Kontingen Monolog UIN Saizu Tampil Memukau di SIF 2026 Lewat Lakon Aeng/Alimin Karya Putu Wijaya
abduh imanulhaq July 11, 2026 04:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, PADANG -  Kontingen Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menampilkan kualitas seni pertunjukan di panggung SeIBa International Festival (SIF) IV Tahun 2026.

Kali ini, delegasi UIN Saizu membawakan monolog "Aeng/Alimin", karya sastrawan Indonesia Putu Wijaya.

Monolog dipentaskan di Aula Gedung J UIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, Kamis (9/7/2026).

Pertunjukan tersebut berhasil menghadirkan suasana hening di dalam ruangan.

Akting yang emosional dipadukan dengan tata artistik yang sederhana namun kuat membuat penonton larut dalam pergulatan batin tokoh utama hingga akhir pementasan.

Monolog ini menjadi salah satu penampilan yang memperlihatkan kemampuan mahasiswa UIN Saizu Purwokerto dalam mengolah seni peran sekaligus menyampaikan kritik sosial melalui karya sastra Indonesia.

Dalam pementasan tersebut, Muhammad Fadlan Mubarok, mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah semester 2, tampil sebagai aktor utama yang memerankan tokoh Alimin.

Selama pementasan, Fadlan mampu membangun karakter seorang narapidana yang sedang menunggu pelaksanaan hukuman mati.

Melalui dialog yang penuh emosi, ekspresi wajah, serta penguasaan panggung, ia menghadirkan sosok Alimin sebagai manusia yang bergulat dengan penyesalan, kemarahan, ketidakadilan, dan pencarian makna hidup.

Kemampuan membangun emosi penonton menjadi salah satu kekuatan utama dalam penampilan tersebut.

Keberhasilan pementasan monolog tidak lepas dari kerja sama tim yang mempersiapkan seluruh aspek pertunjukan. 

Tim monolog UIN Saizu terdiri atas: Muhammad Fadlan Mubarok (Program Studi Perbankan Syariah) sebagai aktor monolog, Utiya Rahma Shoumi (Program Studi Tadris Bahasa Inggris) sebagai sutradara sekaligus penanggung jawab musik dan penataan panggung, serta Erlinda Dwi Anjani (Program Studi Perbankan Syariah) sebagai pimpinan produksi yang menangani pencahayaan, tata rias, dan kostum.

Kolaborasi tersebut menghasilkan pertunjukan yang tidak hanya mengandalkan kemampuan akting, tetapi juga didukung pengaturan musik, pencahayaan, dan tata artistik yang memperkuat suasana dramatik.

Monolog "Aeng/Alimin" mengisahkan perjalanan hidup seorang narapidana bernama Alimin yang menanti eksekusi hukuman mati di dalam sel penjara.

Di tengah kesunyian ruang tahanan, Alimin mengingat kembali perjalanan hidupnya yang penuh kekerasan, kemiskinan, dan pengucilan sosial sejak masa kecil.

Ia tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi kekerasan dan kehilangan kasih sayang.

Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan hingga akhirnya terjerumus dalam tindakan kriminal yang membawanya ke hukuman mati.

Melalui dialog-dialog reflektif, tokoh Alimin tidak hanya mengakui kesalahan yang pernah dilakukan, tetapi juga mempertanyakan sistem sosial dan hukum yang menurutnya kerap mengabaikan akar persoalan seseorang sebelum menjatuhkan penilaian.

Monolog ini mengajak penonton melihat seorang pelaku kejahatan dari sisi kemanusiaannya, tanpa menghilangkan tanggung jawab atas perbuatannya.

Karya Putu Wijaya tersebut juga menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan sosial yang masih relevan hingga saat ini.

Dalam pementasan, Alimin digambarkan sebagai sosok yang mempertanyakan batas antara benar dan salah di tengah realitas yang penuh ketimpangan.

Ia merasa menjadi korban dari lingkungan yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk tumbuh secara layak.

Pengalaman hidup yang penuh luka membuatnya kehilangan arah hingga memilih jalan kekerasan.

Meski demikian, monolog tidak berusaha membenarkan tindakan kriminal yang dilakukan tokoh utama. 

Sebaliknya, pementasan mengajak penonton merefleksikan pentingnya keadilan sosial, perhatian terhadap kelompok rentan, serta perlunya menghadirkan ruang bagi setiap orang untuk didengar.

Pesan tersebut menjadi salah satu kekuatan naskah "Aeng/Alimin" yang hingga kini masih sering dipentaskan di berbagai panggung teater Indonesia.

Keikutsertaan Tim Monolog UIN Saizu dalam SeIBa International Festival menjadi bagian dari upaya kampus mengembangkan potensi mahasiswa di bidang seni dan budaya.

Melalui seni teater, mahasiswa tidak hanya belajar teknik akting, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis, membangun empati, serta menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan kepada masyarakat.

Pementasan monolog menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi media komunikasi yang efektif untuk mengangkat isu sosial, membangun kesadaran, dan mengajak penonton melakukan refleksi terhadap berbagai persoalan kehidupan.

SeIBa International Festival IV merupakan forum internasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melalui kompetisi akademik, seni, budaya, sastra, dan inovasi.

Selain cabang monolog, kontingen UIN Saizu juga mengikuti berbagai perlombaan lain, seperti tari tradisional, tari kontemporer, baca puisi, Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), Musabaqah Syahril Qur'an (MSQ), pop solo, presentasi poster budaya, hingga kompetisi karya ilmiah.

Keikutsertaan mahasiswa dalam berbagai cabang tersebut menjadi bagian dari komitmen UIN Saizu dalam memperkuat internasionalisasi kampus sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi akademik, kreativitas, dan karakter di tingkat global.

Melalui pementasan monolog "Aeng/Alimin", mahasiswa UIN Saizu tidak hanya menunjukkan kemampuan seni peran yang matang, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang kemanusiaan, keadilan, dan harapan.

Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa seni pertunjukan mampu menjadi jembatan dialog sosial sekaligus memperkaya kontribusi mahasiswa UIN Saizu pada panggung internasional. (***)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.