TRIBUNJAMBI.COM – Iran menyatakan menutup Selat Hormuz setelah terjadi insiden yang melibatkan sebuah kapal di jalur pelayaran strategis tersebut, Minggu (12/7/2026).
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim kapal itu melintas melalui rute yang tidak diizinkan dan mengabaikan peringatan yang diberikan sebelum akhirnya dihentikan.
"Sebuah kapal yang telah membahayakan keamanan maritim dengan mematikan sistemnya tertabrak dan dihentikan," demikian pernyataan IRGC yang dikutip dari Al Arabiya.
IRGC juga mengklaim telah mengambil tindakan terhadap kapal lain yang disebut melanggar aturan pelayaran di kawasan tersebut.
"Kapal kedua yang dituduh melanggar peraturan di Selat Hormuz telah diserang," demikian pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB.
Hingga laporan ini disusun, belum terdapat konfirmasi independen mengenai klaim tersebut.
Baca juga: Keberadaan Febrie Adriansyah Masih Misteri, Padahal Mantan Jampidsus Tersandung Kasus Besar
Baca juga: Pantas Banyak Pelangsir di Jambi, BPH Migas Temukan QR Code Ganda BBM Subsidi: CCTV Jadi Bukti
Selat Hormuz Jalur Vital Perdagangan Minyak
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sebelum konflik berlangsung, sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut.
Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dan inflasi global.
Amerika Serikat Minta Jalur Pelayaran Dibuka
Di tengah meningkatnya ketegangan, pejabat senior Amerika Serikat meminta Iran memberikan jaminan bahwa serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dihentikan dan jalur pelayaran kembali dibuka tanpa hambatan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington dan Teheran sepakat melanjutkan pembicaraan meski situasi keamanan di kawasan kembali memburuk.
Menurut laporan Reuters, sumber senior Iran menyebut pembicaraan juga melibatkan Qatar, Pakistan, dan Oman sebagai mediator.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut bertemu Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi untuk membahas mekanisme pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Ketegangan Militer Meningkat
Di sisi lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Menurut pernyataan CENTCOM yang dikutip AP News, operasi tersebut menyasar lokasi peluncuran rudal dan drone, gudang amunisi, sistem komunikasi, serta sejumlah fasilitas militer lainnya.
"Serangan-serangan tersebut melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat," demikian pernyataan CENTCOM.
Iran kemudian mengklaim melakukan serangan balasan yang menyasar sejumlah negara di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Sejumlah negara melaporkan aktivasi sistem pertahanan udara setelah muncul peringatan serangan rudal maupun pesawat nirawak.
Militer Qatar menyatakan berhasil mencegat proyektil yang mengarah ke wilayahnya. Bahrain dan Kuwait juga mengaktifkan sistem pertahanan sebagai langkah antisipasi.
Sementara itu, otoritas maritim Inggris melalui United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kontainer berbendera Siprus mengalami kerusakan signifikan pada ruang mesin setelah insiden di Selat Hormuz.
Menurut laporan tersebut, awak kapal terpaksa meninggalkan kapal setelah terjadi kebakaran.
Perkembangan situasi di kawasan Teluk masih berlangsung, sementara berbagai pihak terus mengupayakan jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan.