MPLS 2026 di Solo, Orang Tua Siswa Lega Tak Ada Tugas dan Atribut Aneh-Aneh dari Sekolah
Ryantono Puji Santoso July 12, 2026 04:15 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sejumlah orang tua siswa mengapresiasi pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Solo yang sudah tidak menerapkan perpeloncoan.

Kegiatan ini lebih berfokus pada pengenalan lingkungan sekolah baru di mana siswa perlu beradaptasi.

Salah satu orang tua siswa, Larasati, mengaku tidak ada arahan dari sekolah untuk membuat atribut aneh-aneh. Putranya yang diterima di SDN 15 Mangkubumen Lor diminta membawa perlengkapan sewajarnya.

“Enggak ada arahan suruh apa-apa itu enggak ada. Terus ada anjuran dari sekolah untuk orang tua mengantarkan langsung ke sekolahan. Enggak ada (membuat atribut aneh-aneh). Cuma disuruh bawa ini alat tulis. Siswa enggak disuruh bawa ini itu kayak perpeloncoan itu enggak,” ungkapnya saat dihubungi Minggu (12/7/2026).

Pihak sekolah juga memberikan imbauan dalam rangka Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS).

Namun, gerakan ini tidak bersifat wajib.

“Pertama kali masuk SD aku juga memaklumi ya, bagi yang bisa bagus, kalau enggak bisa ya enggak apa-apa,” jelasnya.

Selama MPLS berlangsung, sejumlah materi akan disampaikan kepada siswa.

Materi ini berkaitan dengan pembentukan karakter hingga kemampuan menangani kondisi darurat.

“Nanti ada pelatihan dari damkar, ada pelatihan dari BPBD, terus pelatihan bermedia sosial kayak gitu. Terus perkenalan guru, terus lingkungan sekolah gitu,” tuturnya.

Orang tua siswa Pangarso Yuli Atmoko juga ikut mengapresiasi langkah pemerintah ini.

Ia bersyukur MPLS kali ini tidak ada kegiatan yang kontraproduktif dengan pendidikan.

“Jadi kalau tanggapan saya sampai sekarang itu bagus ya, jadi tidak ada perpeloncoan, tidak ada bullying dan juga tidak ada tugas-tugas yang memberatkan. Jadi semua materi yang diberikan juga dalam rangka untuk mengenal program sekolah untuk siswa baru sehingga nanti mereka masuk itu sudah paham apa yang harus mereka lakukan begitu,” jelasnya.

Putranya yang diterima di SMPN 3 Surakarta tidak menyiapkan atribut-atribut yang memberatkan.

Semua perlengkapan merupakan perlengkapan yang wajar diperlukan di lingkungan pendidikan.

“Kalau kaitannya dengan persiapan khusus, barang dan sebagainya tidak ada. Jadi kalau untuk seragam masuk menggunakan seragam yang SD. Kemudian kalau untuk perlengkapan anak-anak ya hanya bawa alat tulis, kemudian membawa alat ibadah karena nanti kan ada pembiasaan di siang hari, hanya seperti itu,” jelasnya.

Menurutnya, juga tidak ada aturan ketat yang memberatkan.

Ada Kelonggaran Seragam

Bahkan untuk seragam saja masih ada kelonggaran karena kebanyakan belum memiliki seragam baru.

“Seragam SD kalau sudah tidak muat boleh menggunakan seragam baru SMP-nya atau boleh juga menggunakan baju yang bebas rapi gitu,” tuturnya.

Materi yang disampaikan juga cukup positif.

Mulai dari pengenalan visi misi sekolah hingga menghindari penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya).

“Selama satu mingguan 5 hari ya kegiatannya MPLS itu kan 5 hari jadi untuk kegiatannya seperti yang ada di panduan MPLS itu ada kegiatan yang nanti kaitannya dengan misalnya pengenalan visi misi sekolah, kemudian nanti ada pembinaan ideologi Pancasila seperti itu. Kemudian juga nanti ada pembiasaan ya karakter, kemudian 7 kebiasaan anak-anak Indonesia hebat. Kemudian juga ada kesadaran bela negara, tentang isu Napza, dan sebagainya,” jelasnya.

Ia berharap putranya bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, baik akademik maupun non-akademik.

“Harapan saya orang tua ya, jadi kegiatan MPLS ini memang bisa dimaksimalkan ya mengenalkan terkait dengan lingkungan sekolah, budaya, karakter, dan juga kaitannya dengan akademik maupun non-akademik yang ada di sekolah. Sehingga nanti ketika murid-murid masuk setelah MPLS mereka benar-benar siap menghadapi lingkungan yang barunya,” tuturnya.

Salah satu siswa baru, Tanaya Hara Maheswari Saputra yang diterima di SMAN 4 Surakarta, juga mengaku tidak disuruh membuat atribut aneh-aneh.

Selain seragam sekolah, ia hanya diminta membuat tanda pengenal dan co card.

“Sekarang enggak ada sih batik aja sekarang kayaknya udah enggak ada kayak kalau di SMAN 4 itu. Nanti MPLS itu juga sudah enggak ada ini kayak perpeloncoan gitu enggak ada juga. Ada bikin name tag sama co card. Pakai kertas biasa habis itu dilaminating,” jelasnya.

Baca juga: Alasan Sekolah di Sukoharjo Tak Boleh Libatkan Alumni Saat MPLS, Khawatir Melanggar Aturan

Pihak sekolah juga sudah memberikan informasi secara detail mengenai apa saja yang perlu dipersiapkan.

Termasuk menjaga kebugaran tubuh dengan meminta siswa membawa makanan hingga minuman.

“Minggu sebelumnya itu udah disuruh nyiapin sama nyicil dan memastikan. Kalau semua barang kayak alat tulis, seragam, buku, dan lain-lain itu harus sudah disiapkan. Jaga fisik dan kesehatan supaya pas MPLS itu tetap fit sama fokus mengikuti rangkaian acara dari pagi sampai sore. Karena kalau SMA kan memang pulangnya sudah agak sorean. Biasanya pas MPLS tuh kan istirahatnya cuma sebentar dan kantinnya biasanya tutup sih jadi suruh bawa bekal sendiri gitu,” tuturnya.

Ia pun tak sabar mengikuti kegiatan MPLS yang menurutnya akan menyenangkan.

Ia hanya perlu berangkat pagi agar bisa mengikuti semua rangkaian kegiatan dengan baik.

“Menurutku ini bakalan seru MPLS-nya soalnya kegiatan misal ada kayak parade dari sekolah terus acara dari ekstrakurikuler. Berangkatnya juga pasti disuruhnya pagi sebelum pukul 07.00 itu sudah harus datang di sekolah. Apalagi hari pertama nanti bakal ada upacara, jadi pasti berangkatnya harus lebih pagi lagi,” jelasnya.

Setelah MPLS selesai, ia ingin aktif di sejumlah kegiatan, termasuk English Club.

“Aku mau jadi murid yang aktif di sekolah, terus memperluas relasi, banyakin teman, banyakin ikut lomba. Pokoknya banyakin pengalaman gitu. Kalau sejauh ini sih aku tertariknya aktif sama ekstrakurikuler English Club karena aku suka sama mata pelajaran Bahasa Inggris,” terangnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.