Musim Kemarau Diprediksi Hingga September, BPBD Jembrana Siapkan Tandon Air, Antisipasi Kekeringan
Putu Kartika Viktriani July 11, 2026 02:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA – Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026 mulai diantisipasi Pemerintah Kabupaten Jembrana, Bali. 

Meski hingga kini belum ada laporan warga terdampak kekeringan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyiapkan tandon air dan tangki air bersih yang siap dikerahkan sewaktu-waktu apabila terjadi kekeringan di sejumlah wilayah rawan di Kabupaten Jembrana.

Lima Wilayah di Jembrana Masuk Daerah Rawan Kekeringan

Berdasarkan pemetaan BPBD Jembrana, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Daerah tersebut meliputi Desa Manistutu dan Desa Tukadaya di Kecamatan Melaya, Kelurahan Pendem di Kecamatan Jembrana, serta Desa Mendoyo Dauh Tukad dan Desa Yehembang di Kecamatan Mendoyo.

 

Di Kelurahan Pendem, persoalan kekurangan air bersih mulai berkurang setelah masyarakat memperoleh bantuan sumur bor dari Polri.

Sementara di Desa Yehembang, warga sebelumnya sempat mengalami kesulitan air akibat jaringan distribusi rusak diterjang banjir sehingga harus mengambil air dari lokasi yang cukup jauh.

Baca juga: Info Lokasi Nobar Argentina vs Swiss di Bali, Nonton Semifinal Piala Dunia 2026 di GOR Lila Bhuana

BPBD Jembrana Siapkan Tandon Air Bersih dan Antisipasi Kebakaran

Selain untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD Jembrana juga menyiapkan tandon air sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kebakaran saat musim kemarau.

Cadangan air tersebut akan dimanfaatkan, terutama apabila terjadi kebakaran di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang rawan terbakar saat cuaca kering.

Tandon yang disiapkan memiliki kapasitas sekitar 2.000 liter, sedangkan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mampu menampung hingga 5.200 liter air.

"Sampai saat ini belum ada laporan dari warga (kekeringan). Namun, kami tentunya sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi seperti menyiapkan tandon dan tangki air untuk nantinya suplai air bersih ke warga yang membutuhkan," ungkap Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra saat dikonfirmasi.

Agus Artana menjelaskan, daerah yang berpotensi terdampak kekeringan tahun ini masih mengacu pada hasil pemetaan sebelumnya, yakni tersebar di Kecamatan Melaya, Jembrana, dan Mendoyo.

BWS Bali-Penida Siapkan Bantuan Pipanisasi dan Sumur Bor

Selain upaya yang dilakukan BPBD Jembrana, pemerintah juga akan mendapat dukungan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida berupa pembangunan jaringan pipanisasi maupun sumur bor di wilayah yang menjadi langganan kekeringan.

Sebelum direalisasikan, lokasi penerima bantuan akan terlebih dahulu disurvei agar penanganannya tepat sasaran.

"Jadi bantuan ini tidak hanya untuk kebutuhan air bersih. Tapi, nanti akan menyasar pengaturan sawah juga. Mengingat saat ini fokus ketahanan pangan," tegasnya.

BPBD Jembrana pun mengimbau masyarakat untuk tetap menghemat penggunaan air selama musim kemarau serta segera melaporkan kepada pemerintah desa atau BPBD apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.