Sempat Tembus Rp60 Ribu, Harga Kopi Kepahiang Kembali Turun, Bupati: Dipengaruhi Pasar Global
Ricky Jenihansen July 12, 2026 06:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG – Harga kopi di Kabupaten Kepahiang kembali mengalami penurunan setelah sebelumnya sempat menyentuh angka Rp60 ribu per kilogram.

Toke kopi sekaligus Bupati Kepahiang, Zurdi Nata, mengatakan fluktuasi harga kopi yang terjadi saat ini tidak terlepas dari kondisi pasar global yang menjadi acuan perdagangan komoditas tersebut.

Menurut Zurdi, pada perdagangan terakhir, harga kopi sempat mengalami kenaikan signifikan dan mencapai Rp60 ribu per kilogram.

Namun, dalam beberapa hari terakhir, harga kembali terkoreksi mengikuti pergerakan pasar internasional.

"Harga kopi saat ini marketnya lagi turun. Terakhir Selasa kemarin ada kenaikan signifikan, sempat mencapai Rp 60 ribu," ujar Zurdi.

Saat ini, kata dia, pembelian kopi dilakukan dengan harga Rp57.200 per kilogram untuk kopi dengan kadar air 19 persen.

"Karena sekarang marketnya lagi turun jadi kita beli di harga Rp 57.200 dengan kadar air 19 persen," jelas Nata.

Sementara itu, untuk kopi biji asalan atau yang belum melalui proses sortir dan penyesuaian kualitas, harga pembelian berada di kisaran Rp55 ribu per kilogram.

"Kalau untuk biji kopi asalan di harga sekitar Rp 55 ribu," kata Nata.

Harga Kopi Mengikuti Pasar Global

Zurdi menjelaskan, naik turunnya harga kopi yang diterima petani di Kabupaten Kepahiang sangat bergantung pada kondisi pasar dunia.

Ketika harga kopi internasional mengalami kenaikan, harga di tingkat lokal juga akan ikut terdongkrak.

Sebaliknya, apabila harga global melemah, maka harga di daerah juga akan mengalami penurunan.

"Sebenarnya harga kopi ini mengikuti market global. Ketika harga kopi naik, harga kita naik juga. Ketika turun, kita juga ikut turun," ungkap Nata.

Ia menambahkan, salah satu faktor yang menyebabkan harga kopi saat ini mengalami penurunan adalah meningkatnya pasokan kopi di pasar global.

Negara-negara produsen besar seperti Vietnam dan Brasil turut memengaruhi pergerakan harga karena volume produksi dan ekspor yang mereka lakukan.

"Salah satu faktor penyebab penurunan harga yakni banyaknya pasokan barang yang masuk di pasar global ini. Misalnya negara kompetitor kita seperti Vietnam dan Brasil juga jual, jadi turun. Begitupun sebaliknya," terang Nata.

Optimistis Harga Kopi Kembali Membaik

Meski demikian, Zurdi tetap optimistis harga kopi akan kembali membaik dalam beberapa waktu ke depan.

Ia memperkirakan kondisi cuaca yang kurang mendukung di sejumlah negara produsen kopi dunia berpotensi memengaruhi produksi dan pasokan, sehingga dapat mendorong kenaikan harga.

"Saya optimis, prediksi saya harga kopi ke depan bakal membaik kembali, karena informasinya cuaca di negara kompetitor kita kurang mendukung," pungkas Nata.

Penurunan harga kopi tersebut menjadi perhatian para petani di Kabupaten Kepahiang yang saat ini masih berada pada musim panen.

Kendati demikian, harapan akan membaiknya harga di pasar global masih menjadi angin segar bagi para petani kopi di daerah tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.