Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto Nugroho
TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Solo Batik Carnival (SBC) yang telah digelar sebanyak 17 kali belum sepenuhnya mampu mendongkrak sektor pariwisata Kota Solo, Jawa Tengah.
Meski menjadi agenda tahunan yang menghadirkan ratusan peserta, dampak terhadap tingkat okupansi hotel hingga restoran disebut belum terlihat signifikan.
Gelaran SBC 2026 yang berlangsung pada Sabtu (11/7/2026) sore juga belum mampu menarik antusiasme masyarakat dalam jumlah besar seperti penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya.
Pantauan TribunSolo.com di lokasi, masyarakat yang menyaksikan kirab busana batik dari depan Stadion Sriwedari hingga Balai Kota Solo masih terlihat tersebar di sejumlah titik.
Kepadatan penonton belum tampak memenuhi sepanjang jalur yang dilalui peserta.
Rute karnaval yang melintasi Jalan Slamet Riyadi mulai dari kawasan Sriwedari hingga Gladag juga belum dipadati masyarakat secara merata.
Padahal, gelaran tersebut diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan, termasuk penggiat busana dari dalam maupun luar Kota Solo.
Kirab SBC sendiri baru dimulai sekitar pukul 16.30 WIB.
Dalam acara tersebut, Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani turut tampil sebagai cucuk lampah dengan mengenakan busana batik bernuansa bunga yang didominasi warna merah.
Baca juga: Solo Batik Carnival 2026 Digelar Sore Ini, Beberapa Jalan Ditutup Sementara, Cek Rutenya
Tidak hanya dari sisi jumlah penonton, dampak penyelenggaraan SBC terhadap tingkat hunian hotel di Kota Solo juga belum terlihat secara khusus.
Humas Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Solo, Wening Damayanti, mengatakan peningkatan okupansi hotel pada akhir pekan memang terjadi, namun belum dapat dikaitkan langsung dengan keberadaan SBC.
"Seperti biasa okupansi rata-rata di akhir pekan memang meningkat," ungkap Wening melalui pesan singkat kepada TribunSolo.com.
"Tapi belum termonitor tamu yang khusus datang untuk melihat SBC," lanjutnya.
Sementara itu, sejumlah warga menilai SBC saat ini tidak lagi memiliki daya tarik sebesar masa awal penyelenggaraan.
Salah satunya Kuncoro (35), warga Solo, yang mengaku mengikuti perjalanan SBC sejak pertama kali digelar.
Baca juga: Jangan Lewatkan! Ada 3.000 Dawet Gratis di Festival Semanggi Solo Digelar 20–25 Juli 2026
Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap SBC mengalami penurunan karena konsep acara dinilai belum banyak mengalami perubahan.
"Saya mengikuti sejak awal SBC, dulu memang jadi salah satu daya tarik. Bahkan sampai berdesak-desakan buat bisa nonton karnaval. Tapi sekarang nggak seperti dulu," kata dia.
Kuncoro menilai perlunya inovasi baru agar SBC kembali menjadi magnet bagi masyarakat lokal maupun wisatawan luar daerah.
"Tiap tahun dari awal ya seperti ini, itu kayaknya juga jadi sebab SBC kurang menarik," pungkasnya.