TRIBUNNEWS.COM - Iran mengklaim berhasil meningkatkan kapasitas produksi drone hingga tiga kali lipat selama perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel tanpa mengalami gangguan berarti.
Klaim tersebut menjadi sinyal kesiapan Teheran memperkuat kemampuan militernya menghadapi potensi konflik berkepanjangan.
Sementara Washington terus meningkatkan tekanan militer dengan melancarkan serangan terhadap target-target Iran yang dinilai mengancam keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Baca juga: Diancam akan Dibunuh di Pemakaman Khamenei, Trump Beri Peringatan Keras ke Iran
Iran menyatakan industri pertahanannya tetap beroperasi normal di tengah perang dan bahkan mampu meningkatkan kapasitas produksi drone hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Penjabat Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Majid Ibn al-Reza, mengatakan seluruh proses produksi rudal, drone, dan berbagai peralatan pertahanan buatan dalam negeri berjalan tanpa hambatan selama konflik berlangsung.
Menurutnya, peningkatan kapasitas tersebut merupakan hasil investasi teknologi dan kesiapan industri pertahanan Iran yang telah dirancang untuk tetap beroperasi dalam kondisi perang.
Ia menegaskan kemampuan tersebut menjadi bukti kesiapan Iran menghadapi tekanan militer dari AS maupun Israel. Menurutnya, angkatan bersenjata Iran terus memperkuat kemampuan pertahanan dan daya tangkal dengan memanfaatkan pengalaman selama konflik.
Di sisi lain, Amerika Serikat terus meningkatkan operasi militernya terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan serangan baru terhadap sejumlah target Iran dengan tujuan melemahkan kemampuan Teheran mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
CENTCOM menyatakan langkah tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial dan awak sipil di kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump menyebut operasi terbaru sebagai bentuk pembalasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Trump juga mengancam akan melancarkan serangan yang lebih besar apabila Iran kembali melakukan aksi serupa.
"Jika itu terjadi lagi, dampaknya akan jauh lebih buruk," kata Trump.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik dengan Iran telah berakhir. Ia membuka kemungkinan serangan lanjutan terhadap berbagai infrastruktur strategis Iran.
Ketegangan kedua negara semakin meningkat setelah muncul seruan balas dendam di Iran menyusul kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam rangkaian prosesi pemakaman Khamenei, sejumlah pelayat membawa poster yang menyerukan pembunuhan terhadap Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menanggapi hal itu, Trump mengeluarkan peringatan keras melalui Truth Social. Ia mengancam akan mengerahkan kekuatan militer secara penuh apabila pemerintah Iran mencoba melaksanakan ancaman pembunuhan terhadap dirinya.
Trump menyatakan ribuan rudal Amerika Serikat telah siap diluncurkan ke Iran jika ada upaya pembunuhan terhadap Presiden AS yang sedang menjabat.
Pernyataan saling mengancam tersebut menunjukkan hubungan Washington dan Teheran masih berada dalam fase konfrontatif, di tengah upaya masing-masing pihak memperkuat posisi militer dan mempertahankan kepentingannya di kawasan Timur Tengah.
(TIME/ Press TV)