Bantuan Alsintan Meningkat untuk Dorong Produktivitas Petani Lampung
Daniel Tri Hardanto July 12, 2026 08:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Pemerintah terus mempercepat modernisasi sektor pertanian di Provinsi Lampung melalui peningkatan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). 

Sepanjang 2025, penyaluran alsintan dari pemerintah mengalami lonjakan di berbagai jenis peralatan, sebagai upaya meningkatkan efisiensi, produktivitas, sekaligus menarik minat generasi muda terjun ke sektor pertanian.

Berdasarkan infografis pertumbuhan data alsintan Provinsi Lampung periode 2023 hingga Mei 2026, bantuan alsintan yang bersumber dari APBN dan APBD meningkat signifikan pada hampir seluruh jenis alat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, mengatakan pembangunan sektor pertanian ke depan harus mengarah pada mekanisasi dan pemanfaatan teknologi modern.

"Sektor pertanian harus mengarah kepada pertanian modern, yang lebih efisien, efektif, lebih menguntungkan, dan akan menarik bagi generasi muda," kata Elvira, Minggu (12/7/2026).

Berdasarkan data pada 2023 bantuan traktor roda empat sebanyak 57 unit dan pada 2024 sebanyak 52 unit, maka pada 2025 meningkat menjadi 508 unit. 

Hingga Mei 2026 kembali bertambah 101 unit. Berdasarkan data DKPTPH Lampung, jumlah traktor roda empat di Provinsi Lampung kini mencapai sekitar 5.861 unit.

Peningkatan juga terjadi pada bantuan traktor roda dua. Bantuan traktor roda dua meningkat dari 342 unit pada 2023 menjadi 624 unit pada 2025.

Pada 2023 sebanyak 342 unit, turun menjadi 220 unit pada 2024, kemudian meningkat menjadi 624 unit pada 2025 dan bertambah lagi 266 unit hingga Mei 2026.

Untuk mendukung kebutuhan air di lahan pertanian, bantuan pompa air juga meningkat.  

Bantuan pompa air meningkat signifikan dari 166 unit pada 2023 menjadi 3.362 unit pada 2024. 

Pada 2025 kembali disalurkan sebanyak 1.164 unit, kemudian bertambah 101 unit hingga Mei 2026.

Sementara itu, bantuan handsprayer terus meningkat dari 735 unit pada 2023 menjadi 942 unit pada 2024. 

Pada 2025 jumlahnya melonjak menjadi 2.415 unit dan kembali bertambah 276 unit hingga Mei 2026.

Modernisasi budidaya padi juga diperkuat melalui bantuan rice transplanter. 

Setelah tidak ada pengadaan pada 2023, bantuan meningkat menjadi 24 unit pada 2024 dan melonjak menjadi 260 unit pada 2025. Hingga Mei 2026 kembali bertambah 238 unit.

Di sektor panen, bantuan crawler combine meningkat dari nol unit pada 2023 menjadi enam unit pada 2024, kemudian melonjak menjadi 340 unit pada 2025 dan bertambah 13 unit hingga Mei 2026.

Adapun bantuan combine harvester naik dari 71 unit pada 2023 menjadi 132 unit pada 2024, kemudian meningkat menjadi 267 unit pada 2025 dan kembali bertambah 28 unit hingga Mei 2026.

Pemerintah juga mulai memperkenalkan teknologi pertanian presisi melalui bantuan 20 unit drone pertanian pada 2025. Hingga Mei 2026 belum terdapat penambahan unit baru.

Selain itu, bantuan implement corn kit mulai disalurkan pada 2026 sebanyak tiga unit, sedangkan cultivator atau power tiller meningkat dari nol unit pada 2023 menjadi 158 unit pada 2024, bertambah menjadi 223 unit pada 2025, dan kembali naik tiga unit hingga Mei 2026.

Elvira menjelaskan, data tersebut merupakan bantuan alsintan yang berasal dari APBN dan APBD, sehingga belum mencakup alsintan yang dimiliki secara mandiri oleh masyarakat maupun pihak swasta.

"Itu data alsintan dari bantuan pemerintah saja, tidak termasuk alsintan swadaya masyarakat. APBD Provinsi dan APBN," ujarnya.

Menurutnya, alsintan yang telah tersebar di berbagai daerah dimanfaatkan melalui UPTD yang melayani peminjaman kepada kelompok tani. Selain itu, Kementerian Pertanian membentuk Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) dan Brigade Pangan yang dikelola petani muda. 

Setiap brigade memperoleh satu paket alsintan untuk mengelola sekitar 200 hektare lahan sawah.

"Dinas provinsi dan kabupaten/kota juga terus melakukan pembinaan kepada UPJA agar alsintan yang dikelola dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh petani," katanya.

Meski demikian, Elvira mengakui masih terdapat tantangan dalam optimalisasi mekanisasi pertanian, terutama terkait ketersediaan bahan bakar minyak jenis solar untuk operasional alsintan.

Sementara kata Elvira penambahan bantuan alsintan hingga Mei 2026 yang masih lebih rendah dibandingkan sepanjang 2025 disebabkan proses pengadaan yang masih berlangsung. 

Ia menambahkan, bantuan alsintan tahun ini tetap berasal dari APBD Provinsi Lampung dan APBN, meski porsi terbesar masih berasal dari Kementerian Pertanian.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.