Musim Kemarau Dongkrak Produksi Kerupuk di Madiun Hingga 50 Persen, Tapi Harga Bahan Baku Melambung
Eko Darmoko July 12, 2026 09:45 PM

SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MADIUN - Musim kemarau membawa berkah bagi pelaku usaha kerupuk di Desa Candimulyo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Cuaca cerah dengan sinar matahari yang melimpah mempercepat proses pengeringan kerupuk mentah.

Hal tersebut mendorong peningkatan produksi hingga 50 persen.

Namun di balik meningkatnya produksi, produsen masih harus menghadapi lonjakan harga bahan baku.

Salah satu produsen kerupuk bawang di Desa Candimulyo, Suyoko, menuturkan teriknya matahari membuat proses penjemuran lebih singkat.

Jika saat musim hujan membutuhkan waktu dua hingga tiga hari, saat kemarau datang penjemuran cukup dilakukan dalam satu hari.

Percepatan proses pengeringan tersebut berdampak pada peningkatan kapasitas produksi.

Baca juga: Penghormatan Terakhir untuk Andie Peci, Bonek dan Bonita Tempuh Perjalanan Surabaya-Madiun

Jika biasanya hanya mampu memproduksi sekitar satu kuintal kerupuk per hari, kini produksinya meningkat menjadi 1,5 kuintal per hari atau naik sekitar 50 persen.

"Biasanya sehari satu kuintal, sekarang bisa satu setengah kuintal."

"Pengaruhnya karena sinar matahari, jadi kerupuk lebih cepat kering."

"Kalau musim hujan bisa dua sampai tiga hari, sekarang sehari sudah kering," ujar Suyoko, Minggu (12/7/2026).

Meningkatnya produksi juga diimbangi dengan tingginya permintaan pasar.

Suyoko mengaku hasil produksinya selalu habis terserap pasar.

Setiap pekan sekali, ia rutin mengirim kerupuk ke berbagai daerah.

Pemasarannya menjangkau warung sembako, pusat penggorengan, hingga toko-toko di berbagai daerah.

"Saya bawa pick up, ke arah Ponorogo, Wonogiri, Klaten perbatasan Yogyakarta," ucapnya.

Daerah-daerah tersebut tidak asing bagi Suyoko karena sebelum pindah ke Madiun, ia memang berasal dari Klaten, Jawa Tengah.

Dalam sekali pengiriman, jumlah kerupuk yang didistribusikan bisa mencapai sekitar satu ton.

Ia sendiri juga mulai terbantu adanya tetangga yang mau menjadi reseller daring dengan memanfaatkan siaran langsung menggunakan loka pasar atau market place.

"Terakhir ada pesanan sampai ke Tulungagung," tambahnya.

Meski permintaan terus meningkat, produsen masih menghadapi tantangan berupa melonjaknya harga bahan baku.

Harga tepung tapioka yang sebelumnya berkisar Rp 165 ribu hingga Rp 180 ribu per sak berisi 25 kilogram kini naik menjadi sekitar Rp 325 ribu per sak.

Kenaikan juga terjadi pada harga plastik pembungkus yang meningkat dari Rp 30 ribu menjadi Rp 45 ribu per kilogram.

Untuk menjaga kelangsungan usaha tanpa mengurangi kualitas produk, Suyoko melakukan penyesuaian harga jual.

Kerupuk varian bawang yang sebelumnya dijual Rp 80 ribu per bal kini menjadi Rp 83 ribu, sedangkan varian ketumbar dijual Rp 85 ribu per bal isi lima kilogram.

Meski harga jual mengalami penyesuaian, permintaan pasar masih tetap stabil.

"Harapannya harga bahan baku bisa kembali turun, stabil di harga semula jadi harga kerupuknya tidak naik," pungkasnya.

Baca juga: Transportasi Kereta Kian Diminati, Penumpang KA di Daop 7 Madiun Tembus 3,13 Juta, Naik 5,4 Persen

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.