Tribunlampung.co.id, Pesawaran – Jumlah kunjungan ke Museum Ketransmigrasian Lampung di Desa Bagelen Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung dinilai naik sepanjang Semester I 2026.
Baca Juga: Warga Pesawaran Diimbau Tidak Tergoda Kerja ke Luar Negeri lewat Jalur Ilegal
Peningkatan itu dipicu semakin masifnya program edukasi sejarah yang dijalankan museum serta tingginya perhatian masyarakat setelah kunjungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo ke museum tersebut pada akhir Juni 2026.
Kepala UPTD Museum Ketransmigrasian Lampung, Syafriyadi, AP mengatakan, berbagai kegiatan edukasi yang menyasar pelajar hingga kunjungan tokoh nasional berhasil meningkatkan minat masyarakat untuk datang langsung ke museum.
“Ada peningkatan jumlah pengunjung pada Semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tren kenaikan ini didorong oleh masifnya program edukasi sejarah serta kunjungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo ke museum pada akhir Juni 2026. Lonjakan wisatawan dan pelajar juga didukung berbagai kegiatan publik serta peliputan media televisi nasional yang diselenggarakan di area museum,” kata Syafriyadi kepada Tribun Lampung, Sabtu (11/7/2026).
Ia menjelaskan, Museum Ketransmigrasian Lampung merupakan satu-satunya museum di Indonesia yang secara khusus mengangkat sejarah transmigrasi.
Museum menyimpan beragam koleksi yang menggambarkan perjalanan program transmigrasi di Tanah Air.
Koleksi museum terbagi dalam enam kategori, yakni koleksi alat transportasi, peralatan rumah tangga, ekonomi dan administrasi, religi dan budaya, peralatan pencaharian hidup, serta sejarah dan geografi.
Sementara sejumlah koleksi unggulan yang paling banyak menarik perhatian pengunjung di antaranya sepeda ontel, lesung dan alu, koleksi mata uang serta layang kekancingan, tombak dan pedang, sugu besi, hingga bola besi.
Untuk menarik minat generasi muda, museum juga terus berinovasi melalui pemanfaatan teknologi digital.
Salah satunya dengan menghadirkan katalog koleksi secara daring melalui website resmi museum sehingga masyarakat dapat mengenal koleksi sebelum berkunjung.
“Generasi muda sekarang sudah melek teknologi. Karena itu museum juga mengikuti perkembangan tersebut melalui katalog koleksi di website resmi. Justru hal ini meningkatkan rasa penasaran masyarakat untuk datang langsung melihat koleksi sekaligus memahami narasi perjalanan sejarah transmigrasi secara lebih lengkap,” ujarnya.
Selain layanan digital, museum rutin menggelar berbagai program edukasi.
Di antaranya kegiatan Belajar di Museum bagi siswa SD, SMP hingga SMA/SMK yang dikemas dengan konsep belajar sambil bermain.
Museum juga menyelenggarakan berbagai perlombaan permuseuman seperti kesenian tradisional Gejog atau Gojeg Lesung yang melibatkan kelompok budaya dan sanggar seni.
Tidak hanya itu, seminar kajian juga rutin digelar dengan melibatkan mahasiswa, guru dan masyarakat umum guna mempublikasikan hasil kajian koleksi museum secara lebih mendalam.
Syafriyadi menegaskan, museum memiliki peran penting sebagai pusat pembelajaran, pelestarian sejarah dan penghubung antargenerasi.
Kehadiran museum diharapkan membuat sejarah transmigrasi tidak sekadar menjadi materi di buku pelajaran, tetapi dapat dipahami masyarakat melalui pengalaman melihat langsung berbagai koleksi yang tersimpan.
“Sebagai sarana edukasi, museum akan terus memberikan pemahaman kepada masyarakat maupun dunia pendidikan mengenai sejarah program transmigrasi di Indonesia beserta koleksi yang dimiliki Museum Ketransmigrasian Lampung,” terangnya.
Memasuki Semester II 2026, Museum Ketransmigrasian Lampung telah menyiapkan berbagai agenda pameran dan kegiatan budaya.
Museum akan berpartisipasi dalam Lampung Fair sebagai pameran pembangunan tingkat daerah, serta mengikuti pameran tematik tingkat nasional seperti Pameran Naskah Se-Sumatra dan Pameran Kain Se-Indonesia.
Di bidang digitalisasi, museum juga terus mengoptimalkan publikasi melalui media sosial.
Meski belum memiliki layanan museum virtual, masyarakat sudah dapat mengakses katalog koleksi melalui website resmi museum sebagai referensi awal sebelum berkunjung.
Syafriyadi mengakui pengelolaan museum masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus di bidang permuseuman, seperti konservator koleksi, manajemen koleksi hingga pemasaran museum.
Ke depan, pihaknya ingin mengubah persepsi masyarakat bahwa museum bukan hanya tempat menyimpan benda-benda bersejarah, melainkan destinasi wisata edukasi nasional yang layak dikunjungi pelajar, peneliti maupun wisatawan untuk memahami terbentuknya masyarakat transmigrasi di Indonesia.
“Kami berharap Museum Ketransmigrasian Lampung semakin dikenal, baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu fasilitas dan pelayanan terus meningkat serta mendapat dukungan pendanaan dari berbagai pihak agar museum semakin maju dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” tutupnya.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)