Menyisir dari Rumah ke Rumah, Bimbi Bantu Warga Durian Sebatang Bengkulu Selatan Mengakses JKN
Ricky Jenihansen July 12, 2026 09:54 PM

"Dari rumah ke rumah, Bimbi menyusuri Desa Durian Sebatang, mencari warga yang belum terlindungi JKN atau kepesertaannya tak lagi aktif."

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Nur Rahma Sagita

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN – Dua gapura berdiri di sisi jalan yang menjadi pintu masuk Desa Durian Sebatang, Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan.

Di antara warna hijau, putih, dan oranye yang menghiasi kedua gapura itu, tulisan "Selamat Datang di Desa Durian Sebatang" menyambut siapa pun yang melintas.

Jalan beraspal membelah permukiman.

Rumah-rumah berdiri di sepanjang jalan desa, sementara jaringan kabel listrik membentang di atasnya.

Di desa inilah Bimbi Hardianto (35) menjalankan pekerjaan yang membawanya dari satu warga ke warga lainnya.

Bimbi merupakan Agen Pesiar sekaligus perangkat Desa Durian Sebatang.

Sejak mengikuti Program Pesiar pada 2024, ia mengemban tugas membantu warga yang belum terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) maupun mereka yang kepesertaannya sudah tidak aktif.

Pekerjaan itu tidak selalu dilakukan dengan menunggu warga datang meminta bantuan.

Bimbi juga turun langsung menyisir dari rumah ke rumah.

Di balik pekerjaan tersebut, ada warga yang baru mengetahui kepesertaan JKN mereka tidak aktif ketika hendak berobat.

Ada pula orang tua yang harus mencari jalan agar bayinya yang membutuhkan perawatan dapat memperoleh akses jaminan kesehatan.

"BPJS gratis memang menjadi harapan banyak masyarakat. Karena itu kami turun langsung dari rumah ke rumah sesuai moto Agen Pesiar, yaitu menyisir masyarakat yang belum memiliki BPJS dan mengajak mereka mendaftar," kata Bimbi saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Sabtu (11/7/2026).

Berawal dari Undangan Menjadi Agen Pesiar

Perjalanan Bimbi sebagai Agen Pesiar bermula pada 2024.

Saat itu, beberapa desa di Kabupaten Bengkulu Selatan mendapat undangan untuk mengikuti sosialisasi Program Pesiar yang digelar di salah satu hotel di kawasan Pantai Panjang, Kota Bengkulu.

"Awalnya kami diundang ke Bengkulu untuk menjadi Agen Pesiar yang bertugas menyisir masyarakat yang belum mempunyai BPJS Kesehatan agar dapat didaftarkan menjadi peserta BPJS," ujar Bimbi.

Pada undangan pertama tersebut, bukan hanya Desa Durian Sebatang yang mengikuti kegiatan.

Lima desa lainnya di Kabupaten Bengkulu Selatan turut mengikuti kegiatan tersebut.

Peserta juga berasal dari sejumlah kabupaten lain di Provinsi Bengkulu, seperti Kepahiang, Rejang Lebong, Kaur, dan daerah lainnya.

Sejak mengikuti program tersebut, Bimbi mulai menjalankan tugas sesuai visi dan misi Agen Pesiar.

Ia menyisir masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta JKN sekaligus membantu warga yang kepesertaannya sudah tidak aktif.

"Sesuai visi dan misi Agen Pesiar, kami menyisir masyarakat yang belum punya BPJS agar seluruh warga memiliki jaminan kesehatan," ungkapnya.

UHC Bengkulu 100 Persen, tetapi Kerja di Desa Belum Selesai

Kerja Bimbi dari rumah ke rumah berlangsung di tengah capaian besar Provinsi Bengkulu dalam program JKN.

Pada Juni 2026, BPJS Kesehatan mengapresiasi Provinsi Bengkulu yang telah mencapai Universal Health Coverage (UHC) 100 persen atau cakupan kepesertaan JKN secara menyeluruh.

Capaian tersebut menempatkan Bengkulu sebagai salah satu daerah terbaik secara nasional dalam perluasan cakupan jaminan kesehatan bagi masyarakat.

Namun, cakupan kepesertaan 100 persen belum berarti seluruh peserta berstatus aktif.

Deputi Direksi Wilayah III BPJS Kesehatan, Anurman Huda, mengatakan cakupan kepesertaan JKN di Provinsi Bengkulu telah mencapai 100 persen dengan tingkat keaktifan peserta sebesar 86 persen.

"Capaian ini berada di atas rata-rata nasional dan tidak semua provinsi mampu mencapainya," ujar Anurman seusai Forum Komunikasi Implementasi Strategi Penguatan Rekrutmen dan Reaktivasi Peserta JKN untuk Universal Health Coverage (UHC) Berkualitas Provinsi Bengkulu Tahun 2026 di Kantor Gubernur Bengkulu, Rabu (17/6/2026).

Di balik capaian tersebut, masih terdapat tantangan berupa tingginya jumlah peserta mandiri yang tidak aktif.

Anurman menyebut lebih dari 50 persen peserta mandiri di Provinsi Bengkulu masih berstatus tidak aktif.

Karena itu, BPJS Kesehatan mendorong masyarakat yang telah terdaftar sebagai peserta JKN tetapi berstatus tidak aktif untuk melakukan reaktivasi kepesertaan.

Reaktivasi diperlukan agar masyarakat dapat memperoleh akses pelayanan kesehatan ketika membutuhkan pengobatan, baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama, rumah sakit di kabupaten dan kota, rumah sakit provinsi, maupun ketika harus dirujuk ke luar daerah.

Angka-angka di tingkat provinsi itu menemukan bentuk konkretnya dalam pekerjaan Bimbi di Desa Durian Sebatang.

Di lapangan, masih ada warga yang perlu ditemukan, didata, didaftarkan, atau dibantu untuk mengaktifkan kembali kepesertaannya.

Warga Kerap Baru Tahu Kepesertaan Tidak Aktif Saat Hendak Berobat

Dalam menjalankan tugasnya, Bimbi mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Dinas Sosial untuk mengetahui masyarakat yang belum terdaftar atau kepesertaan JKN-nya tidak aktif.

Namun, persoalan kepesertaan juga kerap diketahui ketika warga datang langsung ke kantor desa untuk meminta bantuan.

Tidak jarang, menurut Bimbi, warga baru mengetahui kepesertaan mereka tidak aktif ketika hendak berobat.

"Biasanya masyarakat baru mengetahui BPJS mereka tidak aktif ketika hendak berobat. Kami arahkan untuk mengurus pengaktifan kembali melalui prosedur yang berlaku dengan membawa fotokopi KTP dan KK. Jika memenuhi syarat dan dalam kondisi darurat, prosesnya dapat dipercepat melalui Dinas Kesehatan," jelas Bimbi.

Bagi Bimbi, persoalan tersebut bukan sekadar angka tingkat keaktifan peserta.

Di tingkat desa, status kepesertaan baru benar-benar terasa penting ketika seorang warga membutuhkan pelayanan kesehatan.

BPJS KESEHATAN BENGKULU -
BPJS KESEHATAN BENGKULU - (TribunBengkulu.com/Muhammad Panji Destama Nurhadi)

Bayi Sebulan yang Membutuhkan Perawatan

Selama menjadi Agen Pesiar, Bimbi telah berhadapan dengan berbagai persoalan warga.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika membantu seorang bayi yang baru berusia sekitar satu bulan.

Bayi tersebut mengalami infeksi pada bagian pusar dan harus segera mendapatkan perawatan.

Namun, orang tuanya menghadapi kendala karena kepesertaan JKN sang bayi belum terdaftar.

"Kami langsung mengarahkan keluarga tersebut ke puskesmas dan selanjutnya ke Dinas Kesehatan agar proses pengaktifan BPJS dapat segera dilakukan," ujarnya.

Menurut Bimbi, proses tersebut hingga kini masih berjalan karena termasuk dalam pengajuan BPJS untuk kondisi darurat.

Dalam situasi seperti itu, Bimbi menyadari bahwa kewenangannya memiliki batas.

Ia membantu memberikan arahan dan mencarikan solusi yang dapat ditempuh keluarga, sedangkan proses selanjutnya tetap menjadi kewenangan instansi terkait.

"Kami hanya memberikan arahan dan membantu mencarikan solusi. Untuk proses selanjutnya tetap menjadi kewenangan instansi terkait," tegasnya.

Harapan Warga Mendapat BPJS Gratis

Bimbi menjelaskan, kepesertaan JKN yang didampingi Agen Pesiar terdiri dari peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau yang disebut masyarakat sebagai BPJS gratis dan peserta mandiri.

Dalam perjalanannya dari satu warga ke warga lainnya, Bimbi menemukan bahwa sebagian besar masyarakat menginginkan kepesertaan PBI.

Banyak peserta mandiri yang menunggak iuran berharap status kepesertaan mereka dapat dialihkan menjadi peserta PBI.

Persoalan tunggakan menjadi salah satu kendala yang sering ditemui.

Ketika membutuhkan pengobatan, peserta mandiri yang memiliki tunggakan tidak dapat langsung menggunakan layanan JKN.

"Kalau kondisinya darurat, biasanya mereka memilih membayar tunggakan agar BPJS kembali aktif. Kendala terbesarnya adalah ketika masyarakat ingin mengubah BPJS mandiri menjadi BPJS gratis," jelasnya.

Menurut Bimbi, permintaan masyarakat untuk mengubah kepesertaan mandiri menjadi PBI merupakan tantangan yang hampir selalu dihadapi setiap Agen Pesiar.

Persoalan yang ditemuinya dari rumah ke rumah itu menjadi bagian dari tantangan yang lebih besar di Provinsi Bengkulu.

Meski cakupan kepesertaan JKN telah mencapai 100 persen, tingkat keaktifan peserta masih berada di angka 86 persen.

Ratusan Warga Dibantu, Pekerjaan Belum Selesai

Sejak menjadi Agen Pesiar, Bimbi mengatakan sudah ada ratusan masyarakat yang berhasil dibantu.

Bantuan itu berupa pendaftaran sebagai peserta JKN baru maupun pengaktifan kembali kepesertaan yang sebelumnya tidak aktif.

Kerja tersebut kemudian turut mengantarkan Desa Durian Sebatang menerima penghargaan atas pelaksanaan Program Pesiar.

Desa Durian Sebatang menjadi salah satu desa yang mendapat apresiasi bersama Desa Padang Suka dan Desa Pasar Lama di Kabupaten Kaur, Desa Gunung Alam di Kabupaten Lebong, serta Desa Sindang Jaya dan Desa Seguring di Kabupaten Rejang Lebong.

Bimbi mengaku bersyukur atas penghargaan yang diterimanya.

Menurutnya, capaian kepesertaan di Desa Durian Sebatang telah mencapai sekitar 80 hingga 85 persen dari target yang ditetapkan.

Namun, bagi Bimbi, angka itu juga berarti pekerjaannya belum selesai.

Target yang ingin dicapai adalah seluruh warga memiliki jaminan kesehatan.

"Kami merasa senang karena mendapatkan penghargaan ini. Target kami sebenarnya mencapai 100 persen kepesertaan BPJS. Saat ini baru sekitar 80 hingga 85 persen, sehingga ke depan kami akan terus berupaya agar seluruh masyarakat memiliki BPJS Kesehatan," pungkas Bimbi.

Di tingkat provinsi, Bengkulu telah mencapai UHC 100 persen dengan tingkat keaktifan peserta sebesar 86 persen.

Namun, di Desa Durian Sebatang, capaian besar itu bertemu dengan persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ada warga yang baru mengetahui kepesertaannya tidak aktif ketika hendak berobat.

Ada peserta mandiri yang menunggak iuran dan berharap dapat beralih menjadi peserta PBI.

Ada pula keluarga yang membutuhkan bantuan ketika seorang bayi berusia sekitar satu bulan harus mendapatkan perawatan.

Di balik angka cakupan kepesertaan, ada rumah-rumah yang perlu didatangi, warga yang perlu ditemukan, dan kepesertaan yang perlu kembali diaktifkan.

Bagi Bimbi, pekerjaan untuk membantu warga memperoleh perlindungan JKN belum selesai.

Jalan itu masih harus ditempuh dengan cara yang telah dilakukannya sejak menjadi Agen Pesiar: menyisir dari rumah ke rumah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.