SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Suasana Alun-alun Merdeka Kota Malang terlihat ramai di akhir pekan, Minggu (12/7/2026).
Orang tua mengajak anak-anak mereka bermain di Alun-alun Merdeka.
Ada yang duduk berkumpul di rumput hijau. Suasananya semakin menyenangkan karena pohon meneduhkan cuaca panas pada Minggu siang.
Angin sepoi sesekali datang menyejukkan. Beberapa anak bermain di taman bermain anak.
Di seberang jalan sebelah selatan, tepatnya di Jalan Merdeka Selatan, para Pedagang Kaki Lima (PKL) berjejer.
Mereka terlihat sibuk melayani pelanggan yang datang silih berganti. Beberapa tempat bahkan ada antrean pelanggan.
Ada yang jualan bakso, jagung manis, cilok, roti, minuman ringan, soto ayam, dan beberapa menu lainnya.
Di depan para pedagang kaki lima, jajaran sepeda motor ditata oleh juru parkir.
Sejak beberapa bulan terakhir ini, para pedagang kaki lima menempati lokasi berjualan tersebut. Mereka bisa berjualan dengan nyaman dan tenang saat ini.
Baca juga: Alun-alun Merdeka Kota Malang Jadi Titik Aksi Bersih-Bersih Serentak Indonesia Asri
Satpol PP tidak akan lagi merazia mereka yang berjualan. Pasalnya, tempat berjualan di seberang jalan itu sudah diberi izin oleh Pemkot Malang.
Simutaman, pedagang jagung manis yang sedang melayani tamu saat ditemui mengatakan dirinya telah berjualan di kawasan tersebut sejak 2013.
Selama lebih dari satu dekade, ia tidak pernah berpindah lokasi dan tetap berjualan di depan Kantor Pos Indonesia, tepat di sisi selatan Alun-alun Merdeka.
"Saya mulai jualan di sini sejak 2013. Dari dulu ya tetap di Jalan Merdeka Selatan, depan Kantor Pos Indonesia. Tidak pernah pindah," ujar Simutaman kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (12/7/2026).
Simutaman menceritakan kondisi kawasan Alun-alun Merdeka saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Jika sebelumnya Satpol PP cukup sering melakukan penertiban, kini para pedagang dapat berjualan dengan lebih tenang setelah pemerintah mengatur lokasi berdagang di sisi selatan jalan.
"Dulu sering ada razia. Sekarang sudah tidak. Kami diberi tempat di Jalan Merdeka Selatan dan sudah diimbau supaya tidak jualan terlalu mepet dengan Alun-alun."
"Selama jualannya di seberang jalan seperti sekarang, sudah tidak pernah ditertibkan lagi," ujarnya.
Menurutnya, saat penertiban masih rutin dilakukan, petugas Satpol PP tidak menggunakan tindakan kekerasan. Namun, perdebatan antara pedagang dan petugas kerap terjadi.
Baca juga: Perosotan yang Rusak di Alun-alun Merdeka Malang Adalah Barang Lama, Cukup Diperbaiki, Bukan Diganti
"Kalau dulu ya barang-barang kami diangkut, kemudian mengikuti sidang tindak pidana ringan (Tipiring). Kekerasan tidak ada, tapi memang sering adu argumen," katanya.
Ia juga mengingat rencana relokasi PKL ke kawasan Ramayana yang sempat diwacanakan beberapa tahun lalu. Namun, sebagian besar pedagang menolak karena dinilai terlalu jauh dari pusat aktivitas masyarakat.
"Memang dulu pernah ada pembicaraan pindah ke Ramayana, tapi kami tidak mau karena jauh dari Alun-alun. Akhirnya sepakat tetap di Jalan Merdeka Selatan, yang penting tidak berjualan terlalu dekat dengan Alun-alun," ujarnya.
Bagi Simutaman, keberadaan Alun-alun Merdeka menjadi magnet utama pembeli. Karena itu, apabila pemerintah kembali melakukan penataan, pedagang berharap tetap disediakan lokasi yang tidak jauh dari kawasan tersebut.
"Kami mau ditata, asal dipastikan tetap ada tempat berjualan yang dekat dengan Alun-alun. Jangan dipindahkan terlalu jauh karena pembeli kami memang dari sini," pungkasnya.
M Sohib, pedagang yang berjualan di Jalan Merdeka Barat mengaku sudah merasa tenang berjualan saat ini. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang kerap bersitegang dengan Satpol PP, Sohib kini dapat melayani pelanggannya tanpa rasa khawatir.
Sama seperti Simutaman, Sohib adalah pedagang kaki lima yang turut ditata oleh Pemkot Malang. Sohib sebelumnya berjualan di Jalan Merdeka Barat yang mepet dengan Alun-alun Merdeka. Kini ia berjualan di jalan yang sama, hanya saja pindah tempat ke seberang jalan.
Ia mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan apabila lokasi berdagang dipindahkan selama masih tersedia tempat yang layak untuk mencari nafkah.
"Kalau tempat dagangnya dipindah ya enggak apa-apa. Kami bisa diatur. Yang penting kami tetap diberi tempat untuk berjualan," ujar Sohib.
Ia mengungkapkan, para pedagang setiap hari membayar Rp 5.000,00 kepada petugas parkir. Iuran sebanyak itu menurutnya tidak memberatkan. Ia bisa memenuhi permintaan tersebut.
"Setiap hari kami bayar Rp 5.000,00 ke petugas parkir. Kadang kalau sedang sepi ya hanya Rp 2.000,00. Jadi memang seikhlasnya saja," katanya.
Menurut Sohib, setelah pemerintah melakukan penataan, kondisi kawasan menjadi lebih tertib. Para pedagang pun berusaha mengikuti setiap kebijakan yang diterapkan.
Bahkan, saat Pemerintah Kota Malang meminta PKL tidak berjualan sementara karena adanya penilaian Adipura, para pedagang memilih mematuhi aturan tersebut.
"Pekan kemarin, kami diminta libur karena penilaian Adipura ya kami libur. Enggak ada masalah. Kami libur dua hari," ujarnya.
Ia berharap pemerintah tetap memberikan kepastian lokasi berjualan apabila penataan kawasan terus dilakukan.
Menurutnya, yang paling dibutuhkan pedagang bukan sekadar bertahan di lokasi lama, melainkan kepastian tempat untuk tetap mencari penghasilan.
"Yang penting kami diberi tempat. Kalau ditata kami siap mengikuti," pungkasnya.
Bagi Sohib, pedagang kecil berjualan untuk mempertahankan kebutuhan ekonomi di rumah. Tidak ada bayangan yang tinggi menjadi kaya dari berdagang mi telur yang dijual Sohib.
“Kami di sini berdagang seperti ini. Nanti pulang biasanya pukul 13:00 WIB. Kalau bukanya memang sejak pagi,” paparnya.
Sepanjang liburan sekolah, Sohib mengatakan bahwa pelanggan yang datang ke usahanya cukup banyak. Menjelang masuk sekolah pada 13 Juli 2027, jumlah pelanggan yang datang semakin banyak.
“Besok, kan sudah masuk sekolah lagi. Jadi tidak tahu bagaimana kondisinya besok. Selama liburan ini ramai sekali yang beli,” ungkapnya.
Novita Megasari, pengunjung yang ditemui setelah membeli makanan di PKL berpendapat bahwa keberadaan pedagang sangat dibutuhkan. Menurutnya, orang yang berjualan di tempat wisata selalu dicari oleh wisatawan.
“Kan tempat makan itu pasti selalu ada di dekat tempat wisata. Orang jualan itu pasti dicari,” ungkapnya.
Bagi Novita, penataan PKL juga diperlukan. Tujuannya agar tertib dan bersih. Ia juga mengomentari PKL yang masuk ke Alun-alun Merdeka Malang. Menurutnya, hal itu tidak seharusnya terjadi.
“Kadang ya merasa terganggu meskipun tidak selalu ada, ya. Tapi seharusnya ditertibkan hal seperti itu,” ungkapnya.
Pedagang yang berjualan di dalam Alun-alun Merdeka Malang berpotensi meningkatkan jumlah sampah.
Masih banyak warga yang buang sampah sembarangan. Jika pedagang langsung menjual di dalam Alun-alun Merdeka, maka sampah tersebut juga tercecer di dalam Alun-alun Merdeka.
“Tempat wisata baiknya memang bersih agar nyaman. Kalau soal PKL, saya selalu ingin ditertibkan. Kami juga tidak ada masalah kalau ada satu tempat yang dijadikan berjualan para PKL,” paparnya.
Sebagai pengunjung, Mega menilai keberadaan Alun-alun Merdeka Kota Malang adalah cerminan sosial masyarakat kota. Maka penataan yang bagus akan dilihat sebagai kedisiplinan warga Kota Malang juga.
Baca juga: Pakar UB Malang Sebut Pertamina Patra Niaga Lakukan Solusi Cerdas Tekan Impor Minyak dengan B50