Gelombang Belum Stabil, Nelayan Tarakan Pilih Tunda Melaut dan Perbaiki Kapal
Amiruddin July 12, 2026 04:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Gegara gelombang laut yang dianggap belum stabil, nelayan di Tarakan memilih tunda melaut dan memperbaiki kapal

Aktivitas melaut nelayan tradisional di kawasan pesisir Kota Tarakan, Kalimantan Utara, belum sepenuhnya kembali normal. 

Kondisi gelombang yang masih berubah-ubah, membuat sebagian nelayan memilih menunda melaut, dan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki kapal, maupun peralatan tangkap.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Provinsi Kalimantan Utara ( Kaltara ), Rustan, mengatakan situasi tersebut memang lazim terjadi ketika kondisi cuaca di perairan belum benar-benar stabil. 

Meski tinggi gelombang di beberapa lokasi tidak selalu besar, nelayan tetap mengedepankan faktor keselamatan saat memutuskan berlayar.

Menurut Rustan, sebagian nelayan sebenarnya sempat turun melaut dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga: BMKG Tarakan Beri Peringatan Gelombang Tinggi, Berisiko Bagi Nelayan yang Melaut di Perairan Kaltara

 

Namun, aktivitas itu belum berlangsung secara maksimal, karena gelombang di sejumlah wilayah penangkapan masih cukup tinggi.

"Memang lagi tidak melaut.

Istirahat dulu.

Kemarin-kemarin sempat melaut," ujarnya.

Ia menjelaskan, tinggi gelombang yang dihadapi nelayan tidak selalu sama setiap hari.

Berdasarkan pengalaman para nelayan, gelombang di lokasi penangkapan bisa berada di atas satu meter, meski kondisi tersebut bergantung pada wilayah yang dituju.

"Tidak tentu juga.

Paling tinggi dia paling 1 meter lebih," katanya.

Rustan menambahkan, informasi prakiraan cuaca juga menjadi pertimbangan penting sebelum nelayan memutuskan berangkat.

Berdasarkan informasi yang diterima nelayan dari BMKG, tinggi gelombang di sejumlah perairan bahkan diperkirakan dapat mencapai dua meter.

"Karena dari BMKG katanya bisa sampai 2 meter kemarin katanya," ucapnya.

Ia menerangkan, kondisi gelombang yang lebih tinggi itu umumnya terjadi di perairan sebelah timur Tarakan atau di luar kawasan Juata Laut.

Wilayah tersebut merupakan salah satu daerah yang kerap menjadi lokasi penangkapan ikan oleh nelayan tradisional.

Rustan mengungkapkan, ketika gelombang meninggi, hasil tangkapan nelayan hampir dipastikan mengalami penurunan.

Penyebab utamanya bukan karena ikan menghilang, melainkan karena banyak kapal yang memilih tidak beroperasi demi menghindari risiko di laut.

Ia menegaskan, saat gelombang sedang tinggi, nelayan lebih memilih menghentikan aktivitas penangkapan.

Baca juga: Wali Kota Tarakan Hadiri Puncak PENAS XVII di Gorontalo, Kirim 14 Petani dan Nelayan Berprestasi

 

Kapal biasanya hanya berada dalam posisi berlabuh, sambil menunggu kondisi laut kembali lebih tenang.

Setelah kondisi gelombang mulai mereda, para nelayan baru kembali melanjutkan aktivitas mencari ikan.

"Nanti agak rendah baru kerja lagi," ujarnya.

Selama tidak melaut, waktu yang ada dimanfaatkan untuk melakukan perawatan armada maupun alat tangkap.

Menurut Rustan, pekerjaan tersebut penting agar kapal dan perlengkapan tetap siap digunakan ketika cuaca kembali mendukung.

"Ini membetulkan kapal.

Membetulkan peralatan rawai.

Biasa pakai rawai," katanya.

Ia menjelaskan, nelayan di wilayah tersebut menangkap beragam jenis ikan sesuai musim.

Beberapa di antaranya adalah ikan maluk dan ikan arut, yang menjadi hasil tangkapan rutin nelayan setempat.

Untuk melaut, sebagian besar nelayan menggunakan kapal berukuran sekitar 6 Gross Tonnage (GT).

Ukuran tersebut dinilai cukup untuk menjangkau wilayah penangkapan di sekitar perairan Tarakan.

Meski produksi ikan berkurang ketika cuaca buruk, Rustan menilai kondisi tersebut tidak terlalu berdampak terhadap harga ikan.

Sebab, sebagian besar hasil tangkapan nelayan sudah memiliki jalur pemasaran tersendiri, melalui pengepul untuk kebutuhan ekspor.

"Kita sih ikannya ekspor.

Ada pengepul.

Ada juga untuk di pasar, cuma tidak terlalu banyak dijual di pasar," ujarnya.

Karena itu, menurutnya, fluktuasi hasil tangkapan akibat cuaca belum memberikan pengaruh signifikan terhadap harga jual.

"Kalau harga tidak ngaruh juga sih.

Tetap saja dia," pungkasnya.

 (*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.