Lebong Tandai, Asal-usul Emas yang Melapisi Lidah Api di Pucuk Monumen Nasional
Moh. Habib Asyhad July 12, 2026 03:34 PM

Penambangan emas Lebong Tandai, Bengkulu Utara. Dari situlah asal-usul emas yang menghiasi keindahan Monumen Nasional yang kita banggakan itu.

Penulis:Ingki Rinaldi di Bengkulu | Tayang di Majalah Intisari edisi Agustus 2002 dengan judul "Lebong Tandai Menyumbang Emas Puncak Monas"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -12 Juli 1975, Monumen Nasional alias Monas secara resmi dibuka untuk umum untuk pertama kali pada 12 Juli 1975. Artinya, itu 14 tahun setelah pembangunan pertama.

Tak banyak yang tahu dari mana asal-usul emas tersebut. Yang banyak beredar adalah bahwa 28 kg-nya berasal dari sumbangan pengusaha Aceh Teuku Markam, tapi kita tahu tahu dari mana yang sebagian besarnya.

Yap, emas Monas berasal dari tambang emas Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara. Beberapa tahun yang lalu, Intisari pernah berkunjung ke sana. Kunjungan ini terjadi pada 2002 lalu lewat seorang penulis tinggal di Bengkulu.

---

Selain punya mantan Ibu Negara yang menjahit bendera pusaka, Ibu Fatmawati, Bengkulu juga memiliki andil dalam menyumbang sejumlah emas untuk puncak Tugu Monas. Lebong Tandai, tempat emas itu berasal, pun menyimpan potensi wisata yang menjanjikan.

Gara-gara rusaknya kapal laut satu-satunya yang akan membawa Intisari mengarungi Samudera Hindia, gagallah rencana melakukan penelitian di sebuah pulau terpencil. Akhirnya, kami mengubah tujuan ke Desa Lebong Tandai di Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara.

Desa pada ketinggian sekitar 500 m dari muka laut itu memiliki potensi luar biasa untuk menjadi daerah wisata alam. Faktanya, dulu daerah itu merupakan tambang emas sangat besar, yang hingga kini masih diusahakan secara tradisional.

Untuk menuju Lebong Tandai Intisari transit di Desa Napal Putih. Perjalanan darat selama sekitar tiga jam ditempuh dengan kendaraan angkutan berupa minibus yang berangkat pada siang hari.

Perjalanan menyisir pantai dengan pemandangan indahnya terasa melenakan.

Kami menginap di Napal Putih dengan suatu pertimbangan. Perjalanan pagi menuju Lebong Tandai memungkinkan kami menikmati pemandangan eksotis daerah itu.

Selain itu, konon di seberang Desa Napal Putih, yang dipisahkan oleh Sungai Ketahun, terdapat situs purbakala Makam Mahapatih Gajah Mada, berupa gundukan serupa bukit kecil.

Alkisah, dulu para hulubalang Majapahit pernah mendirikan sebuah kesultanan di sekitar wilayah itu. Tempat itu pun dipercaya bisa mendatangkan kesembuhan bagi masyarakat yang sakit.

Di Desa Napal Putih juga terdapat rumah kuno peninggalan pesirah, penguasa tertinggi suatu wilayah di Bengkulu zaman dahulu. Rumah itu terpelihara dengan baik hingga kini.

Lebih banyak turun daripada naik

Dari Napal Putih perjalanan dilanjutkan dengan lodis (lokomotif diesel) dengan dua jadwal keberangkatan, pukul 07.00 dan 18.00 WIB. Lokomotif satu-satunya yang melayani jalur ini hanya terdiri atas loko, satu gerbong penumpang, dan satu rangkaian pengangkut barang.

Lodis—lebih pas disebut lori karena mininya—dikelola secara mandiri oleh masyarakat sekitarnya. Lori ini telah mengalami modifikasi dari yang dulunya menggunakan batubara atau kayu untuk menghasilkan tenaga uap, menjadi berbahan bakar solar.

Yang pasti, penumpang lodis diminta sabar, karena di perjalanan kita akan lebih sering “turun" daripada “naik” lori.

Perjalanan menembus hutan belantara bervegetasi cukup rapat. Hambatan di tengah jalan biasanya berupa pohon-pohon besar yang tumbang atau jembatan tua, yang harus dilalui dengan beban minimum.

Pada keadaan demikian tampak nyata semangat gotong-royong penumpang, semua turun untuk menyingkirkan alangan yang melintang. Bahkan tak jarang setiap orang memanggul barang masing-masing untuk melewati jembatan tua.

Perjalanan menyusuri liukan Sungai Ketahun diiringi berbagai suara asli alam melarutkan pikiran hanyut ke zaman nenek moyang dulu. Penuh romansa disinari temaram cahaya mentari yang meredup dan perlahan menjelma lembutnya sinar bulan.

Sesuai anjuran, kami berangkat menggunakan lodis trip pagi hari, dengan tujuan mereguk habis pemandangan cantik. Perjalanan malam kami lakukan saat kembali dari Desa Lebong Tandai beberapa hari berikutnya.

Mendekati Lebong Tandai kami masih melewati tiga terowongan. Dari yang cuma 60 m hingga yang sekitar 300 m panjangnya. Tiga terowongan itu berupa bebatuan alam yang ditembus untuk rel lori kala itu.

Lampu lodis dinyalakan ketika melewati terowongan. Kita bisa menyentuh dinding terowongan yang kasar dan lembab, karena ketika menerobos terowongan, lodis tidak pernah lebih cepat daripada orang berjoging.

Emas di Monas

Begitu masuk wilayah Desa Lebong Tandai, kita langsung "disambut" oleh suasana khas daerah pertambangan. Pada sisi kanan rel berjajar rumah penduduk yang dimanfaatkan sebagai warung yang menjual berbagai barang kebutuhan—yang umum umumnya relatif mahal.

Maklum, mengingat akses menuju tempat itu sangat terbatas, hanya naik lodis atau berjalan kaki. Sementara di sisi kiri tampak jernihnya aliran Sungai Air Lusang.

Hampir seluruh penduduk menempati rumah, baik yang dibangun pada masa Belanda maupun yang ditinggalkan PT Lusang Mining. Penduduk menempati begitu saja rumah-rumah itu, meski tampak juga beberapa yang kosong tak berpenghuni sehingga terkesan kumuh.

Sekitar 70 kepala keluarga yang sangat mengandalkan penghidupan dari pertambangan membuat desa ini menjadi hidup.

Desa Lebong Tandai dikelilingi oleh kawasan perbukitan, berbatasan dengan Bukit Husin di selatan dan Lebong Baharu di utara. Sungai Air Lusang membelah desa menjadi dua wilayah.

Keduanya dihubungkan oleh satu jembatan gantung, satu jembatan lori peninggalan Belanda. Serta sebuah jembatan peninggalan perusahaan pertambangan.

Sejarah desa bermula sejak 1900-an dengan datangnya sejumlah orang Hindu dari suku Rio untuk bermukim. Ketika mencari makanan berupa umbi-umbian, mereka justru menemukan kerikil-kerikil berkilauan di rimba Air Nuar.

Selanjutnya, mereka bekerja keras mendapatkan lebih banyak lagi "kerikil berkilauan" itu. Mereka membuat alat sederhana, dari batu besar serupa muntu (ulekan bumbu), untuk memisahkan kandungan emas dalam kerikil.

Nama Lebong Tandai pun mulai tersebar sebagai tambang emas.

Sepuluh tahun kemudian mulai dilakukan eksploitasi yang melibatkan tiga negara—Belanda, Inggris, dan Jerman. Belanda dengan lori andalan sebagai sarana transportasi kala itu bertahan lebih lama dibandingkan dengan Inggris dan Jerman yang hanya mengandalkan kuda.

Sejak era kemerdekaan, tambang itu kembali dikelola warga setempat. Saat pemerintahan Sukarno, masyarakat setempat menyumbangkan sebanyak 36 kg emas untuk diletakkan di Monumen Nasional (Monas) di Jakarta.

Kini penambangan tradisional itu masih berlangsung, sepeninggal PT Lusang Mining yang dinyatakan bangkrut tahun 1992.

Di mana-mana air

Curah hujan yang cukup tinggi dan merata membuat tanah Lebong Tandai cukup subur. Air berlimpah dimanfaatkan penduduk untuk memutar alat sederhana pemisah emas dari bebatuan.

Besarnya aliran air juga digunakan untuk memutar turbin pembangkit tenaga listrik. Tak heran, meski berada di tengah belantara, pasokan listrik dijamin aman sepanjang tahun.

Selama 24 jam air mengucur dari arah perbukitan ke dalam bak penampungan di balai desa, tempat kami numpang menginap, untuk selanjutnya mengalir ke sungai—tempat warga mendulang emas.

Kompleks pertambangan itu juga memiliki beberapa bangunan penunjang. Tersedia mulai masjid, bangunan besar dengan beberapa kamar, pusat hiburan berupa sarana olahraga bola sodok dan satu set peralatan musik.

Bahkan, “kompleks” olahraga untuk bermain basket dan bulutangkis pun ada.

Bagi yang bukan perokok tapi ingin merasakan sensasi bernapas dengan mengeluarkan asap, di sinilah tempatnya. Topografi dan kontur tanah yang naik-turun menghadirkan udara sejuk luar biasa.

Tak heran apabila sedang berbicara, terkadang asap tipis tampak keluar dari rongga mulut kita.

Banyak objek wisata alam di wilayah itu. Selain hutan hujan tropis nan mempesona, terdapat pula situs purbakala peninggalan masyarakat Hindu, pemandian alam di Sungai Air Lusang, bendungan, air terjun, proses pengolahan secara tradisional batu tambang menjadi emas murni, dan gua-gua penambangan emas peninggalan Belanda di tiga lokasi yakni Lebong Tandai, Air Nuar, dan Karang Sulur.

Tak sembarangan lepas pegangan

Tidak sah rasanya ke Lebong Tandai tapi belum menyusuri gua-guanya di perbukitan. Kami berencana menyusuri gua utama yang menghubungkan Lebong Tandai dengan Air Nuar sepanjang kira-kira 5 km.

Kemudian diteruskan dengan menaiki 16 tangga peninggalan Belanda dengan ketinggian rata-rata 6 m setiap tangga, untuk keluar melalui gua lain di balik gunung.

Yang menjadi tantangan utama adalah kondisi tangga yang sangat rapuh dan licin karena terus-menerus dibasahi tetesan air dari atas lubang. Selain itu, sejumlah lubang dalam menganga di kanan-kiri setiap perhentian antartangga.

Tempat perhentian itu hanya berupa jalinan beton selebar 30 cm, tanpa sekat pengaman!

Berbekal senter berbahan bakar karbit—mengingat karbit tidak mengeluarkan asap – dan senter berbaterai kami mulai memasuki mulut gua yang tingginya pas-pasan. Tak ada stalaktit dan stalakmit, yang ada hanya pemandangan gelap disertai lalu-lalang orang yang mengangkut batu tambang dengan lori rancangan sendiri melalui rel peninggalan Belanda.

Sebenarnya, lintasan rel lori memiliki parit di sisi kanan-kirinya untuk mengalirkan keluar tetesan air, agar jalur rel tetap kering sehingga aman dilewati dan rel tetap awet. Agar air bisa keluar, Belanda punya "kebijakan kemiringan" dalam gua, yakni setiap jarak 10 m, kemiringan ditambah sekitar lima derajat. Kini parit-parit itu masih ada, tetapi sudah tertutup genangan air.

Ada begitu banyak percabangan dalam gua.

“Jangan dilepas kalau belum dipegang,” menjadi amat sering kami teriakkan selama berusaha mencapai Air Nuar di balik gunung. Maksudnya, jangan melepaskan pegangan pada tangga sebelum meraih tangga berikutnya.

Sesampai di Desa Air Nuar yang penduduknya sedikit, kami dibawa ke sebuah waning! Di warung sudah menanti hiburan video musik dangdut dari cakram VCD.

Memang kaya air

Jalan memutar melalui hutan hujan tropis menjadi pilihan saat kembali ke Lebong Tandai. Tidak hanya lebih jauh, alangannya pun tidak lebih ringan dibanding "gua maut" sebelumnya.

Tanjakan dan turunan dengan sudut elevasi nyaris sembilan puluh derajat harus dilewati beberapa kali. Kondisi ini menguji kemampuan kami menjaga keseimbangan.

Hadirnya kicauan burung dan suara alam lainnya membuat kami sedikit terhibur, dan tidak terlalu tegang menjalaninya. Ujung-ujungnya, hanya keceriaan yang kami rasakan sepanjang perjalanan.

Air pemandian alam di cekungan Sungai Air Lusang dengan luas sekitar 60 mz dan kedalaman sekitar 8 m menyegarkan tubuh. Bahkan sekadar duduk-duduk di pinggir sungai dengan bebatuan alam yang dialiri air jernih pun mampu menjernihkan pikiran.

Bicara soal air di Lebong Tandai, jangan lupa menikmati sensasi Air Terjun Kelumbuk dengan pemandangan air jatuhnya yang benar-benar menampilkan atraksi mempesona. Atau bendungan yang cukup luas dengan air melimpah dapat dicapai setelah melalui lintasan hutan hujan tropis yang eksotis.

Sebagai cinderamata, beberapa teman saya membawa pulang bebatuan yang mengandung emas dengan urat-urat emas tergambar jelas di permukaan batu. Kami sendiri cukup puas membawa kenangan tak terlupakan dan rasa takjub akan ciptaan Sang Penguasa Alam. a (Ingki Rinaldi di Bengkulu)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.