Kisah Aris, Sopir Truk Ekspedisi Rela Sarapan Mi Instan di Atas Truk demi Antre Solar Berjam-jam
Moch Krisna July 12, 2026 06:32 PM

 





TRIBUNSUMSEL.COM,PALEMBANG
– Pagi belum sepenuhnya terang ketika Aris (61) sudah menghidupkan mesin truk ekspedisinya.

Usai menunaikan salat subuh, warga Sekip, Palembang, itu langsung menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Ilir Barat I.

Bukan untuk segera berangkat mengantarkan barang, melainkan lebih dulu mengantre solar bersubsidi.

Harapannya sederhana, yakni mendapatkan antrean lebih awal agar perjalanan menuju Bangka Belitung tidak tertunda. Namun harapan itu tak berjalan sesuai kenyataan.

Meski tiba sejak selepas subuh, Aris baru mencapai bagian depan SPBU sekitar pukul 10.41 WIB. Hampir enam jam waktunya habis hanya untuk menunggu giliran mengisi bahan bakar.

"Kalau dari rumah tadi habis salat subuh, Pak. Harapan besar bisa cepat dapat antrean di SPBU ini," ujar Aris saat ditemui Tribunsumsel.com di atas kabin truknya, Sabtu (11/7/2026).

Selama 16 tahun menjadi sopir truk ekspedisi lintas provinsi, Aris mengaku antrean solar kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pekerjaannya.

Hari itu, ia membawa muatan paket ekspedisi dengan tujuan Pangkalpinang dan Belitung. Perjalanan tersebut membuat kebutuhan solar menjadi lebih besar dibanding rute lainnya.

Menurut Aris, kendaraan berpelat luar Bangka Belitung tidak dapat mengisi solar subsidi di wilayah tersebut. Karena itu, ia harus membawa cadangan bahan bakar sejak berangkat dari Palembang.

"Berhubung saya ke Bangka dan Belitung, terpaksa bawa stok BBM dobel. Tapi kami tidak bisa beli sekaligus, melainkan harus dua kali beli, artinya dua kali juga harus antre.

Dua hari sekali kami harus antre solar di sini," katanya sembari menunjukkan surat tugas menuju Pangkalpinang dan Belitung.

Lamanya antrean membuat Aris rela mengorbankan waktu sarapan bersama keluarga. Sang istri pun membawakannya bekal sederhana berupa mi goreng, telur mata sapi, dan roti.

Bekal itu disantap di dalam kabin truk. Sesekali ia harus menghentikan suapan ketika antrean mulai bergerak beberapa meter ke depan.

Di samping kursinya tampak sebuah tas kain berisi kotak makan plastik. Mi goreng di dalamnya baru habis separuh karena Aris harus terus memperhatikan pergerakan antrean.

"Saya bawa bekal sarapan dari rumah karena tidak sempat lagi. Dibawain mi sama roti oleh istri. Ini baru dimakan separuh karena takut terlambat maju antrean," ucapnya sambil tersenyum.

Aris menilai antrean panjang juga dipengaruhi keterbatasan kuota solar di SPBU. Menurutnya, stok solar kerap habis sebelum sore hari sehingga banyak sopir yang harus kembali mengantre pada kesempatan berikutnya.

"Sering kali stok di SPBU kurang. Sebelum pukul 16.00 WIB saja solar sudah habis. Padahal truk-truk ini butuh banyak solar. Sekarang yang penting bagi perusahaan armada harus tetap berangkat," katanya.

Sebagai kepala keluarga dengan empat anak yang kini telah beranjak dewasa, Aris mengaku jam pulangnya ke rumah menjadi tidak menentu.

Selain karena antrean solar, perjalanan lintas pulau juga bergantung pada jadwal kapal penyeberangan dan kondisi pasang surut air laut.

"Kalau pulang ke rumah di Sekip itu tidak jelas jamnya. Perjalanan kami tergantung jadwal kapal dan kondisi pasang surut air laut," ujarnya.

Belum lama ini, kabar meninggalnya seorang sopir truk saat mengantre solar turut menyita perhatian para pengemudi angkutan barang. Peristiwa tersebut juga meninggalkan kesan mendalam bagi Aris.

Ia berharap para sopir tetap mengutamakan keselamatan dan mampu menahan emosi ketika menghadapi antrean panjang.

"Kita sama-sama membutuhkan solar. Jangan sampai terpancing emosi di jalan atau saat antre. Kalau kita salah, minta maaf saja. Ingat, keluarga itu yang utama. Anak dan istri di rumah menunggu kita pulang dengan selamat," pesannya.

Aris juga berharap pemerintah dapat mencari solusi agar antrean solar subsidi tidak terus terjadi dan menghambat aktivitas para sopir angkutan barang.

"Harapan saya, kalau bisa jangan sampai begini terus. Kasihan kawan-kawan sopir. Ada yang baru datang ke Palembang sejak subuh langsung ikut antre di sini. Kalau bisa pemerintah mengembalikan lagi sistemnya seperti semula," katanya.

Berdasarkan pantauan Tribunsumsel.com, antrean truk pengisi solar di SPBU Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di depan Jalan Irigasi Pakjo, mengular hingga hampir dua kilometer.

Barisan truk tampak memanjang jauh sebelum pintu masuk SPBU. Setelah keluar dari area pengisian, antrean kendaraan lain juga masih terlihat mengular.

Bahkan, sebagian truk terpaksa berhenti di sisi seberang jalan sehingga antrean dari kedua arah nyaris saling berhadapan dan mempersempit ruang lalu lintas di kawasan tersebut. 

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.