TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Video dan foto seorang mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Telkom University Purwokerto yang menjalani sidang Tugas Akhir dengan riasan khas black metal (corpse paint) mendadak viral di media sosial.
Mahasiswa tersebut adalah Ragatama Ar-Rauf Rahmaputra, yang mengangkat Tugas Akhir berjudul "Perancangan Buku Komik Dokumenter Perjalanan Band Santet sebagai Artefak Visual."
Melalui karya tersebut, Raga mendokumentasikan perjalanan Band Santet, salah satu band black metal legendaris asal Banyumas, ke dalam bentuk buku komik dokumenter sebagai artefak visual yang merekam sejarah sekaligus perkembangan subkultur musik tersebut.
Di balik penampilannya yang mencuri perhatian saat sidang, terdapat proses akademik dan pendekatan pembelajaran yang telah diterapkan di Program Studi DKV Telkom University Purwokerto.
Kepala Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Telkom University Purwokerto, Galih Putra Pamungkas, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa penggunaan kostum atau cosplay yang disesuaikan dengan objek penelitian merupakan bagian dari metode pembelajaran dalam pelaksanaan sidang Tugas Akhir.
Pendekatan ini telah diterapkan selama sekitar tiga tahun terakhir sebagai upaya mendekatkan mahasiswa dengan objek riset yang mereka kaji.
"Cosplay itu memang kami wajibkan kepada mahasiswa ketika melakukan presentasi Tugas Akhir.
Tujuannya bukan sekadar unik atau mencari perhatian, tetapi menjadi bagian dari proses akademik agar mahasiswa tidak memiliki jarak dengan objek yang ditelitinya.
Dengan begitu mereka dapat lebih memahami, menginternalisasi, dan mengomunikasikan hasil penelitiannya secara lebih utuh," jelas Galih.
Menurutnya, sebagai disiplin ilmu yang berada pada irisan seni dan komunikasi, DKV mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya yang orisinal, kreatif, serta memiliki karakter yang kuat.
Mahasiswa diberikan kebebasan untuk berekspresi selama tetap sesuai dengan norma dan mampu mempertanggungjawabkan konsep yang diangkat secara akademik.
Meski demikian, Galih menegaskan bahwa penampilan bukanlah bagian dari indikator penilaian sidang Tugas Akhir.
Penilaian tetap berfokus pada kualitas proses bimbingan, kedalaman riset, laporan ilmiah, hasil perancangan, serta kemampuan mahasiswa mempertahankan karya di hadapan dosen penguji.
Fenomena viral tersebut pun terjadi di luar dugaan pihak Program Studi DKV Telkom University Purwokerto.
Berawal dari unggahan salah satu dosen penguji, Aditya Tama Isdiarto, S.Sn., M.Sn., melalui akun Threads @adit505 dengan caption bertuliskan "ujian dalam keadaan black metal", dokumentasi sidang Ragatama kemudian menarik perhatian warganet.
Menanggapi hal tersebut, Galih mengaku bersyukur karya mahasiswanya mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Menurutnya, viralnya sidang tersebut menjadi bukti bahwa pesan visual yang ingin disampaikan mahasiswa mampu diterima oleh publik.
"Kami tentu senang karena karya mahasiswa akhirnya mendapat perhatian masyarakat.
Artinya, upaya mahasiswa dalam mengomunikasikan objek risetnya berhasil tersampaikan kepada publik.
Ini menunjukkan bahwa komunikasi visual yang mereka bangun dapat diterima oleh audiens yang lebih luas," ujarnya.
Bagi Ragatama, memilih Band Santet sebagai objek Tugas Akhir bukan tanpa alasan.
Menurutnya, band black metal asal Banyumas tersebut memiliki nilai historis dan budaya yang layak didokumentasikan sebagai bagian dari perkembangan subkultur musik di Indonesia.
"Band Santet memiliki nilai historis dan budaya. Menurut saya, perjalanan mereka layak diangkat dalam sebuah dokumentasi," ujar Ragatama.
Untuk mendokumentasikan perjalanan tersebut, Raga memilih media buku komik dokumenter.
Ia mengaku memang memiliki ketertarikan pada media komik sehingga memilih format tersebut sebagai sarana menyampaikan hasil riset sekaligus memperkenalkan perjalanan Band Santet kepada masyarakat.
Dalam proses penyusunan Tugas Akhir, Raga menghabiskan waktu sekitar tiga bulan untuk melakukan riset, mulai dari observasi, pengumpulan data, hingga wawancara langsung dengan Band Santet.
Setelah proses penelitian selesai, ia melanjutkan tahap perancangan buku komik dokumenter yang dikerjakan selama kurang lebih dua bulan.
Saat menjalani sidang Tugas Akhir, Raga tampil mengenakan corpse paint, riasan wajah khas black metal yang identik dengan penampilan Band Santet di atas panggung.
Raga mengaku tidak pernah membayangkan respons publik akan sebesar itu. "Saya kaget dan enggak nyangka karena tiba-tiba ramai.
Rasanya seperti mimpi." Meski demikian, ia berharap masyarakat tidak hanya melihat penampilannya saat sidang, tetapi juga memahami proses riset, nilai budaya, dan pesan yang ingin disampaikan melalui karya yang telah ia rancang.
Di sisi lain, Galih berharap momentum tersebut tidak hanya membuat Program Studi DKV Telkom University Purwokerto semakin dikenal, tetapi juga memperkenalkan Banyumas sebagai daerah yang memiliki potensi kreativitas dan subkultur yang layak diapresiasi melalui karya-karya akademik.
"Harapannya DKV Telkom University Purwokerto semakin dikenal.
Begitu pula Banyumas sebagai daerah yang memiliki potensi kreativitas dan subkultur yang menarik untuk dikaji.
Semoga dari semakin dikenalnya DKV, akan lahir lebih banyak karya kreatif yang memberi manfaat bagi masyarakat," tutupnya.(***)