TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Tidak semua orang mengenal Eyang Brotonegoro.
Meski demikian, makamnya yang ada di Ponorogo kini didatangi banyak peziarah.
Sekitar 7.000 umat Muslim berziarah ke makam Eyang Brotonegoro, Bupati Pertama Ponorogo, yang berada di puncak Gunung Gombak, Desa Nglarangan, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Minggu (12/7/2026).
Tradisi perjalanan spiritual ini rutin dilakukan setiap bulan Muharam. Para jemaah datang dari berbagai daerah di Jawa Timur untuk berdoa sekaligus mengenang keteladanan Tumenggung Brotonegoro.
Mayoritas peserta merupakan jemaah zikir dari Desa Sewulan, Kabupaten Madiun, yang dirintis almarhum KH Makruf Nawawi.
Baca juga: Ratusan Kader PDI Perjuangan Pasuruan Ziarah ke Makam Proklamator Peringati Bulan Bung Karno
Bagi mereka, ziarah menjadi wujud rasa syukur sekaligus upaya meneladani sikap andap asor (rendah hati) yang diwariskan Eyang Brotonegoro.
Mereka juga memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk kebaikan diri, keluarga, dan lingkungan.
Para jemaah rela menempuh perjalanan puluhan kilometer menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat demi mengikuti tradisi tersebut.
Mereka berharap dapat menenangkan hati dari hiruk pikuk kehidupan dengan bermunajat kepada Allah serta meneladani nilai-nilai luhur para pendahulu.
Seorang jemaah asal Ngelambangan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Narto (49), mengaku rutin mengikuti ziarah ke Nglarangan setiap tahun.
Kali ini ia datang bersama rombongan menggunakan dua mobil pikap.
"Harapan saya sederhana, semoga Allah meridai kami sekeluarga selalu sehat dan anak-anak bisa menempuh pendidikan dengan lancar," ujarnya.
Menurut Narto, ziarah juga menjadi sarana mempererat silaturahmi. Selain berdoa, ia dapat bertemu kembali dengan teman-teman lama maupun jemaah dari daerah lain.
"Silaturahmi seperti ini yang sekarang mulai langka. Kebersamaan membuat hati ayem," katanya.
Hal senada disampaikan Nadhif (25), jemaah asal Bojonegoro.
Ia mengikuti ziarah tersebut untuk kedua kalinya. Tahun ini ia berharap masa depannya semakin baik, termasuk dipertemukan dengan jodoh.
"Saya berdoa semoga akhir tahun ini bisa menikah," ucapnya.
Sejak pukul 06.00 WIB, ribuan jemaah berkumpul di Musala Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, sebelum berangkat bersama menuju Ponorogo dengan pengawalan Banser dan aparat keamanan.
Tradisi ziarah ini telah berlangsung sejak awal tahun 2000-an dan kini diteruskan oleh KH Afif Nizam, putra almarhum KH Makruf Nawawi.
Menurut Afif, tradisi tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus latihan kesabaran karena makam Eyang Brotonegoro berada di puncak Gunung Gombak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.
"Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun. Berasal dari dawuh almarhum KH Makruf Nawawi yang meneruskan pesan ibundanya untuk selalu sowan ke Nglarangan," jelasnya.
Afif menilai ziarah bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga momentum memperbarui niat, memperkuat keimanan, dan mempererat silaturahmi antargenerasi.
"Ziarah ini bukan hanya soal menyambut kalender baru, tetapi tentang memperbarui niat, memperkuat iman, dan menyambung silaturahmi antargenerasi," katanya.
Ia menambahkan, banyak nilai filosofis yang dapat dipetik dari sosok Eyang Brotonegoro.
Selain dikenal sebagai pejuang melawan penjajah Belanda, Bupati Pertama Ponorogo itu juga dikenang sebagai pemimpin yang egaliter, arif, dan dekat dengan rakyat.
"Menurut cerita, Eyang Brotonegoro adalah sosok yang sangat egaliter dan merakyat. Bahkan, beliau memosisikan dirinya sejajar dengan para pelayannya. Tak jarang beliau menggantikan pelayannya mencari rumput untuk ternak atau kudanya," tuturnya.
Dalam ziarah tersebut, para jemaah juga memanjatkan doa agar Indonesia senantiasa diberi kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan.
"Kami bersama-sama berdoa semoga negeri ini tetap damai, aman, tenteram, rakyatnya sejahtera, dan para pemimpinnya selalu mawas diri," pungkas Afif.
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com