Seram, Mahasiswa DKV Telkom University Purwokerto Sidang Pakai Riasan Black Metal
khoirul muzaki July 11, 2026 03:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Di tengah suasana sidang Tugas Akhir yang umumnya berlangsung formal, seorang mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Telkom University Purwokerto justru tampil dengan wajah penuh riasan khas black metal atau corpse paint. 


Penampilannya yang tak biasa itu sontak viral di media sosial, namun di baliknya tersimpan proses akademik yang telah dirancang sebagai bagian dari metode pembelajaran kampus.


Mahasiswa tersebut adalah Ragatama Ar-Rauf Rahmaputra, yang mengangkat Tugas Akhir berjudul "Perancangan Buku Komik Dokumenter Perjalanan Band Santet sebagai Artefak Visual." 


Melalui karya tersebut, Raga mendokumentasikan perjalanan Band Santet, grup black metal legendaris asal Banyumas, ke dalam bentuk buku komik dokumenter sebagai artefak visual yang merekam sejarah sekaligus perkembangan subkultur musik tersebut.


Video dan foto Raga saat menjalani sidang dengan riasan corpse paint mendadak menjadi perbincangan warganet. 


Ragatama mengaku memilih Band Santet sebagai objek penelitian bukan tanpa alasan.


Menurutnya, band black metal asal Banyumas tersebut memiliki nilai historis dan budaya yang layak didokumentasikan sebagai bagian dari perkembangan subkultur musik di Indonesia.


"Band Santet memiliki nilai historis dan budaya. 


Menurut saya, perjalanan mereka layak diangkat dalam sebuah dokumentasi," ujar Raga kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (11/7/2026). 


Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Raga memilih media buku komik dokumenter karena memiliki ketertarikan terhadap dunia komik.


Ia ingin menyampaikan hasil riset sekaligus memperkenalkan perjalanan Band Santet kepada masyarakat melalui media visual yang lebih mudah dipahami.


Dalam proses penyusunan Tugas Akhir, Raga menghabiskan waktu sekitar tiga bulan untuk melakukan riset yang meliputi observasi, pengumpulan data, hingga wawancara langsung dengan personel Band Santet.


Setelah proses penelitian selesai, ia melanjutkan tahap perancangan buku komik dokumenter yang dikerjakan selama kurang lebih dua bulan.


Saat sidang berlangsung, Raga sengaja mengenakan corpse paint, riasan wajah khas black metal yang identik dengan penampilan Band Santet di atas panggung.


Menurutnya, penampilan tersebut merupakan representasi visual dari objek penelitian yang sedang dipresentasikan.


"Saya menggunakan corpse paint untuk merepresentasikan Band Santet yang memang identik dengan penampilan tersebut saat manggung," katanya.


Raga mengaku sama sekali tidak membayangkan respons publik akan sebesar itu.


"Saya kaget dan enggak nyangka karena tiba-tiba ramai. 


Rasanya seperti mimpi," ucapnya.


Meski demikian, ia berharap masyarakat tidak hanya melihat penampilannya saat sidang, tetapi juga memahami proses riset, nilai budaya, serta pesan yang ingin disampaikan melalui karya yang telah ia rancang.


Di sisi lain, Galih berharap momentum tersebut tidak hanya membuat Program Studi DKV Telkom University Purwokerto semakin dikenal, tetapi juga memperkenalkan Banyumas sebagai daerah yang memiliki potensi kreativitas dan subkultur yang layak diapresiasi melalui karya-karya akademik.


"Harapannya DKV Telkom University Purwokerto semakin dikenal. 


Begitu pula Banyumas sebagai daerah yang memiliki potensi kreativitas dan subkultur yang menarik untuk dikaji. 


Semoga dari semakin dikenalnya DKV, akan lahir lebih banyak karya kreatif yang memberi manfaat bagi masyarakat," katanya. 


Di balik viralnya penampilan tersebut, Kepala Program Studi DKV Telkom University Purwokerto, Galih Putra Pamungkas, S.Sn., M.Sn., menjelaskan penggunaan kostum atau cosplay yang disesuaikan dengan objek penelitian memang menjadi bagian dari metode pembelajaran dalam pelaksanaan sidang Tugas Akhir.


Menurut Galih, pendekatan tersebut telah diterapkan selama sekitar tiga tahun terakhir sebagai upaya mendekatkan mahasiswa dengan objek riset yang mereka kaji.


"Cosplay itu memang kami wajibkan kepada mahasiswa ketika melakukan presentasi Tugas Akhir. 


Tujuannya bukan sekadar unik atau mencari perhatian, tetapi menjadi bagian dari proses akademik agar mahasiswa tidak memiliki jarak dengan objek yang ditelitinya.
Dengan begitu mereka dapat lebih memahami, menginternalisasi, dan mengomunikasikan hasil penelitiannya secara lebih utuh," ujar Galih sebagaimana dalam rilis, Sabtu (11/7/2026). 


Ia menjelaskan, sebagai disiplin ilmu yang berada pada irisan seni dan komunikasi, DKV mendorong mahasiswa menghasilkan karya yang orisinal, kreatif, sekaligus memiliki karakter kuat. 

Baca juga: Bakal Ada Kejutan Lagi, PSIS Semarang Bertaburan Pemain Grade A


Mahasiswa diberikan kebebasan berekspresi selama tetap sesuai norma dan mampu mempertanggungjawabkan konsep yang diangkat secara akademik.


Galih menegaskan bahwa penampilan mahasiswa saat sidang bukan menjadi indikator penilaian.


Penilaian tetap berfokus pada kualitas proses bimbingan, kedalaman riset, laporan ilmiah, hasil perancangan, serta kemampuan mahasiswa mempertahankan karya di hadapan dosen penguji.


Fenomena viral tersebut pun diakui terjadi di luar dugaan pihak Program Studi DKV Telkom University Purwokerto.


Semula, dokumentasi sidang diunggah oleh salah satu dosen penguji, Aditya Tama Isdiarto, S.Sn., M.Sn., melalui akun Threads @adit505 dengan keterangan "ujian dalam keadaan black metal".


Unggahan tersebut kemudian menyebar cepat ke berbagai platform media sosial, dibagikan sejumlah akun besar dengan jutaan pengikut, hingga akhirnya menarik perhatian berbagai media nasional.


Menanggapi viralnya sidang tersebut, Galih mengaku bersyukur karya mahasiswanya mendapat perhatian luas dari masyarakat.


Menurutnya, hal itu menjadi bukti bahwa pesan visual yang dibangun mahasiswa berhasil menjangkau audiens yang lebih luas.


"Kami tentu senang karena karya mahasiswa akhirnya mendapat perhatian masyarakat. 


Artinya, upaya mahasiswa dalam mengomunikasikan objek risetnya berhasil tersampaikan kepada publik. 


Ini menunjukkan bahwa komunikasi visual yang mereka bangun dapat diterima oleh audiens yang lebih luas," katanya. (jti) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.