TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Kenaikan harga bahan kain dan benang menjelang tahun ajaran baru, tak membuat Slamet Mulyo menaikkan ongkos jahit seragam sekolah.
Penjahit yang telah menekuni profesinya selama sekira 40 tahun itu memilih mempertahankan menggunakan tarif lama agar tetap terjangkau bagi pelanggan, terutama keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya permintaan pembuatan seragam sekolah menjelang dimulainya tahun ajaran baru pada Senin (13/7/2026).
Bengkel jahit milik Slamet di Jalan Lamper Tengah VI Blok S, RT 03 RW 07, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang ini bahkan kebanjiran pesanan dan diperkirakan akan terus ramai hingga Agustus 2026.
Baca juga: Ade Bhakti, Sekretaris Damkar Kota Semarang Diduga Diteror Paket COD Rp451 Ribu, Ini Kronologinya
• Viral Konvoi Pesilat Bentrok dengan Warga di Grobogan, Ini Pemicunya
"Alhamdulillah, lumayan, sudah sekira 20 setel. Mulai dari batik, putih abu-abu, pramuka, campur-campur, pokoknya seragam sekolah," kata Slamet, Minggu (12/7/2026).
Menurut dia, pesanan yang masuk masih terus berdatangan.
Selain sekira 20 stel yang telah selesai dikerjakan, masih ada sekira 10 stel seragam lain yang sedang dalam proses penjahitan.
Tak hanya melayani warga Kota Semarang, hasil jahitan Slamet juga dipesan pelanggan dari sejumlah daerah sekitar seperti Demak, Salatiga, dan Ungaran.
Di tengah ramainya pesanan tersebut, Slamet menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku.
Harga kain seragam sekolah yang sebelumnya sekira Rp40 ribu per meter kini naik menjadi kisaran Rp50 ribu per meter.
Sementara kain berkualitas yang biasa digunakan untuk jas maupun pakaian kerja mengalami kenaikan sekira 10 hingga 15 persen.
Meski begitu, dia tetap mempertahankan ongkos jahit di kisaran Rp190 ribu hingga Rp200 ribu per stel untuk kain yang dia beli sendiri.
Tarif tersebut masih lebih murah dibandingkan sejumlah tempat lain yang sudah mematok harga Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per stel.
"Kalau saya naikkan kasihan, yang jahitkan itu kebanyakan orang-orang yang kurang mampu. Jadi harganya tetap Rp190 ribu sampai Rp200 ribu satu setel," kata dia.
Slamet tetap memperoleh keuntungan meski tidak menaikkan tarif.
Menurut dia, usaha jahit lebih mengandalkan keterampilan daripada besarnya modal.
"Keuntungan tetap ada. Kerjaan ini lebih mengandalkan keahlian, bukan banyak modal," katanya.
Pria yang belajar menjahit secara otodidak itu telah menggeluti profesi tersebut selama sekira empat dekade.
Baca juga: Cekcok Pedagang Berakhir Ledakan Gerobak, Pelaku Diduga Eks Napiter, Begini Kronologinya
• Mora Sandhy Pembohong, Anggota Koperasi BMJ Kendal Kecewa Janji Restrukturisasi Tak Terealisasi
Dia mengawali pekerjaannya dari membantu memasang kancing, kemudian belajar sendiri dengan mengamati proses menjahit, hingga akhirnya mampu membuat berbagai jenis pakaian, termasuk jas.
Selain seragam sekolah, Slamet juga menerima pesanan jas dengan ongkos jahit mencapai sekira Rp2 juta per stel.
Biaya tersebut belum termasuk kain utama karena pelanggan membawanya sendiri, sedangkan ongkos mencakup pengerjaan lengkap beserta furing dan bahan pendukung lainnya.
Bagi Slamet, musim penerimaan peserta didik baru menjadi satu di antara periode paling sibuk dalam setahun.
Pada hari-hari biasa, pesanan jahitan cenderung sepi dan lebih banyak berasal dari pembuatan busana hajatan maupun pakaian pengantin.
Sementara itu, tingginya biaya pengadaan seragam juga dirasakan para orangtua siswa.
Faris (40), warga Mijen Kota Semarang masih mencari alternatif yang lebih murah untuk kebutuhan seragam anaknya yang akan masuk SD kelas 1.
"Anak saya masuk SD kelas 1. Yang saya dengar, tiga set seragam ongkosnya bisa mencapai sekira Rp800 ribu."
"Sebenarnya itu cukup berat bagi saya, kalau bisa beli kain sendiri lalu menemukan penjahit yang lebih murah, saya akan ke sana."
"Ini kan masih MPLS, jadi saya masih mencari seragam cadangan yang harganya lebih terjangkau," pungkas dia. (*)