ALIH-alih menjadi penanda kebangkitan, ‘Invincible’ justru menjadi album dengan total penjualan terburuk sepanjang karier Michael Jackson. Sejak dirilis 30 Oktober 2001 sampai hari kematian Michael pada 25 Juni 2009, angka ‘Invincible’ tidak pernah melewati tujuh juta copy.
Bagi artis lain, tujuh juta penjualan album boleh jadi sudah terbilang luar biasa. Namun tidak untuk ukuran Michael Jackson. Sebagai pembanding, album ‘Dangerous’ terjual 32 juta copy, album ‘Bad’ 45 juta copy, dan ‘Thriller’, yang sampai detik ini masih belum tergoyahkan sebagai ‘best selling album all the time’, terjual hingga 65 juta copy.
Padahal, di lain sisi, ‘Invincible’ justru diproduksi dengan biaya luar biasa besar. Mencapai 30 juta dolar. Jauh lebih tinggi dari album-album lainnya, termasuk, mematahkan “rekornya sendiri”: 10 juta dolar untuk album super mewah di zamannya, ‘HIStory: Past, Present and Future, Book I’.
Demikianlah, ‘Invincible’ beranjak dari big hope ke big flop. Emas yang tak pernah benar-benar menunjukkan kilau. Dari panggung film, ‘The Adventures of Pluto Nash’ kiranya bisa diletakkan di posisi sejajar. Ber-budget 100 juta dolar, film sains fiction comedy yang dibintangi Eddy Murphy ini hanya menghasilkan 7,1 juta dolar. Atau sebut pula ‘John Carter’, film tentang prajurit yang bertempur melawan suku Apache dan entah bagaimana tiba-tiba bisa terpental dan terdampar ke Planet Mars. Digadang bisa merajai box office, modal 300 juta dolar justru tak kembali.
Harapan yang demikian tinggi, kenyataan yang jatuh dan hancur berkeping-keping. Satu di antara hukum kehidupan yang terus berulang. Harapan, kenyataan, seperti saudara kandung yang saling mencintai sekaligus membenci. Siapa pun boleh melambungkan harapan, tapi tak punya hak untuk memilih kenyataan. Takdir memegang peranan. Kehendak Tuhan. “You can cut all the flowers but you cannot keep Spring from coming”. Ya, penyair Pablo Neruda bilang, potong saja bunga-bunga itu, musim semi akan tetap datang.
Dalam sepak bola, tamsil-tamsil ini, berlaku untuk Belgia. Tahun 2014, di Brasil, mereka datang dengan “embel-embel” yang menggetarkan, The Golden Generation. Setelah bertahun-tahun hanya menjadi medioker, Belgia akhirnya sampai juga pada titik yang diperhitungkan. Ada barisan pemain, yang meski masih muda secara usia tapi sudah malang-melintang di liga-liga top Eropa. Thibaut Courtois (22 tahun, kala itu di Atletico Madrid), Kevin De Bruyne (22 tahun, VfL Wolfsburg), Romelu Lukaku (21 tahun, Everton), Eden Hazard (23 tahun, Chelsea), plus dua pemain yang masih betul-betul belia, baru berusia 19, Divock Origi dan Adnan Januzaj. Mereka dipimpin kapten Vincent Kompany.
Belgia gagal di Brasil. Mereka terhenti di perempat final, di tangan Argentina, dan kala itu, usia muda sebagian besar pemain jadi semacam kambing hitam. Generasi emas ini belum matang. Emasnya belum jadi. Belum bisa digosok hingga benar-benar berkilau. Mereka masih memerlukan proses-proses lebih lanjut.
Alasan ini termaklumkan, dan memang, kekalahan di Brasil tak membuat Belgia surut. Sebaliknya, kian menggebu. Sebelum Brasil 2014, mereka berada di peringkat 11 FIFA, merangsek ke posisi 4, dan setahun berselang bertengger di posisi satu. Sampai menjelang Piala Dunia 2018, Belgia tidak pernah keluar dari jajaran 5 besar.
Konsistensi ini, juga tentunya usia para pemain yang makin matang [dari skuat yang tidak terlalu banyak berubah dari empat tahun sebelumnya], membuat mereka ditempatkan sebagai unggulan utama di Rusia 2018. Belgia dinilai telah berada di masa peak, masa-masa terbaik, seperti Prancis di edisi 1998, Brasil 2002, dan Spanyol 2010. Kuat merata di semua lini. Solid secara kualitas maupun mental.
Namun, lagi-lagi, kilau emas mereka sampai bersemburat. Hanya kilau tanggung, yang menghadirkan rasa penasaran di satu sisi dan keraguan di sisi yang lain. Apakah ini memang sebenar-benarnya generasi emas? Ataukah, jangan-jangan ini sekadar sepuhan yang kilaunya kelewat dibesar-besarkan?
Setelah nyaris dibekap Jepang di fase 16 besar, Belgia membangkitkan harapan di perempat final. Mereka melewati adangan Brasil. Namun di semi final, mereka tak berdaya di hadapan Prancis yang justru datang dengan skuat yang sebagian besar berisi pemain berusia 25 tahunan. Bintang utama mereka, Kylian Mbappe, baru berusia 19.
Lantas, kali ini, apa yang jadi alasan? Tentu saja selalu ada. Dari yang sekadar menyalahkan nasib hingga yang rada sensitif. Yang terakhir ini sesungguhnya sudah berlangsung lama, tapi kemudian akhirnya meledak juga. Publik sepak bola Belgia bertanya, menggugat persisnya, bagaimana soliditas bisa terbangun apabila dalam tubuh tim terdapat dua kepala yang saling bermusuhan?
Dalam buku biografinya, ‘Keep It Simple’, yang terbit pada 2014, Kevin de Bryune mengungkap kisah perselingkuhan yang menggegerkan. Kisah ini melibatkan perempuan yang pernah menjadi kekasihnya, Caroline Lijnen, dengan kiper Thibaut Courtois. “Kekasih saya [waktu itu] Caroline pergi ke Madrid dengan beberapa pemain dan Thibaut melakukan affair dengannya,” tulis De Bruyne yang mengaku sangat terpukul dan tidak dapat menekan kemarahannya hingga berbulan-bulan.
Affair terjadi pada tahun 2012, dan sejak itu, walau tetap bersama-sama bermain di Tim Nasional Belgia, De Bruyne dan Courtois, tidak pernah lagi saling bertegur sapa. Sampai skuat Belgia terbang ke Qatar untuk bermain di Piala Dunia 2022, dan kemudian pergi dengan cara yang lebih memalukan. Sampai di Inglewood, California, di depan 70 ribuan penonton yang menyesaki SoFi Stadium, 11 Juli 2026. Belgia gagal melewati adangan Spanyol. Gagal melaju ke semi final. Saat para pemain Belgia menyapa dan memberi hormat pada suporter mereka, De Bruyne dan Courtois, seperti yang sudah-sudah, tetap saja berdiri berjauhan.
Courtois enggan membahasnya. Di hadapan wartawan, dia masih menyinggung perihal Golden Generation, meski kali ini dari sudut pandang yang berbeda. Ia mengakui, edisi 2026, kemungkinan besar merupakan akhir dari generasinya, generasi emas, yang tidak menghasilkan apa-apa. Lima pemain dari generasi ini masih bermain: Axel Witsel, Thomas Meunier, Romelu Lukaku, Kevin de Bruyne, dan Courtois sendiri. Dari mereka, termuda Lukaku, 33 tahun. Di edisi 2030 nanti, usianya 37. Masih memungkinkan tampil jika tolok ukurnya adalah Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Apakah Lukaku bisa menyetarai mereka? Sama sekali tidak ada jaminan, sebab sekarang pun, Lukaku sudah lebih banyak datang dari bangku cadangan.
“Saya tidak akan bicara soal 2030. Masih ada empat tahun dari sekarang dan apapun bisa saja terjadi. Namun satu yang pasti, kami sudah melakukan regenerasi dengan baik. Ada banyak pemain muda, wajah-wajah baru, dan saya kira mereka akan memberikan lebih baik untuk Belgia di masa depan,” katanya. Courtois menyebut nama Nathan Ngoy, Jeremy Doku, dan Charles De Ketelaere. Juga dua pemain yang baru berusia 21, Joaquin Seys dan Diego Moreira. Generasi emas yang baru? Courtois, hanya tersenyum. Tidak mengangguk, tidak menggeleng, hanya tersenyum.(t agus khaidir)