Detik-Detik Api Lalap Gedung SMPN 2 Bunga Mayang saat Guru Rapat MPLS, Dipicu Konsleting Listrik
Moch Krisna July 12, 2026 05:01 PM

 





TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA -
Dugaan korsleting listrik menjadi penyebab utama kebakaran yang menghanguskan satu gedung berisi tiga ruang kelas di SMP Negeri 2 Bunga Mayang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sabtu (11/7/2026) sore.

Peristiwa tersebut kini menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) OKU Timur yang berencana memprioritaskan revitalisasi instalasi listrik di sekolah-sekolah yang telah berusia tua.

Kebakaran terjadi sekitar pukul 14.45 WIB. Kobaran api melalap satu bangunan yang terdiri atas tiga ruang belajar. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan OKU Timur, Ir. H. Dodi Purnama, S.T., M.M., mengatakan hasil pengamatan awal menunjukkan sumber api diduga berasal dari korsleting listrik.

"Beberapa hal yang dapat kami pastikan berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, kebakaran gedung tiga ruang belajar ini diduga kuat dipicu oleh korsleting listrik. Hal itu diperkuat dari keterangan para saksi yang melihat api pertama kali muncul dari bagian atas bangunan, tepatnya di area instalasi listrik pada atap gedung," ujarnya kepada jurnalis Tribunsumsel.com, Minggu (12/7/2026) siang.

Meski penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut, Dodi menyebut indikasi awal mengarah pada gangguan instalasi listrik yang sudah berusia lama.

Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi evaluasi penting bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan pembenahan terhadap instalasi kelistrikan di sekolah-sekolah, khususnya bangunan yang telah digunakan selama puluhan tahun.

"Kejadian ini menjadi pelajaran bagi kami. Ke depan kami akan berkoordinasi dengan pimpinan agar revitalisasi instalasi listrik di sekolah-sekolah yang sudah tua dapat dianggarkan secara bertahap. Peremajaan instalasi listrik bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi sudah menjadi kewajiban agar risiko kebakaran akibat korsleting dapat diminimalkan," katanya.

Selain itu, Disdikbud juga akan mendorong setiap sekolah memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi apabila terjadi kebakaran pada tahap awal.

"Atas arahan pimpinan, setiap sekolah diharapkan memiliki APAR sehingga ketika muncul api dalam skala kecil dapat segera dipadamkan sebelum membesar. Kami juga mengimbau seluruh sekolah menjaga kebersihan lingkungan, termasuk tidak membiarkan sampah menumpuk yang dapat memperbesar risiko kebakaran," tambahnya.

Dodi menjelaskan, hasil pemeriksaan tim teknis menunjukkan bangunan yang terbakar mengalami kerusakan kategori sedang dengan tingkat kerusakan diperkirakan berkisar 35 hingga 45 persen.

"Struktur utama bangunan masih cukup baik. Fondasi dan dinding masih layak digunakan. Yang mengalami kerusakan berat adalah bagian kusen, plafon, rangka, serta penutup atap yang sudah terbakar sehingga tidak dapat digunakan kembali," jelasnya.

Ia menambahkan, bangunan tersebut telah diusulkan menjadi prioritas revitalisasi pada tahun 2027 melalui pendanaan APBN.

"Apabila memungkinkan, pemerintah daerah juga akan mengupayakan dukungan anggaran melalui APBD agar proses perbaikan dapat dilakukan lebih cepat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 2 Bunga Mayang, Windaria Prabuyana, menuturkan kobaran api pertama kali terlihat berasal dari bagian atas atap gedung sebelum kemudian membesar dengan cepat.

"Api mulai terlihat dari bagian atas atap gedung sekitar pukul 14.00 WIB. Guru dan beberapa siswa yang berada di sekolah melihat titik api berasal dari atas bangunan sehingga dugaan sementara memang mengarah pada korsleting listrik," katanya.

Saat kejadian, kata Windaria, pihak sekolah tengah menggelar rapat persiapan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bersama para guru.

Sejumlah siswa juga berada di sekolah untuk membantu kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan menjelang tahun ajaran baru.

Beruntung, seluruh guru, siswa, dan warga sekolah berhasil menyelamatkan diri sehingga tidak ada korban jiwa.

Ia mengungkapkan, kebakaran menghanguskan satu gedung yang terdiri atas tiga ruang kelas. Namun proses belajar mengajar tidak akan terganggu karena sekolah masih memiliki ruang belajar lain yang dapat dimanfaatkan.

"Pelaksanaan MPLS pada hari Senin tetap berjalan sesuai jadwal. Begitu juga kegiatan belajar mengajar nantinya akan menggunakan ruang kelas lain yang masih tersedia sehingga aktivitas pendidikan tetap berlangsung normal," ujarnya.

Windaria juga mengapresiasi kepedulian para siswa yang secara spontan membantu menyelamatkan berbagai perlengkapan sekolah saat kebakaran terjadi.

"Anak-anak berinisiatif mengevakuasi meja, kursi, dokumen, serta berbagai peralatan dari gedung di sekitar lokasi kebakaran agar tidak ikut terbakar. Kepedulian mereka sangat membantu mengurangi kerugian yang lebih besar," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.