatkan masyarakat agar mengenali gejala campak sejak dini.
Penyakit ini menular melalui droplet atau percikan cairan dari saluran pernapasan saat penderita batuk atau bersin.
"Gejala campak biasanya diawali demam tinggi, muncul ruam kemerahan di seluruh tubuh, disertai batuk, pilek, mata merah, bahkan pada beberapa kasus disertai diare. Karena penularannya sangat mudah melalui droplet, kami mengimbau masyarakat segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala tersebut," pungkasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Rosa Trifina mengatakan peningkatan kasus campak sejauh ini hanya terjadi di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Puri, Puskesmas Durian, dan Puskesmas Dara Juanti.
Sementara di kecamatan lain, kondisi masih terkendali dan belum ditemukan peningkatan kasus yang mengarah pada kejadian luar biasa (KLB).
"Di kecamatan-kecamatan lain tidak ada peningkatan atau outbreak. Yang menjadi perhatian kita sekarang adalah di Kecamatan Sintang, khususnya wilayah kerja Puskesmas Tanjung Puri, Durian, dan Dara Juanti, karena ada beberapa kasus campak," kata Rosa di ruang kerjanya, Jumat 10 Juli 2026.
Untuk menekan penyebaran penyakit tersebut, Dinas Kesehatan bersama seluruh puskesmas terkait mulai melakukan pendataan ulang terhadap masyarakat yang menjadi sasaran imunisasi campak.
Menurut Rosa, vaksinasi ulang akan diberikan tidak hanya kepada anak-anak yang belum menerima imunisasi, tetapi juga kepada mereka yang sebelumnya sudah pernah mendapatkan vaksin campak.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kekebalan tubuh masyarakat sekaligus memutus rantai penularan.
"Sekarang kami sedang mendata kembali sasaran yang akan mendapatkan imunisasi campak. Walaupun sebelumnya sudah pernah mendapat imunisasi, nantinya akan dilakukan vaksinasi ulang untuk mencegah peningkatan kasus," jelasnya.
• Dinkes Sintang Temukan Lonjakan Kasus Campak, Vaksinasi Ulang di Tiga Puskesmas Ini
Di sisi lain, Dinkes Sintang juga telah mengajukan permintaan tambahan stok vaksin kepada Dinkes Kalimantan Barat.
Setelah pasokan vaksin diterima dan pendataan sasaran rampung, petugas kesehatan akan turun langsung ke lapangan untuk melaksanakan imunisasi ulang.
"Nanti setelah vaksinnya datang dan seluruh sasaran sudah terdata, baru kita lakukan vaksinasi ulang dengan mendatangi sasaran yang memang wajib mendapatkan vaksin," pungkas Rosa.
1). 8.224 kasus suspek campak hingga minggu ke-7 tahun 2026.
2). 572 kasus terkonfirmasi dan 4 kematian (CFR 0,05 persen).
3). 21 KLB suspek campak dan 13 KLB terkonfirmasi di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi
-Demam tinggi muncul 10–14 hari setelah terinfeksi.
-Batuk dan pilek disertai penurunan nafsu makan.
-Mata merah dan sensitif cahaya (konjungtivitis).
-Ruam merah mulai dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh.
-Bintik Koplik: bintik putih kecil di dalam mulut.
-Pada kasus berat: diare, pneumonia, otitis media, hingga ensefalitis.
-Imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) = cara paling efektif mencegah campak.
-Isolasi penderita untuk mencegah penularan ke keluarga.
-Edukasi orang tua tentang pentingnya vaksinasi.
-Kebersihan lingkungan: hindari kontak dengan cairan tubuh penderita dan benda terkontaminasi.
Tidak ada obat khusus untuk membasmi virus campak, namun pengobatan bertujuan meredakan gejala:
-Antipiretik (misalnya parasetamol) untuk menurunkan demam.
-Vitamin A untuk mengurangi keparahan penyakit, terutama pada anak dengan risiko kekurangan.
-Dekongestan untuk meredakan batuk dan pilek.
-Istirahat dan cairan cukup untuk mempercepat pemulihan.
-Isolasi pasien agar tidak menularkan ke orang lain.
(*)