Pedagang Tempe di Pasar Bersehati Manado Jadi Korban, Dapati Uang Diduga Palsu, Mirip Kertas HVS
Handhika Dawangi July 12, 2026 02:51 PM

MANADO, TRIBUN - Kawasan Pasar Bersehati, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) diduga jadi tempat peredaran uang palsu. 

Praktik culas ini menyasar para pedagang yang beraktivitas pada subuh hari, saat kondisi pasar sedang ramai dan minim pencahayaan.

Salah satu pedagang yang mengaku jadi korban adalah Satrio Saputro (34), seorang pedagang grosir sekaligus distributor Tempe di Pasar Bersehati. 

Ia mengaku telah berulang kali menjadi korban penipuan modus (diduga) uang palsu ini dalam kurun waktu dua minggu terakhir.

"Dalam waktu dua minggu ini, total (diduga) uang palsu yang saya dapati mencapai Rp 400 ribu dengan pecahan uang seratus ribu," ujar Satrio kepada Tribun Manado, Minggu (12/7/2026).

Satrio membeberkan kronologi bagaimana (diduga) uang palsu tersebut bisa lolos ke tangannya. 

Sebagai distributor tempe, ia memulai rutinitas melayani pembeli pada Pukul 03.00 Wita hingga Pukul 06.00 Wita. 

Pada jam-jam krusial tersebut, situasi pasar sangat padat. Pembeli datang berdesakan (bakuruju), membuat pedagang fokus pada pelayanan cepat dan tidak sempat menyortir atau mengecek uang satu per satu.

"Pas orang beli tempe, saking banyaknya yang beli, uang yang kami terima langsung dimasukkan ke dalam tas. Nanti setelah sampai di rumah baru disortir, disitulah baru ketahuan ada (diduga) uang palsu," jelasnya.

Dari hasil analisanya, pelaku sengaja memanfaatkan waktu subuh yang masih gelap dan kondisi fisik pedagang yang lelah atau sibuk untuk melancarkan aksinya.

Transaksi pun dilakukan di hari yang berbeda-beda agar tidak mencurigakan.

Kemiripan dengan Kertas HVS

Secara fisik, Satrio menjelaskan bahwa (diduga) uang palsu pecahan Rp 100 ribu yang ia terima sangat mudah dikenali jika diperiksa secara teliti. 

Teksturnya terasa kasar dan kaku seperti kertas HVS, serta tidak memiliki fitur pengaman hologram yang semestinya ada pada uang asli.

"Cuma pas diterawang tidak ada hologramnya. Teksturnya sama dengan kertas HVS," keluhnya.

Akibat kejadian ini, Satrio dan kemungkinan pedagang lainnya harus menanggung kerugian materiil.

Ia mengkhawatirkan banyak pedagang lain di Pasar Bersehati yang juga menjadi korban namun belum menyadarinya.

Sebagai pedagang, Satrio berharap ada tindakan nyata dari pihak kepolisian dan Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter untuk memperketat pengawasan di area pasar tradisional.

"Kami sebagai masyarakat mengalami kerugian di mana (diduga) uang palsu ini tidak dapat ditukar di mana saja. Yang kami inginkan dari pihak berwenang dan dari Bank Indonesia bisa mengawasi dan menangani peredaran uang palsu di masyarakat saat ini, terutama di Pasar Bersehati," ujar dia. 

Pihak Bank Indonesia (BI) telah merespon terkait laporan warga ini dan sedang melakukan pengecekan di lapangan. (dik)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.