Usai Sidak RSUD Giri Emas Bali, DPRD Buleleng Dorong Naik Status Jadi Tipe C
Putu Dewi Adi Damayanthi July 11, 2026 10:38 AM

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Viralnya gangguan layanan akibat persoalan oksigen di RSUD Giri Emas, Kecamatan Sawan mendorong DPRD Buleleng melakukan inspeksi langsung ke rumah sakit tersebut.

Selain memastikan kondisi pelayanan, dewan juga mendorong peningkatan status RSUD Giri Emas menjadi rumah sakit tipe C.

Inspeksi dilakukan untuk memastikan langsung kondisi pelayanan di rumah sakit, setelah beredarnya video yang menyebut pasien sempat mengalami gangguan pasokan oksigen.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Buleleng, Ketut Dody Tisna Adi, mengatakan pihaknya sengaja turun ke lapangan untuk mengklarifikasi informasi yang beredar di media sosial.

Baca juga: Jawab Sorotan DPRD Soal SiLPA Rp712 Miliar, Giri Prasta: Sisa Tender, Bukan Gagal Serap Anggaran

Menurutnya, informasi yang viral perlu dipastikan terlebih dahulu agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh.

"Hasil kunjungan kami terlihat bahwa ini sebenarnya lebih kepada miskomunikasi. Dari penjelasan manajemen, pasokan oksigen cukup. Permasalahan yang terjadi lebih karena human error dan sudah langsung ditangani," ujarnya, Jumat 10 Juli 2026.

Ia menilai insiden tersebut harus menjadi evaluasi agar pelayanan kesehatan semakin baik.

Menurut Dody, momentum ini juga perlu dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan kapasitas RSUD Giri Emas yang saat ini masih berstatus rumah sakit tipe D.

Menurutnya, peningkatan status menjadi rumah sakit tipe C penting agar masyarakat di wilayah timur Buleleng, khususnya Kecamatan Tejakula, Kubutambahan, dan Sawan, memperoleh layanan kesehatan yang lebih lengkap tanpa harus selalu dirujuk ke RSUD Buleleng di Singaraja.

"Kalau terjadi kecelakaan di wilayah timur, penanganannya bisa lebih cepat kalau fasilitas dan dokter spesialisnya sudah tersedia di sini. Itu yang ingin kita dorong," katanya.

Senada dengan itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya mengatakan, peningkatan status rumah sakit membutuhkan penambahan sarana dan prasarana, termasuk kapasitas tempat tidur dari 50 menjadi 100 bed sesuai persyaratan rumah sakit tipe C.

Selain itu, rumah sakit juga perlu melengkapi sejumlah layanan spesialis beserta fasilitas penunjangnya.

Ia berharap kebutuhan tersebut dapat diakomodasi melalui anggaran perubahan tahun ini.

"Dari informasi yang kami terima, kebutuhan anggaran sekitar Rp20 miliar. Harapan kami pemerintah daerah mulai mengalokasikan anggaran untuk pembangunan ruang rawat inap dan penambahan bed, sehingga proses peningkatan status bisa segera dimulai," jelasnya.

Sementara itu, Kasubag Tata Usaha RSUD Giri Emas I Made Karmawan Putra menjelaskan gangguan layanan yang sempat viral bukan disebabkan stok oksigen habis.

Menurutnya, saat kejadian dini hari, yang mengalami kekosongan adalah outlet oksigen, sedangkan pasokan di sentral oksigen tetap tersedia.

Petugas kemudian langsung mengalihkan suplai ke cadangan sehingga aliran oksigen kembali normal.

RSUD Giri Emas juga telah mengevaluasi prosedur operasional sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Karmawan menyambut baik dorongan DPRD untuk meningkatkan status RSUD Giri Emas menjadi tipe C.

Menurutnya, peningkatan tersebut akan memperluas jenis layanan spesialis yang dapat diberikan kepada masyarakat, seperti layanan jantung, paru, THT, mata hingga ortopedi.

"Kalau naik menjadi tipe C, pelayanan kepada masyarakat tentu akan semakin lengkap. Untuk kebutuhan pembangunan fisik dan sarana prasarana diperkirakan sekitar Rp25 miliar, meski angkanya masih akan dihitung kembali sesuai perencanaan," tandasnya. (mer)

Jadi Sorotan Sidang Paripurna

Kasus gangguan layanan akibat persoalan oksigen di RSUD Giri Emas sebelumnya juga menjadi sorotan fraksi-fraksi DPRD Buleleng dalam rapat paripurna pembahasan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD 2025, Kamis 9 Juli 2026.

Fraksi NasDem melalui juru bicara Made Putri Nareni meminta Pemerintah Kabupaten Buleleng melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola pelayanan kesehatan.

Menurutnya, persoalan oksigen tidak bisa dianggap sebagai masalah teknis semata karena menyangkut keselamatan pasien.

"Kejadian seperti ini tidak boleh terulang karena menyangkut keselamatan masyarakat," tegas Putri Nareni.

NasDem juga mendorong pemerintah mengaudit sistem persediaan oksigen dan kebutuhan medis lainnya di seluruh fasilitas kesehatan milik daerah, termasuk mengevaluasi prosedur pengadaan dan pengelolaan logistik kesehatan.

Sementara itu, Fraksi Gerindra melalui juru bicara Gede Suradnya menilai insiden tersebut harus menjadi momentum pembenahan pelayanan kesehatan.

Gerindra meminta pemerintah daerah meningkatkan tata kelola rumah sakit, melengkapi sarana dan prasarana, serta menjamin ketersediaan kebutuhan medis sebagai penunjang pelayanan. (mer)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.