Kenang Jasa Andie Peci yang Selamatkan Persebaya dari Mati Suri, Green Force Gelar Aksi di GBT
Sarah Elnyora Rumaropen July 11, 2026 08:35 PM

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Keluarga besar Persebaya Surabaya dan Bonek sedang diselimuti duka mendalam setelah salah satu tokoh ikonik dan pejuang klub, Andie "Peci" Kristianto, wafat pada Jumat (10/7/2026) di RSUD dr. Mohamad Soewandhie.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas dedikasi luar biasanya, manajemen Persebaya menyiapkan serangkaian aksi khusus dalam laga 99th Anniversary Game melawan PSIS Semarang di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya pada Minggu (19/7/2026).

Skuad Bajol Ijo dipastikan akan mengenakan pita hitam serta menggelar satu menit mengheningkan cipta tepat sebelum sepak mula dimulai untuk mengenang sang api penyemangat Bonek tersebut.

Duka Mendalam Green Force

Pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, tersebut mengembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan medis intensif selama beberapa bulan terakhir.

Kepergian Cak Andie meninggalkan kesedihan mendalam bagi banyak pihak, terutama keluarga besar Persebaya dan suporter setianya yang mengenal beliau sebagai sosok setia mengawal perjalanan klub dalam berbagai situasi.

Ungkapan duka cita mendalam disampaikan langsung oleh Manajer Persebaya, Sidiq Maulana Tualeka.

Pria yang akrab disapa Alex Tualeka itu menyebut Andie Peci bukan sekadar pemimpin massa, melainkan simbol pemikiran dan penyemangat yang sangat menginspirasi.

"Dalam sejarah perjuangan pemulihan status Persebaya Surabaya, Cak Andie Peci memiliki modal sangat lengkap. Dia bukan hanya alat, tapi juga api penyemangat sekaligus inspirasi perjuangan Bonek," kata Alex pada Jumat (10/7/2026).

Baca juga: Rivera Siap Kerja Keras Penuhi Target Juara Persebaya Surabaya, Terapkan Filosofi Permainan Khusus

Alex menambahkan betapa kuatnya pengaruh pemikiran almarhum dalam menyatukan barisan suporter kala itu.

"Bonek yang bertanah air tanpa penindasan, berbangsa yang gandrung keadilan, serta bahasa tanpa kebohongan yang menjadi sumpah Bonek sepanjang perjuangan adalah salah satu produk pemikirannya untuk menyolidkan masa aksi," lanjut Alex.

Alex juga menyinggung filosofi perjuangan yang selalu dipegang erat oleh Andie Peci semasa hidupnya.

"Dimana perlawanan adalah kata kerja. Harus dikerjakan, dan harus diperjuangkan, karena kemenangan bukan hadiah yang turun dari langit. Bahagia di tribun barumu, bersama para pejuang lain, Cak Jhoner yang sudah mendahului, begitu juga Marsinah yang menginspirasi Cak Andie dalam perjuangan buruh selama ini," pungkas Alex.

Kesedihan serupa dirasakan oleh Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) pertandingan Persebaya, Ram Surahman.

Ram mengaku sangat kehilangan atas wafatnya figur yang dikenal sangat dekat dengan denyut nadi perjuangan klub tersebut.

"Kami sangat berduka atas kepergian Cak Andie. Beliau adalah sosok yang memiliki kecintaan luar biasa kepada Persebaya," ujar Ram Surahman.

"Banyak kontribusi dan perjuangan yang telah beliau berikan untuk klub ini, terutama pada masa-masa sulit yang pernah dilalui Persebaya," tambahnya.

Menurut Ram, Andie Peci merupakan figur tegas yang memegang teguh prinsip dan keyakinannya demi kebaikan masa depan tim kebanggaan Arek-Arek Suroboyo.

"Beliau dikenal sebagai pribadi yang berintegritas, berani menyuarakan kebenaran, dan memiliki kepedulian besar terhadap Persebaya. Semangat serta dedikasi yang ditunjukkan selama ini akan selalu menjadi bagian dari perjalanan sejarah klub," terang Ram.

Penyelamat Persebaya dari Masa Mati Suri

Nama Andie Peci memang memiliki tempat yang sangat istimewa dalam sejarah panjang tim kebanggaan kota Surabaya ini.

Mendiang merupakan sosok yang sangat vokal ketika Persebaya mengalami periode sulit akibat konflik dualisme yang berujung pada hilangnya status keanggotaan dan pembekuan oleh PSSI sejak tahun 2010 hingga awal 2017.

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian tersebut, ketika Persebaya tidak diakui oleh federasi dan divonis mati suri, kecintaan Andie terhadap klub justru tidak pernah surut sedikit pun.

Andie menjadi salah satu tokoh sentral yang berdiri paling depan memimpin berbagai elemen Bonek untuk berjuang tanpa lelah melalui aksi-aksi nyata di Surabaya, Jakarta, hingga Bandung.

Baca juga: Andie Peci Meninggal Dunia, Manajer Persebaya Kenang Mendiang sebagai Inspirasi Perjuangan Bonek

Perjuangan keras itu akhirnya membuahkan hasil manis ketika Persebaya secara resmi kembali diakui oleh PSSI melalui Kongres Tahunan PSSI yang digelar pada 8 Januari 2017 di Bandung.

Kecintaan mendalam Andie Peci terhadap Persebaya juga dirasakan langsung oleh mantan pemain dan kapten tim, Rendi Irwan.

Rendi mengenang almarhum sebagai tokoh suporter yang tidak hanya berjuang secara politis di luar lapangan, tetapi juga memberikan perhatian nyata terhadap kondisi para pemain yang terlunta-lunta selama masa pembekuan klub.

"Saya mengenal sosok cak Andie Peci adalah tokoh Bonek yang memperjuangkan Persebaya waktu mati suri hingga bisa berkompetisi kembali di tahun 2017," kata Rendi.

Rendi menceritakan bagaimana kehadiran Andie Peci menjadi suntikan moral yang sangat berharga bagi para penggawa Green Force saat tidak ada kejelasan kompetisi.

"Di Tahun 2013 Saat Persebaya tidak diakui PSSI, kami pemain masih berlatih di mes Karanggayam. Cak Peci sering hadir di saat kami latihan, juga memberikan dukungan moral kepada kami waktu itu," kenang Rendi.

Bahkan, di tengah kondisi kesehatannya yang terus menurun selama menjalani perawatan medis di rumah sakit beberapa bulan terakhir, Andie Peci terbukti tidak pernah melupakan klub cintanya.

Andie masih sempat mengunggah ucapan selamat hari ulang tahun untuk Persebaya melalui akun Instagram pribadinya pada 18 Juni 2026 lalu.

Selain aktif sebagai pentolan Bonek, semasa hidupnya Andie juga dikenal luas sebagai aktivis buruh yang aktif menggerakkan roda organisasi di Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).

Penghormatan Khusus di GBT

Sebagai wujud rasa terima kasih, penghormatan terakhir, serta penghargaan setinggi-tingginya atas seluruh jasa dan pengorbanannya, manajemen Persebaya telah menyiapkan serangkaian agenda khusus.

Tim Green Force dijadwalkan akan mengenakan pita hitam di lengan serta menggelar prosesi satu menit mengheningkan cipta tepat sebelum kick-off laga akbar "99th Anniversary Game" menghadapi PSIS Semarang di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Minggu (19/7/2026).

"Kami ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Cak Andie atas segala dedikasi, pengorbanan, dan kecintaannya kepada Persebaya. Pita hitam dan mengheningkan cipta menjadi simbol rasa hormat sekaligus doa dari seluruh keluarga besar Persebaya untuk beliau," terang Ram Surahman.

Tidak berhenti sampai di situ, manajemen Green Force juga telah menyusun beberapa agenda penghormatan khusus lainnya di area stadion.

Baca juga: Bonek Berduka, Andie Peci Tokoh Sentral Penyelamat Persebaya dari Dualisme 2017 Tutup Usia

Sesaat setelah peluit panjang akhir laga kontra PSIS Semarang ditiup, pihak panitia akan memutar sebuah film pendek yang merangkum kisah perjalanan hidup serta perjuangan melelahkan Andie Peci semasa hidup di layar videotron Stadion GBT.

Pihak manajemen juga menyediakan fasilitas wall of condolences (dinding ungkapan duka) di stadion agar menjadi ruang khusus bagi para Bonek, Bonita, dan seluruh elemen keluarga besar Persebaya untuk menumpahkan pesan emosional, doa, serta rasa belasungkawa mereka.

Terakhir, sebuah kursi khusus di area VIP Stadion Gelora Bung Tomo akan dikosongkan secara khusus dan dipasangi foto Andie Peci sebagai simbol abadi bahwa raganya boleh pergi, namun tempatnya di dalam sejarah Persebaya tidak akan pernah tergantikan.

Rangkaian penghormatan ini menjadi penanda kuat bahwa di tengah semarak perayaan menuju usia satu abad, Persebaya tidak akan pernah melupakan para pejuang tangguh yang telah mengorbankan segalanya demi menjaga nyala api klub agar tetap berdiri kokoh hingga hari ini.

Berdasarkan informasi pihak keluarga, jenazah almarhum Andie Peci rencananya akan dipulangkan dan dimakamkan di tanah kelahirannya, di Desa Manis Rejo, Madiun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.