Sandarkan Asa dari Lidi Nipah, Warga Pesisir Cilacap Merawat Alam sekaligus Menggerakkan Ekonomi
muslimah July 11, 2026 07:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Hamparan hutan mangrove yang membentang di kawasan Segara Anakan tak hanya menjadi benteng alami pesisir Cilacap, tetapi juga menyimpan sumber penghidupan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi melalui pohon nipah yang tumbuh subur di Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, dan Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah.

Di Desa Ujungalang, nipah telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang tinggal berdampingan dengan perairan Segara Anakan.

Sekretaris Desa Ujungalang, Kustoro, mengatakan, kawasan mangrove Kampung Laut yang mencapai sekitar 4.600 hektare menjadi habitat alami pohon nipah yang selama ini menopang perekonomian warga pesisir.

Menurut Kustoro, bagian paling bernilai dari tanaman tersebut adalah lidi berwarna kuning yang memiliki kualitas baik dan diminati pasar hingga mancanegara.

"Permintaan lidi nipah cukup tinggi karena kualitasnya mampu bersaing dengan lidi kelapa dan telah dipasarkan hingga ke sejumlah negara seperti India, Brasil, serta kawasan Asia Tenggara," ujar Kustoro.

Dari balik rimbunnya hutan mangrove, ratusan keluarga di Ujungalang menggantungkan penghasilan dari aktivitas memanen, mengolah, hingga menjual lidi nipah kepada para pengepul.

BIKIN ANYAMAN - Warga Kutawaru menganyam daun nipah menjadi kerajinan tangan, belum lama ini.
BIKIN ANYAMAN - Warga Kutawaru menganyam daun nipah menjadi kerajinan tangan, belum lama ini. (TRIBUN JATENG/Rayka Diah Setianingrum)

Kustoro menuturkan usaha pengolahan lidi nipah masih menjadi penyangga ekonomi masyarakat ketika hasil tangkapan ikan maupun udang sedang mengalami penurunan.

"Hingga saat ini sekitar 600 kepala keluarga masih mengandalkan nipah sebagai sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.

Meski sempat mengalami masa panen besar akibat tingginya harga jual beberapa tahun lalu, keberlangsungan pohon nipah kini mulai lebih terjaga seiring menurunnya intensitas eksploitasi.

"Harga saat ini memang berada di kisaran Rp 4.500 hingga Rp 5.000 per kilogram, tetapi kondisi tersebut memberi kesempatan bagi pohon nipah untuk tumbuh dan beregenerasi kembali," jelas Kustoro.

Ia menilai potensi nipah belum berhenti pada penjualan bahan baku karena masih terbuka peluang pengembangan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Selain sektor ekonomi, bentang alam mangrove dan nipah yang luas juga dinilai berpotensi menjadi destinasi ekowisata berbasis konservasi yang mampu menarik kunjungan wisatawan.

"Jika dipadukan dengan wisata mangrove, potensi nipah dapat menjadi daya tarik baru yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan," tambah Kustoro.

Harapan serupa tumbuh di Kelurahan Kutawaru yang berada di sisi lain kawasan Segara Anakan, ketika daun nipah mulai diolah menjadi berbagai produk ramah lingkungan bernilai jual. Di wilayah yang dikenal sebagai kampung mangrove tersebut, sejumlah perempuan memilih mengembangkan keterampilan menganyam daun nipah dibanding kembali bekerja sebagai tenaga kerja migran di luar negeri.

Karakter kuat

Salah satu perajin, Sumiyati (56), mengatakan daun nipah memiliki karakter yang lentur dan kuat sehingga cocok dijadikan besek makanan maupun wadah bibit mangrove pengganti polibag plastik.

"Daun nipah bisa dimanfaatkan menjadi berbagai kerajinan, termasuk besek untuk pembagian daging kurban karena lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik," kata Sumiyati.

 

Menurut dia, harga produk anyaman nipah bervariasi mulai Rp1.500 hingga Rp5.000 per buah tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya.

"Dari kegiatan ini kami tetap bisa memperoleh tambahan penghasilan tanpa harus meninggalkan keluarga untuk bekerja ke luar negeri," ujarnya.

Pengelola Bank Sampah Abhipraya Kutawaru, Rato Mirza, menjelaskan pemanfaatan daun nipah menjadi salah satu langkah untuk mendorong ekonomi masyarakat sekaligus mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

"Produk unggulan yang dihasilkan warga saat ini berupa besek dan wadah bibit mangrove berbahan daun nipah yang banyak digunakan pada momen tertentu seperti Idul Adha," jelas Rato Mirza.

Selain mengembangkan kerajinan berbahan nipah, warga juga aktif mengelola sampah melalui Bank Sampah Abhipraya sebagai upaya menjaga ekosistem pesisir dan mangrove.

"Kami ingin masyarakat mampu mengelola sampah secara mandiri karena sebelumnya masih banyak sampah plastik yang berakhir di laut dan berdampak terhadap keberlangsungan mangrove," ungkapnya.

Dari Ujungalang hingga Kutawaru, nipah tidak hanya tumbuh sebagai tanaman rawa yang menghijaukan pesisir Segara Anakan, tetapi juga menjadi simbol ketahanan masyarakat dalam menjaga alam sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Di tengah tantangan keterbatasan modal, teknologi, dan pemasaran, pohon nipah terus menyimpan harapan bahwa masa depan pesisir Cilacap dapat dibangun melalui kekayaan alam yang dikelola secara bijak dan lestari. (ray)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.