Misteri Penemuan Artefak hingga Rangka Manusia Purba di Kotabaru, Libatkan Peneliti dari Australia
Irfani Rahman July 12, 2026 10:49 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Setelah pemetaan awal pada 2018 lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali melanjutkan ekspedisi arkeologi di Kabupaten Kotabaru. 

Ada sejumlah titik yang dijadikan lokasi penelitian di gugusan karst Pegunungan Meratus ini.

Mulai dari tiga situs purbakala di Kecamatan Hampang, enam situs di Kecamatan Kelumpang Hulu, dan beberapa Goa yang ada di Kecamatan Kelumpang Barat. 

Penelitian ini bukan sekadar memantau kondisi situs-situs yang telah ditemukan sebelumnya, tetapi juga memperdalam kajian ilmiah untuk mengungkap lebih banyak fakta mengenai kehidupan manusia purba di kawasan karst Meratus.

Tim penelitian dipimpin para arkeolog BRIN, di antaranya Nia Marniati, Etie Fajari, Restu Budi Sulistiyo, dan Anton Ferdianto.

Mereka juga berkolaborasi dengan peneliti dari Australia. Masing-masing Christopher Clarkson dan Kasih Norman.

Baca juga: Ada Pelat Merah dalam Avanza Ringsek di Gunungraja, BPKAD Tanahlaut: Kendaraan Operasional Provinsi

Diungkapkan pemerhati budaya Kelumpang Hulu, Saijul Kurnain, awal penelitian bermula dari inisiatif masyarakat setempat melalui Lembaga Adat Kerajaan Kuno Kambatang Lima Cantung (LAK3C).

Pada 21 Oktober 2016, LAK3C mengirimkan surat resmi kepada Balai Arkeologi Nasional agar dilakukan penelitian terhadap sejumlah goa di wilayah Kelumpang Hulu yang diyakini menyimpan peninggalan sejarah.

"Lokasi pertama yang diteliti adalah Gua Batu Larung, kawasan bekas Kerajaan Cantung ke-5 di Desa Banua Lawas, Kecamatan Kelumpang Hulu," ungkap Saijul belum lama tadi.

Penelitian kemudian berlanjut dengan tahap ekskavasi pada 2022 dan terus berkembang hingga saat ini.

Upaya yang dilakukan para peneliti tidaklah mudah. Peneliti harus menembus hutan, mendaki tebing-tebing karst, menyusuri aliran sungai, hingga memasuki lorong goa yang selama ribuan tahun nyaris tidak tersentuh manusia.

Namun, setiap perjalanan itu membuahkan hasil yang cukup mencengangkan.

Dari berbagai situs yang telah diteliti, para arkeolog menemukan beragam artefak berupa alat batu, alat tulang, pecahan gerabah, cangkang kerang, hingga rangka manusia yang menjadi bukti keberadaan komunitas prasejarah di kawasan tersebut.

Temuan-temuan itu menunjukkan wilayah Kotabaru telah dihuni manusia sejak ribuan tahun lalu. 

Gua-gua di kawasan karst Pegunungan Meratus bukan hanya dimanfaatkan sebagai tempat berlindung, tetapi juga menjadi pusat aktivitas pemburu dan peramu, tempat pengolahan makanan, dan lokasi penguburan.

(Banjarmasinpost.co.id/MuhammadTabri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.