Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda, Lampung, kembali mengalami erupsi pada Sabtu (11/7/2026) sore.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau yang berada di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, erupsi terjadi pada pukul 17.10 WIB.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno mengatakan letusan tersebut menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.
"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut," kata Suwarno dalam laporan tertulis yang disusun petugas pengamat Rioboniek Situmorang, Sabtu (11/7/2026).
Ia menjelaskan, aktivitas erupsi juga terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 49 milimeter dan durasi sekitar 65 detik.
Meski kembali mengalami erupsi, status aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berada pada Level III (Siaga).
Masyarakat, wisatawan maupun nelayan diimbau untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) selama status gunung masih berada pada Level III (Siaga).
Berdasarkan catatan, dalam periode 2-11 Juli 2026 GAK setidaknya sudah 18 kali mengalami erupsi.
Di antaranya, Kamis (2/7/2026), Jumat (3/7/2026), Sabtu (4/7/2026), dan Selasa (7/7/2026) masing-masing 1 kali erupsi.
Sedangkan pada Rabu (8/7/2026) yang terbanyak, yakni 7 kali erupsi.
Lalu, pada Kamis (9/7/2026) 2 kali erupsi.
Kemudian, pada Jumat (10/7/2026) 5 kali erupsi, dan terakhir Sabtu (11/7/2026) 1 kali erupsi
Sejauh ini, status GAK masih berada di level III (Siaga).
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno membenarkan hari ini ada erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Erupsi terjadi pada pukul 17.10 WIB," ujarnya, Sabtu (11/7/2026).
Ia mengatakan letusan tersebut menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.
"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut," kata Suwarno dalam laporan tertulis yang disusun petugas pengamat Rioboniek Situmorang, Sabtu (11/7/2026).
Ia menjelaskan, aktivitas erupsi juga terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 49 milimeter dan durasi sekitar 65 detik.
Meski kembali mengalami erupsi, status aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berada pada Level III (Siaga).
Masyarakat, wisatawan maupun nelayan diimbau untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) selama status gunung masih berada pada Level III (Siaga).
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 200 m di atas puncak kurang lebih 357 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 20 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 200 m di atas puncak kurang lebih 357 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga coklat dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah barat dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 65 mm dan durasi 32 detik.
Visual letusan tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi 25 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 100 m di atas puncak kurang lebih 257 m di atas permukaan laut Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 11 mm dan durasi 15 detik.
Rabu (8/7/2026) terjadi 7 kali erupsi.
Visual letusan tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi 40 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 250 m di atas puncak kurang lebih 407 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu, coklat hingga hitam dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 26.1 mm dan durasi 44 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 250 m di atas puncak kurang lebih 407 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 44.4 mm dan durasi 31 detik.
dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 100 m di atas puncak kurang lebih 257 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 35 mm dan durasi 40 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 200 m di atas puncak kurang lebih 357 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 49 mm dan durasi 27 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 100 m di atas puncak kurang lebih 257 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 45 mm dan durasi 13 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 200 m di atas puncak kurang lebih 357 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi 42 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 400 m di atas puncak kurang lebih 557 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 53 mm dan durasi 34 detik.
Jumat (10/7/2026) terjadi 4 kali erupsi
Dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal mengarah ke utara, timur laut, dan barat laut. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 55,2 milimeter dan berlangsung selama 33 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal juga bergerak ke arah utara, timur laut, dan barat laut. Berdasarkan hasil pemantauan Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, erupsi kedua terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 44,3 milimeter dan durasi 40 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 100 m di atas puncak kurang lebih 257 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal ke arah utara, timur laut dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 43 mm dan durasi 41 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 200 m di atas puncak kurang lebih 357 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal ke arah utara, timur laut dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 53 mm dan durasi 49 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 150 m di atas puncak kurang lebih 307 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah utara dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 49 mm dan durasi 27 detik.
Dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 200 m di atas puncak kurang lebih 357 m di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 49 mm dan durasi 65 detik.