TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menjelaskan mengenai konsep Koperasi Merah Putih (KDMP dan KNMP) saat berpidato pada acara Hari Koperasi Nasional di Indonesia Arena, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu, (12/7/2026).
Menurut Presiden, konsep koperasi tersebut sudah ada dalam pikirannya sejak puluhan tahun lalu saat masih aktif di militer.
Saat bertugas di desa dan pegunungan ia sering melihat warga setempat kesulitan mencari makan.
“Saya lihat di situ rakyat kelaparan, saya lihat ada rakyat yang mati kelaparan dan saya tidak bisa berbuat apa-apa karena makan saya terbatas untuk kompi saya,” katanya.
Dari situ ia mulai berpikir bahwa desa harus memiliki kekuatan atau kemampuan dalam memelihara ketahanan pangan. Namun di satu sisi, Indonesia juga harus menjadi negara industri untuk bisa menjadi negara maju.
“Nah untuk itu akhirnya dari dulu saya semakin yakin satu-satunya jalan untuk menjaga rakyat yang paling bawah adalah kekuatan koperasi,” katanya.
Menurut Presiden meski telah ada dibenaknya sejak lama, ide pembentukan koperasi secara nasional baru bisa dilakukan sekarang.
Pasalnya kata dia apabila tidak memiliki wewenang atau kekuasaan, pembentukan koperasi sangatlah lama.
“Kalau orang modalnya kecil atau tidak punya modal, susah dapat kredit di mana-mana,” katanya.
Di awal dirinya menjadi Presiden, ia mendorong agar, swasembada pangan terwujud.
Salah satunya dengan menurunkan harga pupuk dan menaikan harga pembelian gabah untuk mendorong produktivitas petani.
Baca juga: Seloroh Prabowo, Takut Didatangi Bapak dan Kakeknya Bila Tak Hadir di Acara Koperasi
“Kita jamin hasil petani naik,” katanya.
Namun kata Presiden naiknya produktivitas petani, tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan.
Ia mendapat laporan bahwa meski produktivitas naik, banyak petani yang masih kesulitan karena terjerat utang.
“Tapi saya dapat laporan: Pak, percuma Pak, hasil mereka naik. Kenapa? Karena hutang mereka banyak. Karena pertanian itu panennya itu 100 hari. Nah selama 100 hari anaknya ada yang sakit, anaknya harus sekolah, mungkin ada kerusakan ini, dia butuh uang, dia pinjam uang dan bunganya luar biasa gila,” katanya.
Oleh karena itu menurut Presiden, rakyat harus memiliki akses terhadap kredit dengan bunga yang ringan. Kemudian munculah ide agar koperasi simpan pinjam harus ada di setiap desa.
“Karena itulah angka 81.000 muncul, karena desa dan kelurahan kita di seluruh Indonesia jumlahnya adalah 81.000,” katanya.
Ditengah menyusun rancangan koperasi simpan pinjam kemudian muncul ide adanya koperasi yang menyediakan kebutuhan rakyat.
Kebutuhan kebutuhan yang disubsidi negara disalurkan melalui koperasi sehingga tepat sasaran.
“Dan akhirnya muncul lagi bahwa oh ya pupuk bersubsidi bisa di koperasi. Kemudian gas tabung-tabung gas itu bisa di koperasi. Kemudian hampir semua barang-barang subsidi bisa kita salurkan melalui koperasi supaya tidak diselewengkan!” tuturnya.
Saat ide sudah final, kata Prabowo ia lalu menyusun langkah langkah implementasinya. Saat rapat bersama anggota kabinet ia dihadapkan pada beberapa pilihan.
Di antaranya dengan pembentukan secara bertahap dimulai menyusun naskah akademik, lalu pilot project.
“Pak sebaiknya bikin naskah akademik dulu Pak. Naskah akademik itu biasanya 8 bulan. Rapat sini rapat situ, rapat sini rapat situ ya kan. Dari naskah akademik nanti kita bikin pilot project Pak. Pilot project itu 2 tahun. Habis itu kita coba di 100 desa dulu Pak,” katanya.
Prabowo mengaku tidak mau mengikuti pilihan tersebut karena memakan waktu yang lama. Apabila diikuti, 81 ribu Koperasi Merah Putih baru terwujud setelah 8 tahun.
“Ada 81.000 desa dan kelurahan, rakyat itu suruh nunggu 8 tahun? Saya... saya tidak mau,” katanya.
Akhirnya kata Prabowo dirinya mengambil langkah praktis, dengan langsung mengimplementasikan pembentukan Koperasi Merah Putih, tanpa naskah akademik dan pilot project terlebih dahulu. Hal itu karena ia menilai rakyat tidak bisa menunggu lama.
“Mereka memerlukan tindakan cepat, kita tidak bisa dengan cara-cara biasa saudara-saudara sekalian. Kita harus berpikir besar, berpikir cerdas, berpikir praktis, jangan teoritis,” pungkasnya. (*)