PMII-HMI Datangi PLN Barabai, Desak Hentikan Krisis Listrik di HST
Ratino Taufik July 11, 2026 02:51 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Gelombang protes terhadap pemadaman listrik berkepanjangan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) akhirnya sampai ke kantor PT PLN (Persero) UP3 Barabai, Sabtu (11/07/2026). 

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mendatangi kantor PLN, dengan membawa sederet tuntutan agar perusahaan pelat merah itu segera menghentikan krisis listrik yang dikeluhkan masyarakat.

Mahasiswa menilai pemadaman yang terus berulang bukan lagi sekadar gangguan teknis, melainkan telah mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik. Mereka juga menyoroti minimnya keterbukaan PLN mengenai penyebab pasti gangguan yang telah berlangsung selama beberapa pekan.

Ketua Umum PC PMII Barabai, Muhammad Alfi Syahrin, mengatakan masyarakat berhak memperoleh penjelasan yang jelas mengenai penyebab pemadaman dan kepastian kapan kondisi akan kembali normal.

"Persoalan ini bukan hanya soal listrik padam. Aktivitas masyarakat terganggu, pelaku usaha merugi, dan masyarakat terus menunggu kepastian. PLN harus terbuka, jangan membiarkan masyarakat terus bertanya-tanya," katanya.

Menurut Alfi, penyampaian informasi PLN selama ini juga dinilai belum memadai. Informasi pemadaman dinilai kerap berubah dan lebih banyak disampaikan melalui media digital, sementara tidak semua warga memiliki akses internet.

"Informasi harus cepat, akurat, dan pasti. Jangan sampai masyarakat menerima informasi yang berubah-ubah sehingga justru menimbulkan kebingungan," tegasnya.

Baca juga: BRIN Lanjutkan Penelitian Temuan Situs di Kotabaru, Ada Berbagai Artefak hingga Kuburan

Senada, Ketua Umum HMI Barabai, Amril Saifan, menyebut dampak pemadaman telah dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, pedagang, peternak, peserta didik hingga layanan publik.

Karena itu, HMI dan PMII mendesak PLN tidak hanya menyampaikan permintaan maaf, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi pelanggan.

"Kami meminta adanya kompensasi sesuai ketentuan, termasuk subsidi token listrik selama masa pemulihan berlangsung serta perlindungan bagi sektor-sektor yang terdampak," ujarnya.

Dalam audiensi tersebut, kedua organisasi mahasiswa menyampaikan enam tuntutan kepada PLN, yakni membuka secara transparan penyebab gangguan listrik, memperbaiki sistem penyampaian informasi, mempercepat pemulihan pasokan listrik, memberikan kompensasi kepada pelanggan, menghadirkan solusi bagi sektor terdampak, serta memastikan kejadian serupa tidak terus berulang.

Aspirasi mahasiswa diterima Pengurus Harian PT PLN (Persero) UP3 Barabai, Ardiansyah, karena manajer definitif UP3 Barabai belum dilantik.

Di hadapan mahasiswa, Ardiansyah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas pemadaman yang terjadi.

"Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat atas kondisi ini. Kami memahami aktivitas masyarakat banyak yang terganggu," katanya.

PLN menjelaskan pemadaman dilakukan akibat kerusakan mesin pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sehingga diterapkan manajemen beban untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan.

"Pemadaman bukan dilakukan dengan sengaja, tetapi merupakan langkah teknis agar gangguan sistem yang lebih besar dapat dihindari," jelas Ardiansyah.

Ia mengatakan proses pemulihan pembangkit masih berlangsung sehingga jadwal pemadaman dapat berubah mengikuti kondisi sistem. 

Sementara terkait isu dugaan korupsi batu bara yang berkembang, ia menyebut persoalan tersebut masih dalam tahap investigasi dan memastikan stok bahan bakar pembangkit tetap tersedia.

PLN menyatakan terus melakukan pemeliharaan jaringan dan berupaya mempercepat pemulihan pasokan listrik agar pelayanan kepada masyarakat kembali normal. (Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus sene)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.