Bantaran Sungai di Sikente Pasangkayu Longsor 5 Meter dalam 2 Bulan
Abd Rahman July 11, 2026 11:47 AM

 

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Kondisi erosi di bantaran sungai Dusun Sikente, Kelurahan Bambalamotu, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, semakin mengkhawatirkan.

Pantauan Tribun-Sulbar.com, Sabtu (11/7/2026), menunjukkan tebing sungai terus terkikis hingga membentuk dinding tanah yang curam dengan ketinggian beberapa meter. 

Tanah di sepanjang bibir sungai tampak runtuh dan menyisakan bekas longsoran yang masih terlihat segar.

Aliran sungai berwarna keruh kehijauan menggerus bagian bawah tebing, sehingga mempercepat proses pengikisan. 

Baca juga: Baru Sepekan Dibersihkan, Pantai Baras di Pasangkayu Kembali Dipenuhi Tumpukan Sampah

Baca juga: Pengabdian Terakhir Nur Salam, Petugas Damkar Pasangkayu Meninggal Sehari Usai Padamkan Kebakaran

Sejumlah batang pohon yang sebelumnya tumbuh di tepi sungai kini telah tumbang ke dasar sungai akibat kehilangan penyangga tanah.

Di beberapa titik terlihat akar pepohonan menggantung karena lapisan tanah di bawahnya sudah hilang. 

Material longsoran berupa tanah, ranting, dan batang pohon berserakan di tepian sungai, menandakan erosi terus berlangsung.

Vegetasi di sekitar lokasi memang masih cukup lebat, namun kondisi tersebut belum mampu menahan derasnya arus sungai yang setiap musim hujan terus mengikis bantaran.

Saat debit air meningkat akibat banjir, arus sungai menghantam langsung tebing sehingga longsoran terus bertambah dari waktu ke waktu. 

Kondisi ini telah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum mendapatkan penanganan permanen.

Warga setempat, Bahar, mengatakan laju erosi semakin cepat dalam beberapa bulan terakhir.

"Kalau dihitung sekitar dua bulan terakhir, sudah kurang lebih lima meter tanah yang longsor," ujar Bahar saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, setiap kali banjir datang, suara tanah yang runtuh terdengar jelas. Warga hanya bisa menyaksikan sedikit demi sedikit bantaran sungai amblas terbawa arus.

Ia mengaku kondisi tersebut membuat masyarakat, khususnya para petani yang memiliki kebun di sekitar lokasi, semakin khawatir.

Pasalnya, lahan produktif mereka terus berkurang akibat longsor. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan erosi akan terus meluas hingga mencapai area perkebunan.

Pantauan di lapangan juga menunjukkan sejumlah pohon kelapa sawit berada sangat dekat dengan bibir sungai. 

Beberapa di antaranya tampak menggantung karena sebagian besar tanah penyangga akarnya telah hilang akibat terkikis air.

Apabila longsoran terus berlanjut, pohon-pohon sawit tersebut diperkirakan akan tumbang ke sungai dalam waktu yang tidak lama.

Tidak hanya mengancam lahan perkebunan warga, erosi juga mulai mendekati jembatan utama di jalan poros yang menjadi akses penting masyarakat Dusun Sikente.

Jarak antara titik longsor dengan infrastruktur tersebut terus menyempit. 

Warga khawatir jika tidak segera dilakukan penguatan tebing atau pembangunan talud, longsoran akan mencapai fondasi jembatan dan berpotensi mengganggu akses transportasi masyarakat.

"Yang kami takutkan bukan cuma kebun hilang, tapi kalau sampai mendekati jembatan, tentu dampaknya lebih besar lagi karena itu akses utama warga," kata Bahar.

Menurut warga, beberapa bulan lalu lokasi tersebut telah ditinjau oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama Balai Wilayah Sungai (BWS).

Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi tebing sungai yang terus mengalami abrasi dan longsor.

Namun hingga kini belum ada tindak lanjut berupa pembangunan talud, bronjong maupun bentuk pengamanan tebing lainnya.

Warga berharap pemerintah segera merealisasikan penanganan sebelum kerusakan semakin meluas dan mengancam keselamatan masyarakat serta infrastruktur di sekitar bantaran sungai.

Mereka menilai penanganan harus segera dilakukan mengingat setiap musim hujan, kondisi longsor selalu bertambah parah dan luas lahan yang hilang terus meningkat. 

Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan hanya kebun warga yang terancam hilang, tetapi juga jembatan poros yang menjadi jalur vital penghubung aktivitas masyarakat di wilayah tersebut.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.