Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi 5 Kali dalam Sehari, Status Level Siaga
Vivi Febrianti July 11, 2026 12:04 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda masih menunjukkan intensitas yang tinggi.

Sepanjang Jumat (10/7/2026), gunung api tersebut lima kali mengalami erupsi, dengan kolom abu vulkanik tertinggi mencapai 250 meter di atas puncak.

Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rangkaian erupsi terjadi pada pukul 16.42 WIB, 16.57 WIB, 17.49 WIB, 17.51 WIB, dan kembali pada 21.40 WIB.

Erupsi pertama menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut, menjadi letusan tertinggi yang tercatat sepanjang hari.

Abu vulkanik berwarna hitam dengan intensitas tebal bergerak ke arah utara, timur laut, dan barat laut.

Aktivitas vulkanik kemudian berlanjut empat kali dalam selang waktu beberapa jam.

Pada erupsi terakhir pukul 21.40 WIB, kolom abu teramati mencapai sekitar 150 meter di atas puncak atau sekitar 307 meter di atas permukaan laut.

Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal bergerak ke arah utara dan barat laut.

Seluruh aktivitas erupsi terekam oleh instrumen seismik dengan amplitudo maksimum berkisar 44,3 hingga 55,2 milimeter dan durasi antara 27 hingga 49 detik.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi, mengatakan meningkatnya frekuensi erupsi masih berada dalam dinamika aktivitas Vulkanik yang terus dipantau Badan Geologi. 

"Frekuensi erupsi memang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Namun, hingga saat ini hasil evaluasi masih menetapkan Gunung Anak Krakatau pada Status Level III atau Siaga," kata Andi, Sabtu (11/7/2026).

Menurut dia, penilaian status gunung tidak didasarkan pada jumlah letusan semata, melainkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap berbagai parameter pemantauan, mulai dari pengamatan visual hingga aktivitas kegempaan.

"Setiap erupsi yang terjadi menjadi bagian dari parameter yang kami analisis. Seluruh data tersebut dievaluasi secara berkelanjutan oleh Badan Geologi sebelum menentukan ada atau tidaknya perubahan tingkat aktivitas gunung," ujarnya.

Andi meminta masyarakat tidak menganggap aktivitas erupsi sebagai kondisi yang biasa sehingga mengabaikan rekomendasi yang telah dikeluarkan pemerintah.

"Selama status Gunung Anak Krakatau masih Level III atau Siaga, masyarakat, nelayan, wisatawan, maupun pelaku jasa wisata diharapkan tidak mendekati kawasan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Keselamatan harus tetap menjadi prioritas," kata Andi.

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.