TRIBUNJATENG.COM, PADANG- Kontingen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menghadirkan pesan kuat tentang kesalehan sosial dan kepedulian lingkungan melalui film pendek "Sajadah di Atas Polusi" pada cabang lomba film pendek SeIBa International Festival (SIF) IV Tahun 2026 di UIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, Kamis (9/7/2026).
Film pendek "Sajadah di Atas Polusi" merupakan hasil kolaborasi empat mahasiswa Program Studi Informatika semester 6 UIN Saizu Purwokerto yang saling berbagi peran dalam proses produksi. Kharisma Hendi Mahardika bertindak sebagai sutradara, editor, sekaligus cameraman yang mengarahkan keseluruhan konsep visual dan alur cerita film.
Abid Zidan berperan sebagai Abid dan Imam Bukhori berperan sebagai Sumam, yang menghidupkan karakter dalam film sehingga pesan moral tentang kepedulian lingkungan dapat tersampaikan secara emosional kepada penonton. Sementara itu, Anas Syahrul Fatah bertanggung jawab sebagai perekam suara, memastikan kualitas audio dan dialog mampu memperkuat suasana dalam setiap adegan.
Kolaborasi keempat mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Informatika UIN Saizu tidak hanya memiliki kompetensi di bidang teknologi, tetapi juga mampu bekerja secara kreatif dan kolaboratif dalam menghasilkan karya sinematik yang mengangkat isu sosial, lingkungan, dan nilai-nilai keislaman.
Mengusung tema kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai keislaman, film tersebut mengajak penonton memaknai ibadah secara lebih luas, tidak hanya melalui ritual keagamaan, tetapi juga melalui tindakan nyata menjaga bumi sebagai amanah Tuhan.
Mahardika mengaku terinspirasi dari fenomena kehidupan masyarakat modern yang masih memisahkan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial. Melalui film "Sajadah di Atas Polusi", Mahardika mencoba menghadirkan refleksi bahwa menjaga kebersihan udara, mengurangi polusi, serta tidak merugikan kesehatan orang lain merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai keimanan.
Dia memilih media film pendek karena dinilai mampu menyampaikan pesan moral secara lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda. "Melalui film ini, saya ingin mengetuk hati penonton bahwa kesalehan ritual di dalam masjid tidak boleh terputus ketika kita melangkah keluar pintu," ujarnya.
Dijelaskan, bumi ini adalah hamparan sajadah yang suci, dan mengotorinya dengan polusi atau keegoisan pribadi sama saja dengan menodai tempat ibadah kita sendiri. "Ini adalah tanggung jawab moral kita sebagai manusia beriman sekaligus representasi insan Informatika yang peduli pada isu riil masyarakat," ujar Mahardika.
Film berdurasi singkat tersebut mengisahkan tokoh Sumam, seorang pria yang dikenal taat beribadah dan tidak pernah meninggalkan salat berjamaah. Namun di balik kesalehan ritualnya, Sumam memiliki kebiasaan buruk, yakni merokok saat mengendarai sepeda motor tanpa memedulikan dampaknya terhadap orang lain maupun lingkungan.
Sahabatnya, Abid, berkali-kali mengingatkan bahwa perilaku tersebut dapat membahayakan kesehatan orang lain dan memperburuk kualitas udara. Nasihat itu tidak pernah digubris hingga suatu hari Abid meninggal dunia akibat penyakit pernapasan kronis yang semakin memburuk.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik kehidupan Sumam. Ia mulai meninggalkan kebiasaan buruknya, memilih berjalan kaki menuju masjid, berhenti membuang puntung rokok sembarangan, serta berkomitmen menjaga lingkungan sebagai bentuk penghormatan terhadap sahabatnya.
Melalui alur cerita yang sederhana namun menyentuh, "Sajadah di Atas Polusi" menghadirkan tiga pesan utama. Pertama, ibadah tidak berhenti pada pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sosial yang membawa manfaat bagi sesama.
Kedua, film memperkenalkan konsep "Sajadah Bumi", yaitu pandangan bahwa seluruh alam merupakan ruang suci yang wajib dijaga kebersihan dan kelestariannya. Ketiga, film mengingatkan bahwa tindakan yang sering dianggap sepele, seperti merokok di ruang publik atau mencemari lingkungan, dapat menimbulkan dampak besar bagi kehidupan orang lain.
Pesan-pesan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan nilai keagamaan dengan isu lingkungan yang kini menjadi perhatian dunia. Keikutsertaan film pendek ini menunjukkan bahwa mahasiswa Informatika UIN Saizu tidak hanya menguasai bidang teknologi informasi, tetapi juga mampu memanfaatkan keterampilan multimedia untuk menghasilkan karya kreatif yang memiliki nilai edukasi dan kepedulian sosial.
Melalui perpaduan visual, alur cerita, dan pesan moral, Kharisma menghadirkan karya yang relevan dengan tantangan masyarakat masa kini, sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi dapat menjadi media dakwah dan edukasi lingkungan.
Partisipasi kontingen UIN Saizu dalam cabang film pendek melengkapi keikutsertaan mahasiswa pada berbagai kompetisi lain di SeIBa International Festival 2026, seperti tari tradisional, tari kontemporer, monolog, puisi, pop solo, MTQ, MSQ, poster, hingga karya ilmiah.
Festival yang berlangsung pada 7–12 Juli 2026 ini diikuti ratusan peserta dari puluhan perguruan tinggi dalam dan luar negeri sebagai ajang kolaborasi akademik, seni, dan budaya.
Melalui "Sajadah di Atas Polusi", kontingen UIN Saizu tidak hanya menampilkan kemampuan di bidang sinematografi, tetapi juga membawa pesan bahwa kesalehan sejati tercermin dalam kepedulian terhadap sesama manusia dan kelestarian lingkungan.
Karya tersebut menjadi wujud kontribusi mahasiswa UIN Saizu Purwokerto dalam menyuarakan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin melalui media kreatif di panggung internasional.(***)