Putaran Ketiga Serangan AS Hantam Lebih dari 140 Target Iran: Selat Hormuz Ditutup Lagi
Hasiolan Eko P Gultom July 13, 2026 12:38 AM

Putaran Ketiga Serangan AS Hantam Lebih dari 140 Target Iran: Selat Hormuz Ditutup Lagi

 

TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan operasi militernya terhadap Iran dengan melancarkan gelombang ketiga serangan udara dalam sepekan.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan sekitar 140 sasaran militer Iran dihantam pada Sabtu, sebagai respons atas insiden terhadap kapal dagang di Selat Hormuz.

Baca juga: Oman, Kuwait, dan Yordania Kutuk Serangan Iran, Bom-Bom Amerika Bikin Negara Teluk Membara

Menurut CENTCOM, target yang diserang meliputi lokasi rudal dan pesawat nirawak (drone), fasilitas angkatan laut, gudang amunisi, jaringan komunikasi, hingga sistem pengawasan pantai.

Militer AS menyebut, jika digabungkan dengan dua gelombang sebelumnya, lebih dari 300 target militer Iran telah diserang dalam tiga malam terakhir.

Respons atas Insiden Kapal Dagang

Washington menyatakan operasi terbaru dilakukan setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) menyerang kapal kontainer berbendera Siprus M/V VGFS Galaxy saat melintasi Selat Hormuz.

CENTCOM mengatakan kapal tersebut mengalami kerusakan berat di ruang mesin, terbakar, tidak dapat melanjutkan pelayaran, serta menyebabkan satu awak sipil dinyatakan hilang.

Komando Pusat menegaskan operasi dilakukan atas arahan Presiden Donald Trump.

"Pengiriman barang komersial terus berlanjut melalui jalur perairan internasional yang vital ini," demikian pernyataan CENTCOM.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menilai Iran telah membuat keputusan yang keliru dengan menyerang kapal sipil dan kemudian menutup Selat Hormuz.

"Iran membuat pilihan yang salah, dan sekarang mereka membayar harganya," tulis Hegseth melalui platform X.

Iran Tutup Selat Hormuz

Beberapa jam sebelum serangan udara AS, Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan.

Angkatan Laut Garda Revolusi menyatakan penutupan dilakukan karena situasi keamanan yang memburuk akibat "campur tangan ilegal pihak asing".

Ledakan Dilaporkan di Iran Selatan

Di tengah operasi militer tersebut, media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan terjadinya ledakan di kota Bushehr dan Asaluyeh, dua wilayah strategis di pesisir selatan Iran yang memiliki infrastruktur energi dan pelabuhan penting.

Hingga kini belum ada rincian resmi dari pemerintah Iran mengenai tingkat kerusakan maupun korban akibat ledakan tersebut.

Pasokan Energi Dunia Terancam

Gelombang serangan terbaru menjadi kelanjutan eskalasi konflik AS-Iran yang dalam beberapa pekan terakhir semakin meningkat.

Sebelumnya, Amerika Serikat telah melancarkan sejumlah serangan terhadap sasaran militer Iran sebagai bagian dari upaya menekan kemampuan militer Teheran.

Iran kemudian membalas dengan operasi terhadap aset dan kepentingan AS di kawasan, termasuk ancaman terhadap jalur pelayaran di Teluk Persia.

Insiden di Selat Hormuz memperburuk situasi.

Jalur laut tersebut merupakan salah satu koridor energi terpenting di dunia, dengan sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Setiap gangguan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia, meningkatkan biaya pengiriman, dan mendorong kenaikan harga minyak internasional.

Situasi Masih Berkembang

Hingga laporan ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran mengenai klaim AS yang menyebut sekitar 140 target militer dihancurkan dalam gelombang serangan terbaru.

Di sisi lain, Washington menegaskan operasi akan terus dilakukan untuk melindungi kebebasan navigasi di Selat Hormuz, sementara Iran tetap bersikukuh bahwa penutupan jalur tersebut akan diberlakukan hingga situasi keamanan menurut mereka kembali terkendali.

Klaim mengenai serangan, kerusakan, dan dampak operasi militer dari kedua belah pihak masih belum dapat diverifikasi secara independen.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.