- Jika Anda sedang mengunjungi Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, tak ada salahnya singgah ke Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar.
Desa ini berjarak sekitar 155 kilometer dari ibu kota Sulawesi Barat, Mamuju, dan sekitar 286 kilometer dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan. Namun, mereka memiliki kecintaan yang tinggi terhadap sepak bola.
Setiap empat tahun sekali, desa ini disulap menjadi "Kampung Bola".
Tak heran, pernak-pernik Piala Dunia, mulai dari bendera, umbul-umbul, spanduk, hingga mural, bisa Anda temukan di hampir setiap sudut desa.
Suasananya dipenuhi kemeriahan warna-warni dengan beragam corak bendera negara peserta Piala Dunia.
Bahkan, ada warga yang rela mengecat dinding rumah dan pagar mereka dengan corak khas bendera Argentina, Spanyol, hingga Brasil.
Sebuah spanduk besar bertema Piala Dunia 2026 terpasang di pintu masuk kampung untuk menyambut para pengunjung.
Menyusuri jalan ke dalam desa, Anda bisa menjumpai bendera berbagai negara berkibar di depan rumah warga.
Ukurannya pun beragam, mulai dari satu meter hingga bendera raksasa setinggi sembilan meter.
Jadwal pertandingan hingga gambar pemain bintang favorit juga dapat Anda lihat di sana.
Tokoh masyarakat setempat, H. Mansur, menuturkan bahwa warga Desa Pambusuang mulai mencintai sepak bola saat legenda PSM Makassar, Ramang, kerap bermain di Pambusuang pada era 1950-an hingga 1960-an.
Bukan pertandingan resmi, Ramang saat itu hanya bermain sepak bola bersama teman-temannya dan warga desa.
"Dulu memang belum ada klub di sini, tetapi Ramang sering sekali datang bermain bola. Itu yang membuat masyarakat Pambusuang senang dan sangat menghargainya. Karena itulah, secara turun-temurun hingga sekarang kami selalu meramaikan ajang Piala Dunia dengan menjadikan desa ini sebagai Kampung Bola," ujar Mansur, yang mengaku menjagokan Senegal pada Piala Dunia 2026.
Kisah Ramang mendunia. Ia bahkan pernah memperkuat Timnas Indonesia dan menghadapi Uni Soviet pada masanya.
"Ramang juga diakui FIFA sebagai pemain dunia yang melegenda," ujarnya.
Selain itu, prestasi Ramang bersama PSM Makassar yang sangat gemilang membuat banyak warga mengaguminya.
Maklum, saat itu Sulawesi Barat masih menjadi bagian dari Sulawesi Selatan sehingga PSM Makassar sebagai satu-satunya tim profesional menjadi tim idola masyarakat.
Warga kini juga telah membentuk sebuah tim sepak bola yang beranggotakan para pemuda setempat bernama Kompas Pambusuang FC. Kompas merupakan singkatan dari Kompleks Pasar Pambusuang.
Meski kedatangan Ramang membuat warga mulai mencintai sepak bola, Mansur menuturkan tradisi menghiasi desa dengan pernak-pernik Piala Dunia baru dimulai pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Tradisi itu kemudian berlanjut pada Piala Dunia 2014 di Brasil, 2018 di Rusia, hingga 2026.
Menurutnya, bukan hanya Piala Dunia yang diramaikan, tetapi juga Euro dan Copa America.
"Anak-anak muda di sini yang banyak berinisiatif. Pasti ramai," ujarnya.
Apalagi saat menggelar nonton bareng, suasananya semakin semarak.
Warga menyiapkan layar besar lengkap dengan sistem suara. Yel-yel dukungan untuk tim favorit menggema di setiap pertandingan, menambah kemeriahan suasana.
"Tidak ada saling memusuhi kalau tim dukungannya kalah. Karena bagi kami yang lebih penting adalah kebersamaan dan kekompakan," pungkas Mansur. (*)
Program: Selebrasi Lokal
Editor: Faiz Fadhilah
#SelebrasiLokal #KampungBola #DesaPambusuang #PolewaliMandar #SulawesiBarat #PialaDunia2026 #FIFAWorldCup2026 #Ramang #PSMMakassar #TimnasIndonesia #SepakBola #Nobar