TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Nama Trubus Soedarsono mungkin asing bagi generasi saat ini. Namun bagi mereka yang tahu, seniman yang terkenal dengan lukisan realismenya ini juga berperan penting di pembangunan ibukota Jakarta di masa kemerdekaan.
Monica Suwahyo (73), putri kedua dari Trubus Soedarsono mengatakan ayahnya itu terlibat dalam membangun sejumlah patung yang kini menjadi markah tanah atau landmark di Jakarta sampai saat ini.
"Bapak ikut membangun Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan Patung Si Denok di Istana Bogor," jelas Monica ditemui usai pembukaan pameran di Taman Budaya Kulon Progo, Sabtu (11/07/2026).
Saat itu, Trubus Soedarsono bergabung dengan tim Edhi Sunarso dalam membuat Patung Selamat Datang dan Patung Pembebasan Irian Barat. Sedangkan Patung Si Denok menjadi karya tunggal Trubus yang kini jadi ikon di Istana Bogor.
Monica mengatakan ayahnya dulu juga membuka kelas melukis di rumahnya yang berada di Kalurahan Giripeni, Wates.
Selain itu, Trubus juga diketahui membuka sanggar seni di Padukuhan Purwodadi, Kalurahan Pakembinangun, Kapanewon Pakem.
"Saya terakhir kali lihat bapak di Pakem, tanggal 1 Desember 1966," ungkap perempuan dengan nama kecil Sri Sudaryati ini.
Monica masih sangat ingat peristiwa itu di benaknya. Saat itu, ia hendak ke Kantor Kapanewon Pakem untuk mengurus surat jalan. Saat dalam perjalanan, ia melihat sebuah bus melintas dan di dalamnya ada sosok seperti Trubus, ayahnya.
Bus itu rupanya berhenti di Kantor Kapanewon Pakem. Lalu ada seorang tentara yang menghampiri Monica, bertanya apakah ia putri dari Trubus, yang langsung diiyakan, dan dipertemukan dengan ayahnya.
"Saya lihat juga barang-barang Bapak seperti dirampok aparat, dari buku-buku sampai lukisan karya Bapak dan murid-muridnya," ujar Monica.
Ia mengungkapkan bahwa Trubus sempat berkata bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan anak-anaknya. Saat ditanyakan akan dibawa ke mana, Trubus pun mengaku tidak tahu.
Sejak 1 Desember 1966 itulah, Trubus tidak pernah diketahui keberadaannya. Ia diduga menjadi salah satu seniman yang dituduh terlibat dalam gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang mana saat itu baru saja terjadi gejolak.
"Bapak saya saat itu kena peristiwa politik G30S (Gerakan 30 September)," ungkap Monica.
Tak hanya itu, ia mengungkapkan bahwa ibunya juga sempat digiring di penjara yang saat ini menjadi Rutan Kelas IIB Wates. Adiknya yang terakhir dan anak Trubus yang ke-10, Elizabeth Sulistyanti lahir di sana.
Kini, yang tersisa dan bisa dikunjungi hanyalah kenangan Trubus yang masih hidup dalam ingatan Monica. Ia pun sangat ingat bagaimana cara kerja ayahnya saat melukis, seperti sambil mendengarkan musik dari pengamen hingga mendatangkan penari.
"Bapak sewa pengamen selama beberapa hari, dikasih makan dan lain-lain agar mereka memainkan musik sembari beliau melukis," tuturnya.
Sosok Trubus Soedarsono pun seakan kembali hidup dengan Pameran Karya Seni Daulat Sampah yang digelar oleh Komunitas Seniman Kulon Progo. Pameran ini berlangsung di Taman Budaya Kulon Progo, mulai tanggal 11 sampai 20 Juli 2026.
Monica mengatakan pameran ini menjadi ajang nostalgia dengan adik-adiknya yang kini tinggal terpisah. Sekaligus mengenang kembali sosok Trubus Soedarsono yang tak pernah hilang dari ingatannya.
"Bagi kami sekeluarga yang kehilangan, pameran ini membuat bapak seakan hidup kembali," katanya penuh haru.
Kurator Pameran Karya Seni Daulat Sampah, Jajang R Kawentar mengatakan pameran itu digelar untuk mengenang 2 seniman asal Kulon Progo. Selain Trubus Soedarsono, mereka turut mengenang Sujarwo.
Sebab Trubus Soedarsono sudah dianggap sebagai maestro seni modern Indonesia. Sedangkan Sujarwo adalah pendamping para seniman di Kulon Progo, yang telah berpulang sekitar 100 hari lalu.
"Lewat karya seni ini kami mengangkat kembali semangat dari 2 seniman tersebut sebagai bentuk penghormatan," jelas Jajang.(alx)