Jakarta (ANTARA) - Petenis No.1 dunia Jannik Sinner menorehkan tonggak penting dalam karirnya dengan membukukan kemenangan ke-100 di Grand Slam sekaligus mempertahankan gelar Wimbledon 2026.

Sinner memastikan pencapaian tersebut setelah mengalahkan Alexander Zverev pada partai final Wimbledon, Senin WIB, untuk merebut gelar juara.

Kemenangan itu menjadikan petenis Italia berusia 24 tahun tersebut sebagai pemain aktif kedelapan yang mencapai 100 kemenangan di turnamen Grand Slam.

Dikutip dari ATP, Sinner bergabung dengan Novak Djokovic (409 kemenangan), Stan Wawrinka (160), Marin Cilic (143), Alexander Zverev (131), Gael Monfils (130), Kei Nishikori (104), dan Grigor Dimitrov (103).

Sinner kini mengoleksi rekor 100 kemenangan dan 22 kekalahan di Grand Slam dengan persentase kemenangan mencapai 82 persen.

Di antara para pemain aktif yang telah menembus 100 kemenangan Grand Slam, hanya Djokovic yang memiliki persentase kemenangan lebih tinggi, yakni 87,6 persen.

Performa Sinner semakin impresif dalam dua setengah musim terakhir. Sejak meraih kemenangan Grand Slam ke-39 pada Australian Open 2024, ia mencatatkan 62 kemenangan dan enam kekalahan atau tingkat kemenangan 91,2 persen.

Selama periode tersebut, kekalahannya hanya datang dari Carlos Alcaraz, Daniil Medvedev, Djokovic, dan Juan Manuel Cerundolo.

Kemenangan pertama Sinner di turnamen Grand Slam diraih pada Australian Open 2020 saat mengalahkan Max Purcell.

Awal bulan ini, ia juga memecahkan rekor sebagai petenis putra Italia dengan kemenangan Grand Slam terbanyak ketika mencatat kemenangan ke-95 usai menundukkan Nuno Borges pada babak kedua Wimbledon.

Selain itu, Ben Shelton menjadi lawan yang paling sering dikalahkan Sinner di ajang Grand Slam. Petenis Italia tersebut telah empat kali mengatasi petenis Amerika Serikat itu, masing-masing di Wimbledon 2024, Australian Open 2025, Wimbledon 2025, dan Australian Open 2026.

Gelar Wimbledon juga memperlebar keunggulan Sinner atas Alcaraz dalam perolehan "Big Titles", yaitu gabungan gelar Grand Slam, ATP Finals, ATP Masters 1000, dan medali emas tunggal Olimpiade.

Kesuksesan di Wimbledon menjadi "Big Title" ke-17 bagi Sinner, sementara Alcaraz mengoleksi 15 gelar. Gelar tersebut juga menjadi trofi Grand Slam kelima sepanjang karir Sinner, dengan seluruh gelar turnamen utama itu diraih sejak awal musim 2024.

Persaingan keduanya berubah drastis sepanjang musim ini. Setelah Alcaraz menjuarai Australian Open, petenis Spanyol itu sempat unggul 15-11 dalam perolehan "Big Titles". Namun, Sinner kemudian mendominasi dengan memenangi enam dari tujuh turnamen "Big Title" berikutnya.

Musim ini Sinner juga mencetak sejarah sebagai petenis pertama yang menjuarai lima turnamen ATP Masters 1000 pertama dalam satu musim sejak seri tersebut diperkenalkan pada 1990, yakni di Indian Wells, Miami, Monte Carlo, Madrid, dan Roma. Gelar di Roma sekaligus melengkapi pencapaiannya meraih Career Golden Masters.

Hingga Wimbledon, Sinner telah mengoleksi enam "Big Titles" sepanjang musim 2026, menyamai pencapaian terbaiknya pada 2024, dan masih terdapat enam turnamen "Big Title" yang akan digelar hingga akhir musim.

Secara keseluruhan, Sinner rata-rata meraih satu "Big Title" setiap mengikuti 4,2 turnamen. Catatan itu menempatkannya di posisi keempat terbaik sepanjang sejarah, di belakang Djokovic (3,3), Rafael Nadal (3,5), dan Alcaraz (3,9).