Tak Cuma Kumpul-kumpul, Komunitas Sanggar Musang Semarang Jadi Wadah Edukasi soal Hewan Peliharaan
M Syofri Kurniawan July 13, 2026 06:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bagi sebagian orang, musang masih identik sebagai satwa liar yang sulit dipelihara atau bahkan hanya dikenal sebagai hewan buruan.  

Namun di tangan para penghobi, musang justru dapat beradaptasi dengan kehidupan di rumah layaknya hewan peliharaan lain.

Hal itulah yang terlihat dilakukan Komunitas Sanggar Musang Semarang.

Untuk memperkenalkan musang sebagai hewan peliharaan, para anggota komunitas kerap membawa musang peliharaan mereka ke ruang publik.

 Di antaranya terlihat saat Car Free Day (CFD) di kawasan Simpanglima Kota Semarang, Minggu (12/07/2026).

Sejumlah penghobi musang tampak membawa peliharaan kesayangan itu masing-masing di area Lapangan Pancasila Simpanglima.

Pantauan TribunJateng.com, tampak sejumlah anggota mengenakan kaus hitam dengan logo khas bertuliskan Sanggar Musang Semarang (SMS).

memelihara musang
BAWA HEWAN PELIHARAAN - Sejumlah penghobi musang tampak membawa musang masing-masing saat Car Free Daya di area Lapangan Pancasila Simpanglima, Minggu (12/7). Berkumpulnya komunitas itu tampak menarik sejumlah pengunjung yang ingin memegang dan turut menggendong musang yang dibawa.

Tak sedikit pengunjung yang menghampiri, bertanya tentang karakter musang, cara perawatan, hingga makanannya.

Bahkan terlihat pula sejumlah pengunjung yang mencoba menggendong hewan dengan wajah khas bermoncong panjang dan bermata bulat itu.

Perwakilan Sanggar Musang Semarang, Rizal Bahri (31) mengatakan, tujuan utama komunitas bukan sekadar berkumpul sesama penghobi, tetapi juga mengenalkan bahwa musang dapat dipelihara layaknya hewan peliharaan lain.

"Sebenarnya musang itu tidak cuma untuk makanan atau buruan saja. Musang bisa dipelihara selayaknya kucing dan anjing," ujar Rizal.

Menurutnya, kegiatan komunitas tidak memiliki agenda yang sulit.

Selain menjadi wadah berbagi pengalaman antaranggota, pertemuan sesama penghobi musang itu juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat yang ingin mengenal musang lebih dekat.

"Untuk aktivitasnya simpel. Bisa kumpul-kumpul tentang masalah musang. Terus kalau ada yang tanya-tanya tentang musang itu bagaimana, kita edukasi sedikit. Terus sama edukasi kalau untuk musang ini bisa dipelihara," katanya.

Selain mengubah stigma, lanjut dia, komunitas juga ingin mengenalkan peran musang dalam menjaga keseimbangan alam.

"Enggak cuma sebagai makanan. Musang juga bisa mengontrol ekosistem," jelasnya.

Komunitas Sanggar Musang Semarang resmi berdiri pada 2020.

Rizal mengatakan, awalnya, para anggota berasal dari komunitas lain sebelum akhirnya sepakat membentuk wadah sendiri karena sama-sama sering berkumpul.

"Untuk komunitas ini, secara resmi, kami mulai tahun 2020. Namun sebelumnya, kami sudah pernah tergabung dalam komunitas lain," ujarnya.

Ia menuturkan, komunitas lahir dari kebiasaan para penghobi musang.

"Untuk terbentuknya, didorong kebiasaan kami saling kumpul bersama, terus ngobrol-ngobrol. Saat kami kumpul-kumpul itu, kami belum memiliki nama. Ya udah kita bentuk nama aja nama komunitas ini, yang santai aja enggak usah ribet-ribet," katanya.

Saat ini, sebut dia, Sanggar Musang Semarang memiliki lebih dari 30 anggota terdaftar.

Anggotanya tidak hanya berasal dari Kota Semarang, tetapi juga dari Salatiga, Demak dan beberapa daerah lain. 

Dalam setiap pertemuan, jelas dia, sekitar 10 anggota biasanya hadir dengan membawa musang peliharaan masing-masing.

Pertemuan komunitas biasanya dilaksanakan pada hari Minggu, namun waktunya disesuaikan dengan kesepakatan para anggota.

"Kumpul-kumpul kita saat ini kumpul kalau hari Minggu. Cuma enggak rutin setiap pekan. Kami menyesuaikan jadwal teman-teman dengan saling koordinasi terlebih dulu, bisa atau tidak untuk kumpul. Kalau bisa ayo langsung kita kumpul," kata Rizal.

Terkait perawatan musang, Rizal menilai satwa tersebut relatif mudah dipelihara.

Menurutnya, musang yang aktif pada malam hari tidak membutuhkan perhatian sepanjang hari sehingga cocok bagi pemilik yang bekerja.

"Kalau buat perawatan, dibandingkan kucing, musang ini lebih mudah ya. Untuk perawatan pagi dibersihin kandangnya. Nanti siang dia tidur, kita kerja. Jadi kita enggak kepikiran. Sore nanti dia bangun. Kalau kotor, bersihin lagi, baru dia ajak main," ujarnya.

Untuk pakan pun menurutnya sederhana. Rizal mengaku biasanya memberi makan satu kali sehari pada malam hari.

"Kalau aku ngasihnya sehari sekali di malam hari biasanya. Sekali makan langsung udah aja sih, satu mangkok gitu," katanya.

Musang peliharaan, sebut dia, umumnya mengonsumsi buah-buahan, seperti pisang dan pepaya. Saat pemilik sedang sibuk, pakan kucing kering juga dapat diberikan.

"Untuk normalnya sih seperti pisang, pepaya. Misal kita agak repot itu bisa kasih catfood kering," jelasnya.

Rizal menambahkan, terdapat tiga jenis musang yang umum dipelihara, yakni musang pandan, musang bulan, dan musang akar.

"Kalau gathering ini kebanyakan membawa musang pandan dan musang bulan," sebutnya. (Idayatul Rohmah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.