SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mengonfirmasi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data mutakhir hasil pemantauan satelit, sebanyak 493 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Sumsel hanya dalam kurun waktu 10 hari pertama pada bulan Juli 2026.
Melonjaknya jumlah titik panas ini menjadi peringatan dini bagi instansi terkait mengingat kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Sumatra Selatan kini memasuki fase kering. Adapun Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Muara Enim, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Komering Ulu (OKU) tercatat menjadi wilayah dengan sebaran hotspot paling dominan.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menjelaskan bahwa berdasarkan rekapitulasi data harian hingga 10 Juli 2026, kemunculan hotspot di Sumsel fluktuatif di kisaran puluhan titik setiap harinya.
"Dalam rentang 10 hari pertama Juli ini, akumulasi hotspot yang terpantau mencapai 493 titik. Secara harian intensitasnya masih puluhan titik. Kerawanan tertinggi sejauh ini berada di Muba, Muara Enim, OKI, dan OKU," ujar Sudirman saat dikonfirmasi, Minggu (12/7/2026).
Secara terperinci, Kabupaten Muba memuncaki daftar kerawanan dengan sumbangsih 89 titik panas. Posisi berikutnya ditempati oleh Kabupaten Muara Enim sebanyak 71 titik, OKI 67 titik, dan OKU 65 titik. Sebaran titik panas lainnya juga terdeteksi di Kabupaten Lahat sebanyak 38 titik, Ogan Ilir 37 titik, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 27 titik, OKU Timur 22 titik, serta Banyuasin 20 titik.
Baca juga: Breaking News : Kebakaran Lahan di Ogan Ilir, Terjadi di Dua Titik, Tim Gabungan Dikerahkan ke TKP
Sebaliknya, catatan nihil emisi panas ditunjukkan oleh dua daerah urban, yakni Kota Lubuklinggau dan Kota Palembang, yang dilaporkan bersih dari deteksi hotspot sepanjang bulan berjalan.
Dengan tambahan data tersebut, BPBD Sumsel mencatat total akumulasi hotspot yang membakar peta Sumatera Selatan sepanjang tahun berjalan 2026 kini telah menembus angka 2.342 titik.
Angka tertinggi sebelumnya diproduksi pada bulan Juni dengan 755 titik dan disusul bulan Mei sebanyak 708 titik.
Kendati grafik titik panas terus merangkak naik akibat merosotnya curah hujan, Sudirman meluruskan persepsi bahwa munculnya hotspot tidak serta-merta mengindikasikan telah terjadinya peristiwa kebakaran lahan berskala besar di titik tersebut.
"Titik panas ini merupakan indikator suhu tinggi di atas permukaan bumi yang menjadi alarm awal bagi kami. Oleh sebab itu, tim satgas gabungan terus mengintensifkan patroli darat dan pemantauan udara agar setiap potensi percikan api bisa segera dipadamkan sedini mungkin sebelum meluas," paparnya.
Guna mengantisipasi dampak buruk kabut asap, BPBD Sumsel mengimbau keras kepada seluruh lapisan masyarakat, korporasi, dan petani lokal agar tidak melakukan pembukaan lahan pertanian dengan metode pembakaran (slash and burn) selama musim kemarau.