Kemenangan Sang Juara? Pemenang dan Pecundang Saat Inggris Tampil Spektakuler di Piala Dunia di Stadion Azteca yang Membuktikan Tim Thomas Tuchel Bisa Melangkah Sampai Akhir
Rina Kusumawati July 13, 2026 01:37 AM

Apakah ini kemenangan yang menandai lahirnya sang juara? Inggris menampilkan performa luar biasa di Stadion Azteca dalam kemenangan 3-2 atas Meksiko, sebuah hasil yang penuh drama, keberanian, dan keteguhan yang memperkuat keyakinan bahwa tim asuhan Thomas Tuchel mampu menembus hingga ke final Piala Dunia.

Sejak awal, semua tahu bahwa menang di Azteca bukanlah hal mudah. Hanya dua tim sebelumnya yang pernah melakukannya dalam laga kompetitif. Inggris harus melewati tekanan, cedera, dan ketegangan, namun yang terjadi di lapangan bahkan melampaui ekspektasi: sebuah pertarungan penuh kekacauan, keberanian, dan kegemilangan.

Dari menit pertama, Inggris menunjukkan ketangguhannya. Meksiko menekan tinggi, namun Inggris menahan ritme permainan dengan tempo lambat dan penguasaan bola matang — sesuai dengan rencana Tuchel. Dan ketika peluang datang, mereka memanfaatkannya. Jude Bellingham membuka skor dengan sundulan hasil umpan silang Bukayo Saka. Tak lama berselang, hanya 98 detik kemudian, Bellingham kembali melakukan pergerakan serupa dan mencetak gol kedua setelah menerima umpan dari Harry Kane, membawa Inggris unggul 2-0 pada menit ke-38.

Namun, setelah itu situasi berubah liar. Pertahanan Inggris gagal mengantisipasi bola mati dan Julian Quinones memanfaatkan peluang untuk memperkecil ketertinggalan. Babak pertama berakhir 2-1. Di babak kedua, Inggris mencoba menguasai permainan, namun laga berubah menjadi kekacauan. Nico O'Reilly nyaris menambah gol setelah tembakannya membentur tiang, Anthony Gordon terus mengancam dari sisi kiri, dan Bellingham tetap menekan ke depan. Lalu datang momen genting: Jarell Quansah melakukan tekel berlebihan dalam serangan balik Meksiko. Setelah tinjauan VAR, ia mendapatkan kartu merah langsung.

Meski bermain dengan sepuluh pemain, Inggris tetap membalas. Gordon menerobos pertahanan Meksiko, melewati kiper Raul Rangel dan dijatuhkan — penalti! Kane, yang sempat gagal mengeksekusi penalti di laga sebelumnya melawan Kroasia, kali ini sukses. Namun tak lama, Meksiko juga mendapat hadiah penalti setelah Kane melanggar Brian Gutierrez. Raul Jimenez menuntaskannya dengan baik, membuat skor menjadi 3-2.

Tuchel lalu mengambil keputusan strategis: memperkuat pertahanan. Ia memasukkan Dan Burn untuk memperkokoh formasi 5-3-1. Jordan Pickford tampil gemilang dengan sejumlah penyelamatan penting, Burn memenangkan duel udara, bahkan Kane ikut bertahan di kotak penalti sendiri. Inggris bertahan dengan gigih hingga peluit akhir berbunyi.

Pemenang & Pecundang dari Kota Meksiko...

Pemenang: Jude Bellingham

Selama enam bulan terakhir, Jude Bellingham telah digambarkan dengan banyak cara: pemain momen besar, berkarakter kuat, bahkan sekadar pelapis Morgan Rogers. Namun kali ini ia menampilkan performa lini tengah paling lengkap bagi Inggris dalam beberapa waktu terakhir. Tuchel menempatkannya dalam sistem mirip 4-4-2, beroperasi dekat dengan Kane. Dua golnya menunjukkan naluri penyelesaian luar biasa seperti yang ia tunjukkan saat memecahkan rekor gol di musim pertamanya bersama Real Madrid. Gerakannya dari luar ke dalam kotak penalti diakhiri dengan penyelesaian klinis.

Selanjutnya, selama 50 menit ia menunjukkan keteguhan. Bermain di berbagai posisi — tengah, kanan, hingga kembali ke depan — Bellingham tampil disiplin meski harus menghindari kartu kuning agar bisa bermain di perempat final. Meksiko berulang kali mencoba memprovokasi, namun ia tetap tenang. Satu kata yang tepat menggambarkannya: kelas dunia.

Pemenang: Thomas Tuchel

Tuchel sebelumnya mengatakan bahwa permainan Inggris di turnamen ini mungkin tidak akan indah, dan malam ini ia membuktikannya. Inggris tampil efektif, tidak spektakuler, tapi sangat terencana. Mereka menahan Meksiko selama 20 menit pertama, lalu menyerang di waktu yang tepat untuk mencetak gol. Ketika situasi menjadi kacau, Tuchel tetap tenang. Keputusannya beralih ke formasi lima bek mungkin tidak populer di kalangan penonton, tapi terbukti efektif. Masuknya Dan Burn sebagai penguat pertahanan menjadi langkah cerdas. Kepercayaannya pada Anthony Gordon juga terbayar; sang pemain bekerja keras sepanjang laga. Dengan fleksibilitas dua formasi dan empat gaya permainan berbeda, Tuchel menunjukkan ketenangan luar biasa di pinggir lapangan.

Pecundang: Jarell Quansah

Quansah tampil mengejutkan sebagai starter di posisi bek kanan karena keterbatasan pilihan akibat cedera Reece James. Selama 50 menit pertama, ia tampil cukup baik, menjaga Quinones tetap terkendali. Namun tekel kerasnya yang berujung kartu merah menjadi momen fatal. Ia tampak terlalu bersemangat dan kehilangan kendali. Meski hal itu tidak berakibat pada kekalahan Inggris, masa depannya di turnamen ini kini diragukan.

Pemenang: Jordan Pickford

Pickford kembali menunjukkan mengapa ia menjadi andalan Inggris. Berbeda dengan penampilannya di Everton, kali ini ia tampil penuh percaya diri dan tangguh. Dua penyelamatan penting di babak pertama menggagalkan peluang Jimenez, sementara di babak kedua ia berkali-kali memotong umpan silang dan mengarahkan rekan setimnya. Gaya klasiknya yang agresif justru sangat dibutuhkan dalam laga penuh tekanan ini.

Pecundang: Meksiko

Dengan kekalahan ini, dua dari tiga tuan rumah Piala Dunia telah tersingkir. Meksiko tampil tidak seimbang, kurang kualitas, dan terlalu bergantung pada Raul Jimenez yang menua serta talenta muda Gilberto Mora. Meski berhasil lolos dari fase grup dan menyingkirkan Ekuador di babak sebelumnya, mereka tidak mampu menghadapi tim dengan kualitas seperti Inggris. Pertahanan mereka rapuh menghadapi serangan cepat, dan kurang pengalaman dalam situasi berisiko tinggi. Kekalahan di stadion bersejarah seperti Azteca tentu terasa menyakitkan.

Pemenang: Kredibilitas Inggris di Piala Dunia

Jika melihat perjalanan sejauh ini, Inggris telah menunjukkan ketahanan luar biasa. Mereka menang meyakinkan sekali, menang jelek dua kali, dan kini menaklukkan Azteca. Tim ini menghadapi berbagai tantangan namun terus menemukan cara untuk menang. Mungkin ini bukan permainan indah yang dijanjikan Tuchel, tapi hasilnya berbicara banyak. Kemenangan ini bukan hanya memperpanjang napas Inggris di turnamen, tetapi juga menumbuhkan keyakinan baru. Lawan berikutnya, Norwegia di Miami, akan menjadi ujian berat, namun Inggris kini memiliki kepercayaan diri dan momentum yang nyata. Semua akan kembali pada satu hal: sepak bola — dan dalam hal itu, Inggris tampak semakin meyakinkan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.