Erling Haaland tampil jauh dari performa terbaiknya saat Norwegia tersingkir di perempat final Piala Dunia melawan Inggris, dan hal itu ternyata disebabkan oleh gangguan kesehatan yang melanda skuad. Penyerang bintang Manchester City tersebut terlihat tidak seperti biasanya sebelum akhirnya digantikan di babak perpanjangan waktu, ketika Inggris memastikan kemenangan 2-1.
Virus menyerang sang raksasa Nordik
Jelang laga, banyak yang menantikan duel besar antara Harry Kane dan Haaland, namun penyerang Norwegia itu gagal menunjukkan dominasi khasnya di lapangan. Mantan striker Liga Primer Inggris, Tony Cascarino, mengungkapkan bahwa pemain berusia 25 tahun itu mengalami masalah fisik yang mirip dengan apa yang dialami gelandang Inggris, Declan Rice, beberapa hari sebelumnya.
Cascarino mengungkapkan bahwa ia mendapat informasi dari orang dalam mengenai kondisi Haaland saat jeda pertandingan yang berlangsung sengit tersebut. "Tidak, saya diberi tahu tadi malam, saya mendapat pesan saat jeda babak pertama bahwa ternyata Erling Haaland sedang tidak sehat," ujar Cascarino kepada World Cup Weekender di talkSPORT. "Dia juga salah satu yang terkena sakit. Jadi, jelas sang pelatih sudah menyinggung soal kebugaran, dan terlihat jelas dia tidak dalam kondisi yang baik. Apa pun yang kita katakan, secara fisik dia memang tampak tidak fit. Dia keluar, dan tidak disebutkan cedera. Jadi, saya menduga memang itu penyebabnya — dia sedang tidak sehat."
Kehilangan energi khasnya
Data pertandingan mendukung kesan visual tersebut, dengan Haaland kesulitan menemukan ritmenya melawan John Stones dan Marc Guehi. Meskipun Alexander Sorloth gagal memberikan umpan kepadanya dalam momen penting ketika Norwegia unggul 1-0, yang paling mencolok adalah kurangnya pergerakan dan energi Haaland yang biasanya eksplosif, memicu keheranan di Stadion Miami. Selain itu, Haaland juga terlibat dalam kontroversi terbesar di laga tersebut ketika gol Torbjorn Lysaker Heggem di babak kedua dianulir oleh VAR, setelah wasit menilai Haaland melanggar calon rekan setimnya di Manchester City, Elliot Anderson, dalam proses gol tersebut.
Cascarino menegaskan bahwa kondisi sang penyerang memang cukup parah, karena pergerakan khasnya sama sekali tidak terlihat. "Dia memang tidak sehat, ya. Ia sudah tidak fit bahkan sebelum pertandingan," lanjut Cascarino. "Dia memang bukan tipe pemain yang terlalu sering menyentuh bola, tapi saya terkejut melihat betapa sedikitnya energi yang ia miliki. Baik dia maupun Sorloth terlihat kehilangan tenaga, dan saya melihatnya setelah pertandingan — sesuai dengan informasi yang saya dapat di babak pertama — dia memang sedang sakit, tidak dalam kondisi bugar."
Solbakken menjelaskan alasan pergantian taktis
Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, mengonfirmasi setelah pertandingan bahwa keputusan untuk menarik sang bintang adalah langkah yang mudah karena kondisi fisiknya. Haaland, yang menjadi pemain paling menonjol bagi Norwegia dengan torehan tujuh gol di turnamen ini, akhirnya kehabisan tenaga di panasnya laga perempat final.
Dalam konferensi pers, Solbakken mengatakan: "Itu bukan keputusan sulit untuk menariknya keluar, karena dia sudah kelelahan. Mungkin saya seharusnya menggantinya sepuluh menit lebih awal. Jelas, dia menjalani Piala Dunia yang luar biasa, menggunakan seluruh energi dan kekuatannya di setiap pertandingan. Saya rasa dia juga mengalami memar di kaki pada babak kedua, dan ditambah dengan rasa lelah. Namun dia sudah memberikan segalanya, mungkin hanya sedikit kurang beruntung di beberapa situasi. Tapi dia mencetak tujuh gol dalam lima pertandingan untuk kami — dia menjalani Piala Dunia yang fantastis."
Rice dan Haaland alami masalah serupa
Masalah kesehatan ternyata tidak hanya terjadi di kubu Norwegia. Gelandang Inggris, Declan Rice, juga berjuang agar bisa tampil di pertandingan tersebut. Bintang Arsenal itu dilaporkan sempat beberapa hari beristirahat di tempat tidur sebelum Thomas Tuchel memutuskan bahwa ia hanya cukup fit untuk bermain selama 45 menit di perempat final. Tingkat kelelahan para pemain top dunia kini menjadi topik utama seiring dengan semakin memanasnya fase akhir turnamen.