TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Mahasiswa Universitas Andalas (Unand) angkatan 2022, Ryan Al Ghifari, hilang kabar setelah meninggalkan rumahnya di Kelurahan Jati Baru, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, sejak November 2025 lalu.
Hampir delapan bulan berlalu tanpa kabar, sang ibu, Ade Melriza (47), terus berupaya mencari keberadaan anak pertamanya tersebut.
Ade hanya berharap Ryan segera pulang.
Baca juga: Anak 3,5 Tahun Hilang Sejak Sabtu, Diduga Hanyut di Sungai Dekat Rumah di Pasaman
Ia tak pernah menyangka kepergian Ryan dari rumah pada Senin (17/11/2025) sekitar pukul 02.00 WIB menjadi pertemuan terakhir mereka hingga kini.
Ade mengaku baru mengetahui anaknya meninggalkan rumah pada pagi harinya.
"Saya tahu Ryan meninggalkan rumah saat subuh. Waktu bangun tidur, saya lihat pintu rumah tidak dikunci. Saya pikir papanya yang keluar untuk buang sampah. Namun saat saya hendak membangunkan adiknya, Ryan sudah tidak ada di kamar," kata Ade Melriza saat ditemui TribunPadang.com di rumahnya sambil berlinang air mata, Sabtu (11/7/2026).
Setelah tidak menemukan Ryan, Ade langsung menanyakan keberadaan anaknya kepada seluruh anggota keluarga.
Dari situlah ia mengetahui Ryan telah pergi meninggalkan rumah.
"Saya tanyakan kepada semua yang ada di rumah, kepada kedua adiknya dan ayahnya. Mereka juga tidak tahu karena Ryan tidak memberi tahu akan pergi ke mana. Adiknya hanya tahu malam itu Ryan sempat mandi, setelah itu tidak tahu lagi ke mana perginya," ujarnya.
Merasa ada firasat yang tidak baik, Ade kemudian berusaha mencari berbagai petunjuk mengenai keberadaan anaknya.
Namun, ia hanya menemukan laptop, telepon genggam, dompet berisi uang, serta kartu identitas Ryan yang masih berada di atas meja kamar.
"Saat itu saya langsung membuka laptop Ryan untuk mencari percakapannya di WhatsApp. Tapi saya tidak mendapatkan petunjuk sama sekali," katanya.
Baca juga: Unand Kembangkan Shelter Berbasis Masjid Hadapi Gempa Megathrust Mentawai dan Tsunami di Padang
Ia juga sempat bertanya kepada para tetangga, namun tidak seorang pun mengetahui keberadaan Ryan.
"Saya tanyakan ke tetangga apakah ada yang melihat Ryan. Tapi tidak ada yang melihat, mungkin karena saat itu sudah larut malam dan hujan. CCTV di sekitar rumah juga tidak merekam Ryan saat pergi," ujarnya.
Karena tak kunjung menemukan petunjuk, Ade bersama suaminya, Irvan Adrian (52), terus berusaha mencari keberadaan Ryan.
Mereka menelusuri informasi dari teman-teman Ryan, baik teman sekolah maupun kuliah.
Bahkan mereka mendatangi rumah hingga tempat kos teman-teman Ryan, namun tetap tidak membuahkan hasil.
"Saya sudah mendatangi rumah sampai kos teman-teman Ryan. Tapi tidak ada petunjuk sama sekali," jelasnya.
Setelah itu, keluarga melaporkan hilangnya mahasiswa Jurusan Informatika tersebut ke pihak kepolisian.
"Saya sudah melaporkan ke Polsek, Polresta Padang hingga Polda. Namun sampai delapan bulan Ryan hilang, saya belum mendapatkan informasi apa pun," katanya.
Di tengah pencarian tersebut, Sumatera Barat juga dilanda bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025.
Ade mengaku sempat khawatir anaknya menjadi salah satu korban bencana.
Bahkan, ia menyerahkan sampel DNA di RS Bhayangkara Padang untuk dicocokkan dengan identitas korban banjir dan longsor.
"Saat itu saya ingin memastikan apakah anak saya menjadi korban bencana. DNA saya tinggalkan di RS Bhayangkara, tapi hasilnya tidak ada yang cocok," ujarnya.
Menurut Ade, Ryan dikenal sebagai anak yang berprestasi, baik di lingkungan keluarga maupun kampus.
Bahkan, Ryan bersama teman-temannya berhasil menciptakan aplikasi sistem informasi pelayanan dan pengelolaan administrasi kepegawaian Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat.
"Nilainya di atas rata-rata, bahkan mendapat penghargaan dari Pemprov Sumbar atas aplikasi yang ia ciptakan," katanya.
Ayah Ryan, Irvan Adrian, mengaku juga terus berusaha mencari keberadaan putra sulungnya itu.
"Hampir seluruh wilayah Kota Padang saya datangi. Saya mencari anak saya dan menempelkan fotonya di berbagai tempat agar ada yang memberikan petunjuk," ujarnya.
Irvan mengaku tidak melihat tanda-tanda apa pun sebelum Ryan meninggalkan rumah.
"Sekitar 15 hari sebelum dia meninggalkan rumah, sikapnya tidak berubah. Dia seperti biasa, lebih banyak di rumah dan selalu ceria dengan adik-adiknya," katanya.
Irvan dan Ade berharap anak pertama mereka segera kembali ke rumah.
"Ryan, pulang nak, temui mama. Mama sudah tidak kuat seperti ini. Mama tidak marah kalau Ryan pulang. Kami semua akan bahagia kalau Ryan kembali. Ayolah pulang, Nak. Setiap siang dan malam mama selalu berdoa agar Ryan pulang," tutup Ade sambil menangis.