Mimpi Arema FC Women ke Final Kandas, Jacksen F Tiago Soroti Pentingnya Pembinaan Usia Dini
Wiwit Purwanto July 12, 2026 10:32 AM

 

SURYA.CO.ID – Langkah Arema FC Women sebagai wakil Jawa Timur pada babak semifinal Hydroplus Soccer League All-Stars 2025/2026 harus terhenti setelah tim U-15 dan U-18 sama-sama menelan kekalahan di Supersoccer Arena, Kudus, Sabtu (11/7/2026).

Kegagalan tersebut menjadi pukulan bagi wakil Malang Raya yang sebelumnya tampil menjanjikan sepanjang turnamen.

Meski mimpi menembus partai puncak sirna, perjuangan para pemain muda tetap memperlihatkan semangat dan daya juang tinggi di tengah semakin ketatnya persaingan sepak bola putri usia dini tingkat nasional. Pengalaman ini sekaligus menjadi bekal berharga untuk meningkatkan kualitas pembinaan pada musim berikutnya.

Arema FC Women U-15 lebih dulu tersingkir setelah kalah 1-2 dari Cipta Cendikia FA. Nasib serupa kemudian dialami tim U-18 yang harus mengakui keunggulan Putri Garut dengan skor tipis 0-1 dalam pertandingan yang berlangsung sengit.

Gol Tunggal Buyarkan Mimpi Arema FC Women

Laga Arema FC Women U-18 berlangsung seimbang sejak menit awal. Kedua tim saling menekan, tetapi rapatnya pertahanan membuat peluang berbahaya sulit tercipta.

Baca juga: Arema FC Women Juara Grup B U-18 dan Tantang Putri Garut di Semifinal Hydroplus Soccer League 

Gol semata wayang lahir dari pemain tengah Putri Garut, Nazwa Bilbina Putri. Bola panjang yang dilepaskannya gagal diantisipasi dengan sempurna oleh kiper Arema FC Women, Keysha Putri Dwi Arianti.

Keysha melakukan kesalahan saat mengantisipasi long ball tersebut. Bola yang menggelinding perlahan tanpa tekanan justru gagal diamankan hingga masuk ke gawang Arema FC Women dan menjadi satu-satunya gol yang menentukan hasil pertandingan.

Pelatih Arema FC Women, Dindin Wahyudin, mengaku tetap bangga terhadap perjuangan para pemainnya meski gagal membawa tim melaju ke partai final.

“Memang kami gagal melaju ke final, tapi saya mengapresiasi kerja keras semua pemain. Secara permainan mereka sudah main dengan baik. Kembali lagi, sepak bola berhubungan dengan rejeki dan memang belum rejeki Malang ke final. Semoga tahun depan rejekinya Malang,” kata Dindin Wahyudin, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Dindin, turnamen nasional tersebut memberikan pengalaman penting bagi timnya di tengah masih minimnya kompetisi sepak bola putri di Malang Raya maupun Jawa Timur.

“Hasil dari musim ini akan jadi bahan evaluasi bagaimana tim ini kedepan. Baik sisi kualitas pemain maupun pembianaanya yang kini tengah berjalan,” ujarnya.

Baca juga: 16 Tim Terbaik Berlaga di Hydroplus Soccer League All-Stars, Mimpi Menuju Timnas Putri Kian Dekat

Pemain Arema FC Women, Merisya Ika Hendrawan, mengungkapkan timnya sebenarnya sempat mampu menjalankan strategi yang telah disiapkan. Namun, komunikasi yang kurang maksimal membuat penyelesaian akhir tidak berjalan sesuai harapan.

“Sebetulnya komunikasi sempat berjalan dengan baik dan bahkan sempat intens menyerang, tapi karena kurang komunikasi jadinya gak berbuah gol. Kalau seandainya bisa fokus sedikit saja, mungkin ceritanya berbeda. Buat kami pertandingan tadi jadi pelajaran berharga untuk terus meningkatkan level permainan di masa mendatang,” tutur Merisya.

Jacksen F Tiago: Pembinaan Tak Bisa Bergantung pada Klub Profesional

Sementara itu, legenda Persebaya sekaligus talent scouting Hydroplus MilkLife Soccer Challenge (MLSC), Jacksen F Tiago, menilai masa depan sepak bola putri Indonesia bergantung pada kuatnya sistem pembinaan usia dini.

Meski optimistis terhadap perkembangan sepak bola putri di Surabaya, ia memilih tidak memberikan tanggapan mengenai peluang Persebaya membentuk tim sepak bola putri. Sebagai Direktur Akademi Borneo FC, ia menegaskan hal tersebut bukan menjadi kewenangannya.

Menurut Jacksen, pembinaan sepak bola putri tidak bisa hanya mengandalkan klub profesional. Kehadiran Sekolah Sepak Bola (SSB) dalam jumlah yang lebih banyak justru menjadi fondasi penting untuk mencetak pemain putri sejak usia dini.

Ia juga menegaskan Hydroplus MilkLife Soccer Challenge merupakan ajang pembinaan, bukan klub sepak bola. Karena itu, sekolah-sekolah di Surabaya diharapkan semakin aktif mengikuti kompetisi berjenjang agar lahir lebih banyak pemain putri berbakat.

Dengan ekosistem pembinaan yang semakin kuat, disertai publikasi yang lebih luas, Surabaya diyakini mampu melahirkan pemain-pemain berkualitas yang dapat bersaing hingga level tim nasional.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.