Helikopter Sikorsky dan Super Puma Dikerahkan Padamkan Karhutla di Kalbar
Maudy Asri Gita Utami July 12, 2026 01:27 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui water bombing terus digencarkan di Kalimantan Barat. 

Hingga 10 Juli 2026, dua helikopter water bombing, yakni Sikorsky UH-60A dan Super Puma H225, telah menumpahkan total 2.296.000 liter air untuk membantu memadamkan api di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla.

Kepala Satgas Informasi Bencana BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan operasi udara tersebut menjadi bagian dari upaya pengendalian karhutla yang hingga kini masih mengancam sejumlah daerah di Kalbar.

Selain water bombing, patroli darat dan patroli udara juga terus dilakukan untuk mendeteksi titik api lebih awal serta mencegah kebakaran meluas.

"Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat masih menetapkan Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Asap akibat Karhutla yang berlaku sejak 2 Februari hingga 15 November 2026. Status siaga darurat juga masih berlaku di sejumlah kabupaten," kata Daniel, Sabtu, 11 Juli 2026.

Daniel menjelaskan, Satgas Udara mengerahkan pesawat Cessna Grand Caravan serta helikopter Bell 206, AS350 B3E, Sikorsky UH-60A, dan Super Puma H225 untuk melaksanakan patroli udara di wilayah Kubu Raya, Ketapang, Kayong Utara, Mempawah, Sambas, Bengkayang, Singkawang, Landak, Sanggau, dan Sekadau.

• Kisah Bocah Pontianak Rela Terjun ke Sungai Kapuas Demi Uang Lemparan Penumpang Kapal

Helikopter water bombing diterjunkan setelah titik api dipastikan melalui patroli udara dan laporan dari satgas darat.

"Hingga 10 Juli 2026, Helikopter Sikorsky UH-60A telah melaksanakan 396 kali water bombing dengan total 1.584.000 liter air. Sementara Helikopter Super Puma H225 telah melakukan 178 kali water bombing dengan total 712.000 liter air," ujarnya.

Ia mengatakan, hasil operasi darat pada 10 Juli 2026 menunjukkan kebakaran masih ditemukan di Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, Sambas, Bengkayang, dan Kota Singkawang.

Lokasi yang menjadi perhatian utama berada di Desa Sungai Putri, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.

Di wilayah tersebut, pemadaman telah memasuki hari ketiga dengan luas lahan terbakar sekitar 10 hektare. Kondisi lahan gambut yang masih berasap serta minimnya sumber air menjadi kendala utama yang dihadapi petugas.

Sementara itu, di Kabupaten Kubu Raya, patroli gabungan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api menemukan titik api di Kecamatan Rasau Jaya, tepatnya di Desa Rasau Jaya 3 dan Desa Rasau Jaya Umum.

Proses pemadaman masih berlangsung di beberapa titik karena sebagian lahan gambut masih mengeluarkan asap, meski sebagian area lainnya telah berhasil dipadamkan.

Berbeda dengan Rasau Jaya, hasil patroli di Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Kakap tidak menemukan adanya titik api maupun kebakaran hutan dan lahan.

Daniel menambahkan, kebakaran juga terpantau di Kabupaten Kayong Utara, tepatnya di Desa Pemangkat dan Desa Simpang Tiga, dengan total luas lahan terbakar lebih dari lima hektare.

Selain itu, lahan terbakar juga ditemukan di Kabupaten Sambas, Bengkayang, dan Kota Singkawang dengan luasan yang bervariasi. Sebagian besar berada di areal penggunaan lain (APL) yang didominasi vegetasi semak belukar dan kawasan perkebunan.

• Disdikbud Pontianak Ajak Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, Ini Tujuan GAMAS

Meski demikian, tidak seluruh hotspot yang terdeteksi merupakan kebakaran. Berdasarkan hasil ground check, hotspot di Kabupaten Sanggau dipastikan berasal dari area pabrik pengolahan PT ASP.

Sementara di Kabupaten Melawi, titik panas diduga berasal dari bias panas cerobong asap PT Samboja Inti Perkasa sehingga tidak ditemukan adanya areal yang terbakar.

"Operasi udara akan terus dilakukan sesuai hasil patroli dan laporan dari satgas darat. Kami juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas," ujar Daniel.

Ia menambahkan, BPBD Kalbar menginstruksikan seluruh satgas darat untuk terus meningkatkan patroli di wilayah rawan kebakaran. Seluruh unsur patroli udara juga tetap bersiaga dan menyesuaikan operasi berdasarkan perkembangan cuaca serta kondisi di lapangan. 

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.