Air Baku dari Irigasi Riam Kanan Surut, Pasokan Air Bersih 2 Wilayah di Banjarmasin Terdampak
Ratino Taufik July 13, 2026 08:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Tak hanya sejumlah desa di wilayah Kabupaten Banjar, krisis air bersih mulai membayangi warga Banjarmasin, khususnya di wilayah Banjarmasin Timur dan Banjarmasin Selatan.

Efek kemarau panjang, pasokan air baku dari irigasi Riam Kanan mendadak surut drastis, hingga menyentuh level nol dalam dua hari terakhir.

Berkurangnya debit air baku itu, berdampak pada penurunan distribusi air ke dua wilayah tersebut. PT Air Minum (PAM) Bandarmasih bahkan mengumumkan di akun media sosialnya bahwa pasokan ke dua wilayah tersebut berkurang.

Direktur Utama (Dirut) PAM Bandarmasih, Zulbadi pun langsung melakukan peninjauan sistem produksi di IPA II Pramuka, Sabtu (11/7) malam untuk memastikan kelancaran distribusi air bersih, kepada masyarakat Banjarmasin, khususnya di Banjarmasin Timur dan Banjarmasin Selatan.

Zulbadi mengungkapkan, kondisi kemarau tahun ini di luar prediksi. Biasanya, irigasi Riam Kanan tetap bisa diandalkan meski memasuki musim kemarau.

Baca juga: Kondisi Terakhir  Bayi Perempuan yang Ditemukan di Bawah Jembatan Pabahanan Tanahlaut Kalsel

Sebagai langkah darurat, PAM Bandarmasih kini mengalihkan pengambilan air baku ke Intake Sungai Tabuk.

Saat ini, target aman untuk produksi air bersih adalah 5.800 meter kubik per jam. Namun, pihak PAM Bandarmasih baru bisa mengumpulkan separuh dari target tersebut. Kendati demikian, pihaknya berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kuantitas distribusi ke pelanggan, salah satunya dengan cara memaksimalkan air baku dari Sungai Tabuk.

“Mulai dari dua yang lalu sudah mulai ada mengalami kenaikan, meski belum mencapai target yang diharapkan,” tutur Zulbadi.

Meski kuantitas mengalami penurunan, pihaknya tetap memastikan kalau kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat tetap dalam kondisi yang layak untuk dikonsumsi.

Ia berharap semoga kondisi ini bisa segera membaik, sehingga PAM Bandarmasih bisa mendapatkan sumber air dari semua sumbernya, dengan kuantitas dan kualitas sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Kedepan mengantisipasi dampak buruk kemarau panjang, PAM Bandarmasih mengandalkan sistem manajemen risiko yang telah diidentifikasi sejak awal.

Salah satu ancaman terbesar yang juga diwaspadai adalah melonjaknya kadar garam pada air baku akibat intrusi air laut. Jika kadar garam terpantau melebihi ketentuan atau ambang batas aman yang ditetapkan, PAM Bandarmasih siap mengoperasikan rencana tindak lanjut berupa metode pencampuran (mix) air baku.

Zulbadi menjelaskan air baku yang telah terintrusi rasa asin akan dicampur secara proporsional dengan air tawar. Air pengencer akan disuplai langsung dari kawasan yang berada lebih jauh di hulu sungai. “Sumber air tawar tersebut akan diambil dari pasokan di kawasan Pematang Panjang dan Sungai Tabuk,” ujarnya.

Strategi darurat berupa pencampuran (mix) air baku disiapkan agar stabilitas produksi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan kapasitas 600 liter per detik tetap mampu berproduksi sesuai standar Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes).  

Pasokan ini untuk melayani pelanggan di wilayah Banjarmasin Barat serta Banjarmasin Utara, khususnya sebelah kiri kawasan Jalan Hasan Basri.

Mengenai pasokan, sebelumnya Kepala Balai Pengelolaan Air Minum (BPAM) Banjarbakula, Siddiq Wahyu Pamungkas, juga mengatisipasi dampak kemarau, terutama untuk ketersediaan layanan air baku yang dipasok ke beberapa perusahaan air minum, termasuk ke Banjarmasin, Banjarbaru, Barito Kuala (Batola) serta Banjar.

Siddiq Wahyu Pamungkas, menyampaikan pada periode musim kemarau, karakteristik dan kualitas sumber air baku cenderung stabil akibat minimnya fluktuasi sedimen tersuspensi (total suspended solids) pada air permukaan yang biasanya dipicu oleh limpasan air hujan.

Kondisi ini membuat proses pengolahan tidak memerlukan penambahan jenis bahan kimia khusus (extra treatment), sehingga penggunaan koagulan dan disinfektan tetap berjalan normal dengan dosis standar yang disesuaikan berdasarkan parameter air baku terpantau.

“Guna menjamin air hasil olahan tetap memenuhi standar kelayakan konsumsi sesuai regulasi, dilakukan monitoring serta pengujian laboratorium secara berkala setiap jam di unit produksi, sehingga jika terdeteksi adanya penurunan kualitas, tim teknis dapat segera melakukan mitigasi dan penyesuaian proses pengolahan (treatment adjustment) sebelum air didistribusikan ke jaringan pelanggan,” urainya. (banjarmasinpost.co.id/mariana/nurholis huda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.