TRIBUNSUMSEL.COM,MUSIRAWAS – Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT, masyarakat Desa E. Wonokerto, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) menggelar tradisi berkatan dan doa bersama.
Dalam tradisi tersebut, warga membaca surah Yasin, tahlil, dan doa bersama dengan harapan memohon kebaikan bagi masyarakat desa.
Kegiatan yang berpusat di Masjid Nurul Iman pada Jumat (10/7/2026) sore ini diikuti oleh sebagian besar masyarakat Desa E. Wonokerto, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Sebagai informasi, tradisi berkatan (kenduri atau selamatan) suroan merupakan ritual masyarakat Jawa untuk menyambut Tahun Baru Islam (1 Muharam).
Warga berkumpul untuk berdoa bersama, memohon keselamatan, menolak bala, dan mensyukuri berkah dengan menyantap hidangan seperti nasi uduk, ingkung (ayam utuh), atau bubur Suro. Tradisi ini hanya dilaksanakan setahun sekali, yakni pada bulan Suro atau Muharam.
Salah seorang warga Desa E. Wonokerto, Warsono, menyampaikan bahwa tradisi suroan ini rutin digelar setiap tahun.
"Ini tradisi Suroan, pelaksanaannya hanya pada bulan Suro saja, tetapi rutin setiap tahunnya," kata Warsono kepada Sripoku.com, Sabtu (11/7/2026).
Baca juga: Daftar 193 Pejabat di Pemkab Musi Rawas yang Resmi Dirotasi, 5 Camat Berganti
Dalam tradisi tersebut, lanjut dia, masyarakat baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak akan berkumpul di satu tempat untuk membaca doa bersama serta surah Yasin dan tahlil. Untuk tahun ini, kegiatan dipusatkan di Masjid Nurul Iman.
Warsono menjelaskan, sebelum acara dimulai, pemerintah desa terlebih dahulu mengumumkan rencana pelaksanaan tradisi Suroan atau berkatan ini kepada masyarakat.
"Setiap kepala keluarga diminta membawa berkat, yaitu nasi kotak atau nasi bungkus yang dilengkapi dengan lauk-pauk dan sayuran," jelasnya.
Pada hari pelaksanaan, berkat tersebut dikumpulkan di tengah-tengah warga yang hadir. Setelah seluruh rangkaian doa, tahlil, dan pembacaan surah Yasin selesai, berkat yang terkumpul akan dibagikan kembali secara acak kepada warga untuk dibawa pulang.
"Namun sebelum dibagikan, biasanya berkat diisi lagi dengan daging ingkung atau ayam kampung utuh yang sudah dimasak," ungkap Warsono.
Ia menambahkan, tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada masyarakat selama ini.
"Sekaligus untuk memohon keselamatan, menolak bala, mensyukuri berkah, serta berharap kebaikan bagi masyarakat, termasuk kelancaran hasil panen," pungkasnya.
Ikuti dan gabung di saluran WhatsApps Tribunsumsel.com